Rakyat.com

Ehemm… serius mode on…

Ada 4 unsur penting di negri ini… yang seluruhnya memiliki kelebihan dan kekurangan… (Meskipun… selain unsur ini… juga penting)… Lihat Selengkapnya
1. Presiden
2. Rakyat
3. Mentri
4. Wakil rakyat.

Tak perlu disebut apa kekurangannya… (karena, semua kita sudah membaca kondisinya) Namun.. keempatnya punya potensi… untuk membuat negri ini lebih baik… atau makin hancur…

Saya ni… yang jadi rakyat.. cuma bisa berusaha jadi rakyat… dengan sebaik2nya.. Ga sekedar bisa nyalahin orang2 di atas sana… tapi juga bisa jadi rakyat.. yang bener2 tau apa yang sedang dilakukan oleh pemimpinnya.. Jadi rakyat, yang tau kapan Presidennya salah… Trus berani protes… dengan cara yang benar… ga sekedar unjuk2 rasa… unjuk2 kuat… trus… menunjukkan diri yang ternyata juga perusak… Haduuuh… malu juga nih kalo jadi rakyat yang kayak gitu… mau ngasih tau Presidennya dah berbuat salah… eeeeh… malah ikut2an bikin masalah…

Jadi Presiden… jangan keblinger…
Jadi Rakyat… Mesti pinter…
Jadi Mentri… jangan kuper…
Jadi wakil rakyat… Jangan Sleeper… :)

Bukan Bidadari

Tak punya aku sayap… Dan tak dapat ku terbang… Yang kau sebut eksotis…

Pula tak mampu ku hadir… menjelma… dan kau sebut romantis…

Hanya manusia… berseragam kefanaan…

Beratribut kekurangan…

Berhias lemah…

Pun ada lebihku… Bukan milikku…

Jika ada baikku… Bukan padaku…

Bila ada benarku… Bukan dariku…

Bidadari kau kemas indah di benakmu…

Dan kau jelmakan menarik di ruang pikirmu…

Itu bukan aku…

Inilah manusia…

Fana…

Hanyaku… seorang hamba…

Yang seada ku bisa…

Dan semampu ku mau…

Jika kehilangan bidadarimu…

Jangan cari di diriku…

(Repost… Puisi nan lamo sekali)

Saikoji bilang Online… Online…
Kalo diriku… Posting… Posting… :)

Blogger Power

Mengingat :
Bahwa banyaknya blogger Indonesia yang telah mengikuti kontes seo mengembalikan jati diri bangsa yang dimulai tanggal 14 Juli 2009 s.d 21 Desember 2009 ( selama 160 hari)

Menimbang :

* Tidak ada kejelasan mengenai tanggal dan waktu penyerahan hadiah
* Tidak pernah diresponnya email, telepon ataupun Ym! dari para pemenang dan blogger indonesia

Memutuskan :
Kami para peserta kontes seo mengembalikan jati diri bangsa memutuskan bahwa kontes seo mengembalikan jati diri bangsa yang diselenggarakan oleh beritajitu.com adalah SCAM!!

Keputusan ini dapat kami tarik kembali dengan memposting sebuah artikel postif bila hadiah telah kami terima dengan utuh sesuai kesepakatan awal.

Kami meminta kepada segenap blogger Indonesia untuk memposting artikel ini diblog masing-masing atau di facebook masing-masing. (silakan di copy paste)

ILMU BARU-ku:

*SCAM= Scam adalah berita elektronik dalam Internet yang MEMBOHONGI dan bersifat MENIPU, sehingga pengirimnya akan mendapat manfaat dan keuntungan tertentu. Contoh scam yang sering kita jumpai adalah surat berantai dan pengumuman lotre. Dalam hal ini akibat dari berita scam ini bagi penerimanya akan lebih serius, jika dibandingkan dengan spam.

Dalam bahasa Inggris, scam diartikan juga sebagai confidence trick or confidence game, sehingga pada awalnya penerima berita merasa yakin dan tidak mencurigai bahwa hal ini merupakan bentuk penipuan.

Buat para peserta kontes… Moga pada sabar ya… Keep semangat nge-blog… ^_^

Taubat

Yã Allãh…

pada jejak2 kecil kami…

kami topangkan diri dng memohon kekokohanMU…

pun hati masih ternoda… Masih kami mohon kesucianMU…

tak akan sampai kebaikan kepada kami… Tanpa IzinMU…

tak dekat pada kami keburukan… Tanpa KehendakMU…

pun sekali lagi kami khilaf… Tak ENGKAU kurangi nikmatMU…

dan jika kami bertaubat… ENGKAU tambahkan RahmatMU…

Dan saksikanlah kami yã Allãh… Dengan payah… Mengarah langkah…

Dengan susah… Mengatur lidah…

Dengan penuh daya… Membimbing mata…

Sungguh inginnya… Kami hidup tanpa dosa yã Allãh…

Namun siapalah kami… Manusia dhoif yang sering kali negatif…

Ampuuuuun yã Allãh…

ENGKAU paling tau… Segala apa yang kami tutup… Semua hal yang rahasia…

setiap titik kburukan pada wajah hati kami…

Jadikan kami maluuu… Maluuu… Maluuu… Jadikan kami Maluuu padaMU yã Allãh…

di bumiMU kami berpijak… Namun masih bermaksiat… Di bawah langitMU kami berlindung… Masih pula kami jarang merenung…

jika taubat kami sebelumnya tak cukup buatMU… Maka izinkan kami taubat… Taubat… Dan taubat lagi…

adalah kami yã Rabbi… Taubat hari ini… Pada ujung hariMU… di gelapMU… Jadikan kami beruntung… Jauhkan dari rugi…

kami hidup… Sekali lagi… Untuk mengabdi… Terima taubatku, taubatnya dan taubat mereka… Ãmïn yã Tawwabu…

Ramadhan… In Memoriam…??

Kala itu… Di sebuah sudut waktu…

Satria Ramadhan: “Apakah kau harus pergi sekarang kawan?” Dengan wajah sedih.

Ramadhan: “Telah tiba waktunya untuk pergi. Bukan inginku. Kehendak Rabb-ku… Rabb-mu… Rabb kita.” Kesedihan yang sama.

Satria Ramadhan duduk merapat ke sisi Ramadhan. Ia menjabat erat tangan Ramadhan.

Satria Ramadhan: “Maafkan aku kawan…” Wajahnya makin sendu. Pada kedua matanya. Tampak mengaca.

Ramadhan: “Kau kan tidak salah apa-apa.” Sambil menepuk bahu kawannya itu. Dan memandangnya teduh.

Satria Ramadhan: “Aku bersalah… sangat bersalah…” Satria Ramadhan mulai menangis.

Ramadhan kebingungan.

Satria Ramadhan: “Aku… Aku… Aku kadang tertidur pada malam2mu. Sedangkan aku pernah berjanji. Akan menjaga setiap malammu. Kalaupun aku bangun setiap malam. Aku menemanimu dengan sholat. Namun… Aku bahkan tertidur dalam sujudku. Aku bersalah….” Jeritnya dalam tangis.

Ramadhan terus memandangi sahabatnya itu. Dan memeluknya….

Satria Ramadhan: “Aku bersalah… Aku juga pernah berjanji akan menggenapkan hari dengan Qur’an. Namun… Ada hari-hari yang sempat terlewat tanpa satu juz pun aku selesaikan. Walaupun akhirnya aku berhasil mengejar ketertinggalanku. Tapi… aku bersalah…” Air matanya semakin deras.

Ramadhan: “Cukup kawan… Allaah mengetahuinya. Itu cukup bagiku. Kau menyadarinya. Itu cukup bagiku. Dan kau memperbaikinya. Itu baik bagimu.” Kata Ramadhan bijak. “Tapi, aku tetap harus pergi.”

Satria Ramadhan: “Datanglah lagi nanti…” Ia melepas rangkulannya. Matanya sembab. Isaknya masih terdengar.

Ramadhan: “Kawanku… Kita ini hanya hamba. Pertemuan itu tak bisa dikira. Perpisahan ini tak dapat dielak. Syawal akan mengemban amanahku menemanimu. Kau sudah luar biasa kawan. Janganlah kau mengendurkan semangatmu ini. Tanpaku… kau harus tetap mampu mengendalikan nafsu. Tanpaku… kau tetap harus menjaga malam-malam itu. Tanpaku… kau harus tetap berhibur dengan Qur’an. Kau sudah berubah sejauh ini. Jangan sia-siakan, dengan kembali menjadi dirimu yang biasa, saat aku pergi. Rugi kawan…” Nasihat Ramadhan panjang lebar.

Satria Ramadhan: “Baiklah kawan… aku berjanji. Penyesalan ini mungkin terlambat. Tapi tak pernah terlambat untuk memperbaiki dan mempertahankan.” Ia mulai tersenyum.

Ramadhan: “Kau benar. Ada sebelas bulan setelah aku pergi. Mereka akan menunaikan amanahnya. Jika Allaah Menghendaki. Kita akan bertemu tahun depan.”

Satria Ramadhan hanya mengangguk setuju.

Ramadhan: “Sebelum aku pergi… Mari kita nikmati sisa waktu ini kawan. Aku ingin kita benar-benar lebih dalam memaknai pertemuan kita ini. Berkumpulnya kita tahun ini. Semoga membuat kau dan saudara-saudaramu mampu menjadi sosok-sosok istimewa. Kau tau tidak…? Fajar lebaran itu sungguh indah disambut oleh semua muslim. Namun tak banyak yang mampu merasakan fajar lebaran… seindah yang dirasakan oleh para pemenang. Yang dengan megah dan meriah merayakan perjumpaan cinta denganku. Dan ia melakukan pengabdian dan penghambaannya dengan rela.”

Satria Ramadhan: “Semoga aku… dan saudara-saudaraku… termasuk di dalamnya. Amiin.”

Ramadhan: “Amiin Yaa Rabbal’aalamiin.”

Kedua kawan itu pun saling berpelukan semakin erat. Detik-detik perpisahan itu… ingin mereka lalui dengan penuh cinta. Keindahan berasik masyuk dengan Sang Pencipta mereka. Allaahu Dzuljalaali wal Ikraam…

*Yaa Syahru Ramadhan… Syahrus Shiyam… Syahru tilawatil Qur’an… Syahru Qiyam… Syahru Ghufran… Ku lepas jemarimu… satu demi satu… haru…

T_T… Ramadhan…

*Satria Ramadhan: Masih teringat dirimu sahabat… Kau pergi… Namun… Tetaplah di sini… Di hatiku… Menemani hidupku… 11 sebelas bulan tanpamu… pasti berat sahabat… Namun… Masih ada… pendar semangatmu… di sini… di relung jiwa ini… Sahabat… Ku pinta… pada Rabb kita… Kan jumpa lagi… denganmu… dan… meraya cinta… (Menderas dan menganak sungai air mata rindu… dari sudut mata sang satria)

*Syawal: Aku ada di sini… menemanimu teman… ada enam hariku… yang dapat sedikit mengobat rindumu pada Ramadhan… Mari teman… pegang tanganku… Aku pun… ingin jadi sahabatmu… mari nikmati pertemuan ini… dengan pengabdian suci… Meski tak senikmat Ramadhan… Izinkan aku… menyajikan hariku… Izinkan aku…

*Dzulkaidah, Dzulhijjah, Muharram, Syafar, Robiul awal, Robiul Akhir, Jumadil awal, Jumadil akhir, Rajab, Sya’ban: Teman… Tetaplah menjadi Satria Ramadhan… Dan berjuanglah bersama kami…

MASIHKAH IA… DI HATI KITA…

Inginkan… KAU…

Yaa Allaahu… Yaa Ghaniyyu… Yaa Waduudu… Yaa ‘Aliimu… Yaa Hayyu…

Aku faqir… Dalam apapun…

Aku miskin ilmu…

Dan inginku… Kau-lah sesuatu yang paling kupahami… Ku jelajahi apapun tentangMU… Hingga… tak satu pun hal tentangMU… yang tak ku tau… Jika saja ku mampu…

Aku miskin cinta…

Dan mauku… Kau-lah hal yang padaNYA ku pasrahkan hidup ini… ku genangkan rasaku… pada setiap pesonaMU… Hingga tiada cinta lain… yang mampu memalingkanku dari men-Satu-kanMU…

Aku miskin bahagia…

Dan pintaku… Kau-lah indah itu… Yang bersamaNYA aku aman… Sejuk dalam seluruh jengkal hatiku… Hingga tiada senandung pilu… yang berirama di jiwaku…

Aku miskin ketenangan…

Dan harapku… Kau-lah Yang melapangkan himpitku… Meluaskan sempitku… membuatku penuh rela menerima semua yang Kau ingin ku terima… Memuncakkan kesyukuran… Serta… Menghilangkan batas kesabaran…

Aku miskin harta…

Dan asaku… Kau-lah Yang selalu mencukupkan kebutuhanku… di tengah keterbatasan mampuku… Penuhi setiap ruang puasku… dengan kebaikanMU… Hingga tak perlulah… ku bergantung… selain kepadaMU…

Aku miskin waktu…

Dan izinkanku… bersama waktu… Yang hanya milikMU… Yaitu sedikit masa… yang Kau titipkan padaku… Jadikan waktu itu… bercahaya di tanganku… agar penuh dengan pendar makna… Jadikan waktu itu… bersinar di pikirku… hingga menghasilkan kerlip karya penuh guna… Dan tak perlu banyak waktu… kecuali di dalamnya… Kau izinkanku… menjadi manusia yang bernilai bagiMU…

Yaa Rabbi…

Aku miskin segala… Kau utus ke dunia dengan segala Yang Kau punya…

Raga ini… MilikMU… Di setiap pori-pori inilah… tanda Kau Berkuasa… Dalam setiap sel itulah… Tanda Kau Ada… Di Nafas tak henti inilah… Ku temukan Kau tiada duanya… Di jantung yang berdetak inilah… Kau buatku merasa… Kau-lah segala…

Jiwa ini… DariMU… Biarkanku… menemukanMU… dalam penjelajahan rasaku… agar sanggup diriku… Tak merasa bebas dariMU… Karena jiwa telah jatuh pada kedalaman rasa… Bahwa Kau melihatku… Dalam gelap dan terangMU… Pula Kau mendengarku… Dalam sepi dan ramaiMU… Betapa ku ingin begitu… MeneguhMU… sebagai Segala-ku…

Akal ini… PemberianMU… Buatlah pikirku… sedemikian rupa… tuk MengadakanMU selalu… Dalam dudukku nan lemah… Dalam baringku yang rapuh… Dan pada berdiriku yang tak kokoh… Agar ia tak berlari liar… menarikku tuk ingkar… Jadikan ia dalam kendaliku… Untuk menjadikan KesegalaanMU… adalah tak tertolak…

Dalam hidup ini… Ingin KAU… Menjadi SEGALA-ku…

Amiiin Yaa Rabbal’alamiin…

Versi Cinta

Cinta 1 : Berdua… Saling cinta… Memenjara diri dalam kasih. Tiada orang lain di antara ke2nya. Segalanya untuk belahan jiwa. Setiap ungkapan cinta tercurah pada satu nama…

Inilah Cinta…

Cinta 2 : Jadi sudut ke 3. Dari sebuah cinta… Setelah separuh jiwa mencintai sebuah cita… Menghabis waktu dng yang ke satu… Mencurah cinta pada satu asa… Menjadi istri ke 2… Dari suami yang memiliki istri pertama… Bernama ‘PERJUANGAN’…

Ini baru Cinta…

Cinta 3 : Menjadi yang pertama… Namun memimpikan cinta memiliki sayap ke 2… Mengharapkan rasa bisa dibagi bersama… Bermimpi… Bahtera berlabuh pada 2 dermaga… Dan terjadilah… Cinta harus berbagi… Berbagi segalanya… Bahkan… Berbagi CEMBURU…

Hmm… Ini lebih dari CINTA…

Subhãnallãh…

Yã Allãh… Jadikan aku seindahnya… Buatlah diri sepertinya… Dan izinkan aku lebih baik lagi… Bersamanya. Ãmïn.

Hanya Ingin Berbagi

Ketika setiap potensi menjaring puji… Maka ingatlah… Ada Dzat Yang Memberikan itu padamu… Ucapkan Alhamdulillãh…

Kala ada ilmu… Yang membuat Mereka menyukaimu… Maka kembalilah mengingat bahwa ada Dzat Yang Menganugrahkan itu padamu… Dan ucaplah Alhamdulillãh…

Bila ada Semangatmu yang bersinar tanpa jemu… Dan membawa manusia tak lelah menantimu… Maka berbaliklah serta ingat lagi… Ada Dzat Yang Mengalirkan itu padamu… Karenanya ucapkan Alhamdulillah…

Ketika Kuatmu menarik perhatian dunia menujumu… Maka menunduklah… Bukankah ada Dzat Yang Menyertakan itu denganmu… Segeralah berkata Alhamdulillãh…

Waktu setiap lebihmu mencuri cinta dari hati semesta… Maka berlututlah renung kembali… Ada Dzat Yang Menyematkan itu padamu… Dan katakan Alhamdulillãh…

Dan pabila hatimu mulai ragu dng mimpi tentang keinginan untuk berbagi… Maka hentilah…

Karena potensi itu telah kau rendahkan hingga hina…

Karena ilmu itu telah luluh lantak menjadi debu dan nista…

Karena semangat itu telah berkeping menjadi tak berharga…

Karena kuat itu telah rusak oleh riya…

Dan kelebihan itu telah hilang menguap jadi udara…

Diri… Jiwa… Hati… Luruslah kembali… Bukankah hanya satu azzam kita kala itu… Ini hanya bentuk pengabdian pada Sang Pencipta kita…

Berbenahlah kembali… Gerak, kerja dan amal ini… Lahir dari Sebuah Energi…

KITA… HANYA INGIN BERBAGI…

Oke diri ? (Yup!)
Oke hati ? (Siip!)
Oke jiwa ? (Deal !)

Dan inilah deklarasi Cinta… Antara Hati… Raga… Dan Jiwa… Untuk semua… Karena Allãh…

Beruntung…

Aku pernah jatuh…

Terjerembab oleh kalah…

Lalu… membagi tangis…

Melempar keluh ke segala penjuru…

Mengoper kesah ke setiap arah…

Dan hanyut dalam sedu sedan…

Teringat… apa yang Kau lakukan…

Kau perlihatkan lebih banyak luka… yang berlebih laranya…

Kau perdengarkan rintih… yang lebih pedih dari ringisanku…

Kau tunjukkan hitam… yang lebih gulita dari gelapku…

Mengapa..??

Bukannya Kau tampilkan senandung bahagia…

Atau Kau gelar panggung ceria…

Setidaknya… sebuah kisah yang gembira…

Tidak… Kata-Mu…

“Hambaku sayang… untuk membuatmu merasa beruntung… maka, Ku perlihatkan ketidakberuntungan.”

“Supaya kau merasa bahagia… Maka Ku tunjukkan ketidak bahagiaan.”

“Demi kau dapat menemukan terang… maka Ku persembahkan kegelapan.”

“Mengertilah… tak ada yang lebih menginginkan kau tersenyum… kecuali Aku.”

“Tak ada yang sangat berkehendak kau harus bahagia… melainkan Aku.”

“Jika kau terima cara-Ku mencinta… maka… bersabarlah…”

“Pilihan… ada padamu… wahai hamba-Ku.”

~~~~~~~^^^^^^^~~~~~~~~~~~~~~~~

Dalam jatuhku… Dia menghiburku… Ku terima cinta-Nya… yang sungguh tak sederhana…

Dalam rasa kalahku… Aku BERUNTUNG…

Alhamdulillaah…

Sahabat adalah Sang Fajar

Salam sahabat… apa kabar hatimu… sedangkah duka menderamu. Semoga terhapus laramu… dengan sabarmu. Yang Allaah semat di jiwamu. Amiin…

Sahabat… adalah sang fajar dikala gelap pergi..

Ia bersinar tangguh di tengah mendungmu…

Sahabat punya banyak warna pada cahayanya…

Sehingga mejikuhibiniu… mengindahkan hidupmu… bahkan lebih dari warna pelangi itu..

Ia mengisi kurangmu… tanpa menganggapmu kurang…

Dipelajarinya lebihmu… demi membantumu… lebih baik lagi..

Ia menarik ruh-mu yang jatuh lunglai…

Dipapahnya dirimu… ketika hebatmu luntur…

Bila kau terjatuh di jurang dalam… Maka tali persahabatannyalah yang membantumu lepas dari bahaya…

Kuungkap… sebanyak apapun tentang sahabat… maka tak kan pernah lengkap…

Karena… sahabat… adalah… orang hebat…

Secarik rasanya… dilipatnya rapat… demi mendengar bahagiamu…

Maka… persembahkanlah… yang terindah… untuk sahabatmu…

~~~~~*******~~~~~~**********~~~~~~***~~~~~

Sahabat… Kearah mana pun kita pergi… Kedepan… belakang… atas… bawah… kiri… kanan… sertakanlah… KEYAKINAN… :)

Semoga Allaah ridho… dengan persahabatan kita. AMiin

« Entri lama