Sekolah Dalam Kotak

Oktober 26, 2009 oleh intangobel

Anda pernah melihat kotak? Saya yakin setiap kita pernah melihatnya. Benda dengan empat sisi yang diadopsi bentuknya oleh benda-benda seperti dadu dan teman-temannya. Seperti halnya dalam tempurung. Semua yang ada dalam kotak, tidak akan dapat berkembang, membesar dan tentu saja akan senantiasa tetap, stagnan dan tidak  mengalami perubahan yang signifikan.

Mengamati kembali dunia pendidikan di Indonesia umumnya. Atau, yang lebih khususnya di Balikpapan. Kita akan mendapati sekian banyak penyimpangan, penyelewengan dan ketidakseimbangan serta ketidakdisiplinan dalam pendidikan. Baik penyimpangan akhlak, penyelewengan dana, ketidakseimbangan kurikulum dan ketidakdisiplinan murid, bahkan guru. Bagaimana pendidikan bisa menemukan titik balik perkembangannya ? Bagaimana pendidikan bisa mencapai perubahannya ? Jika sekolah masih dalam kotak.

Sekolah macam apa yang senantiasa menempatkan diri mereka dalam kotak ? Coba kita lihat lebih dekat. Dan, semoga kita mampu bercermin. Berada diposisi yang

manakah, kita telah menempatkan sekolah kebanggaan kita.

Setiap hari anak-anak datang dengan ceria, mengisi pagi itu dengan sejuta bahagia yang selalu terukir di wajah-wajah polos mereka. Murid kesebelas pagi itu sudah datang. Tapi…di mana sang Guru ? Gerbang kebanggaan itu masih rapat terkunci. Pintu-pintu kelas, masih mengatup. Lampu-lampu malam, belum dimatikan. Mainan masih digantung. Sepi… Beberapa orang tua yang mengantar, kebingungan. “Hari ini libur, ya nak ?” Dan si anak juga jadi ikut bingung. Memandang mainan dengan penuh harap. Memandang jauh keujung jalan, mengharap  semoga sang Guru  cepat datang. Seharusnya pagi itu sang Guru telah menyambut mereka dengan sapaan ramah. Biasanya terdengar lagu-lagu anak yang mengalun jernih dari sebuah tape sederhana dipojok kelas. Tapi,  sang Guru belum ada. Dan anak-anak pun ditinggal disekolah oleh sang pengantar dengan hati was-was.

Duduk termenung disebuah bangku kecil, menghayalkan teman-temannya yang akan segera datang. Tampaknya, disiplin sangat ditanamkan dalam diri anak-anak.

Namun,  sang Guru sudah tidak pernah lagi meneladankannya. Maasyaa Allah.

Jam tujuh lewat lima puluh menit. Baru dua orang guru yang datang. Sedangkan sepuluh menit lagi kegiatan dimulai. Anak-anak sudah tak pernah lagi mendapatkan sambutan hangat didepan gerbang. Toh, gerbang itu hanya diramaikan oleh anak-anak dan para pengantar. Beberapa anak dengan sukarela menggantikan sang Guru. Menyambut teman-temannya dengan kehangatan dan teguran penuh canda. Hmm…anak-anak begitu baiknya. Bagaimana dengan sang Guru ?

Pernahkah merasa haus yang begitu kuatnya? Disekolah ini, semua merasa haus. Haus akan ilmu. Apalagi anak-anak. Mereka mencari sendiri ilmunya. Dengan bermain. Mereka sering melakukan penjelajahan disudut-sudut sekolah. Tempat-tempat terpencil, yang menurut mereka menawarkan keasikan dan kesenangan yang tidak mereka dapatkan dikelas. Terutama mendapatkan ilmu. Seharusnya, mereka bisa melepas dahaga dengan lembar-lembar berjilid, yang kita kenal dengan sebutan buku. Dari bukulah mereka seharusnya bisa menjelajah. Walaupun, penjelajahan disudut-sudut sekolah itu sepertinya tidak akan tergantikan.

Setidaknya, buku bisa memberi mereka ilmu lain yang tidak ada di sudut sekolah. Tapi…hampir puluhan tahun sudah sekolah ini berdiri. Buku bukanlah hal istimewa yang seharusnya menjadi semakin lengkap. Buku hanyalah pelengkap saat sang Guru kehabisan ilmu. Oase itu telah lama kering. Dan sang dahaga tak kunjung hilang.

Kelas sangat tenang. Anak-anak tampak bosan dan tegang. Mereka mengahadapi buku paket, lembar kertas, dan tugas-tugas pasif lainnya. Seperti para karyawan yang sibuk dengan lembar-lembar kerjanya. Jika sedikit bersuara, maka sang Guru berkata “Eee, kerjakan dulu tugasnya, baru bicara.” Biasanya dengan ancaman, “Kalau tidak selesai, tidak boleh istirahat.” Anak-anak pun, kembali sibuk dengan tugasnya. Mereka hanya saling melempar senyum, yang kadang berusaha ditularkan dengan sembunyi-sembunyi.

Bermain sambil belajar telah kehilangan tempatnya. Digantikan oleh belajar sambil belajar. Tak ada kata bermain. Terasa sekali, sekolah ini telah menjadi sebuah ….Semoga lain waktu aku bisa memilih sebuah kata yang tepat.

Mengembangkan diri. Itulah seharusnya yang dilakukan oleh semua manusia.

Entahlah, harus dikatakan apa lagi jika seorang manusia sudah tidak berkeinginan untuk mengembangkan dirinya. Innalillaah. Akan dibawa kemana masyarakat ini. Rasanya sekolah itu sudah mulai merasa pandai dan hebat. Tak ada lagi keterbukaan untuk berbagi dan menerima ilmu. Semua yang baru, dipandang sebagai sesuatu yang tabu, merepotkan dan dianggap tidak bermanfaat.  Mau begini, repot. Mau begitu, rumit. Sang Guru hanya dituntut untuk mencerdaskan muridnya. Namun kegiatan yang bisa mencerdaskan sang Guru, adalah sesuatu yang amat jarang dilakukan. Bahkan, hampir tidak pernah. Sedangkan masalah anak semakin besar, banyak dan aneh tentu saja. Dan sang Guru hanya belajar dari pengalaman. Sedangkan pengalaman, agak sulit digali dari memori. Psikologi, ketrampilan, seni, olah tubuh. Semua ilmu berkembang. Dan langkah masih tetap berderap ditempat. Ingin jadi baik. Namun, tidak mencari cara untuk mendatangkan kebaikan. Sesungguhnya, kebaikan tidak akan datang dengan sendirinya.

Begitulah. Kondisi setiap sekolah dalam kotak, bak sedang menyelimuti diri. Berlindung dari segala persaingan, dengan menutup diri. Berkembang malas, berhenti pun, tak sudi.

Hanya berusaha menghibur diri dengan rapuhnya motivasi. Menggeliat tak pasti. Bahkan tak berani unjuk gigi. Dan anak-anak hampir kehilangan minat sejati. Akankah

sekolah itu tetap begitu. Menyendiri, menyepi, dan sombong diri. Wahai, semakin iba hati. Kepadamu, ‘SEKOLAH DALAM KOTAK”.

**Kadang kita terlalu cepat puas dengan kelebihan. Maka benarlah. Setiap kelebihan wajib disyukuri. Sehingga tak pantas rasanya. Mengakui setiap kelebihan adalah milik pribadi. Bukankah semua hanya milik Ilahi ???

Memilah kata

April 3, 2009 oleh intangobel

MUTIARA KATA

Para pujangga pasti memiliki banyak kata yang digunakan dalam karya-karya mereka. Bahasa yang mereka gunakan, kebanyakan adalah kiasan-kiasan indah dan penuh makna. Kata dalam karya mereka itu adalah hasil perenungan yang dalam. Latihan yang tak henti. Bahkan, beberapa meneliti terlebih dahulu tentang sebuah hal yang mereka akan ungkapkan dalam puisinya. Itu pujangga lho. Mereka biasanya mampu mengeluarkan kecanggihan dalam mengolah kata untuk mengungkapkan perasaan dan pendapat mereka, untuk bisa dipublikasikan.

Bagaimana jika kata-kata indah itu keluar dari mulut makhluk Allah bernama manusia yang berusia 5 tahun ? Tentu saja kepolosan, kejujuran, keikhlasan dan kemurnian yang akan kita dengar dan rasakan. Aku selalu berusaha menularkan sedikit kata-kata yang bisa digunakan oleh teman-teman kecilku untuk dapat mengungkapkan perasaan dan pendapat mereka. Jika sesuatu sering diulang, maka hal itu pun akan melekat dalam memori. Apalagi otak segar yang dimiliki oleh buah hati kita.

Kata ‘maaf’, adalah salah satu kata yang sering aku gunakan. Saat meminjam sesuatu kepada mereka, “Maaf, boleh pinjam guntingnya ?” Meminta tolong, “Maaf, tolong ambilkan spidol.” Menegur kesalahan mereka, “Maaf, kakinya di bawah saja. Bahkan, saat aku mau kebelakang pun aku meminta izin dengan berkata, “Teman-teman…”

“Apa…” jawab mereka.

“Maaf, bu guru tinggal. Bu guru BAK dulu ya…”

“Iyaaa..” sahut mereka lagi.”

Yaaa, gitu deh. Maka bertebaranlah kata-kata maaf dari lidah-lidah mungil itu. Dan, senang rasanya mereka bisa terdengar sangat sopaaaaaan. He he. Berlebihan ya ?

Tapi ada satu yang memiliki spesialisasi dalam menggunakan kata-kata yang pernah aku ucapkan. Dia, Aini. Aini sangat sering menggunakan kata-kata ‘maaf’. Tapi, bukan hanya itu. Cuma Aini yang pernah mengatakan, “Bu, Fadhel ga masuk. Bagaimana kalau kita do’ain saja.” Itu juga Aini ucapkan saat teman-teman lain tidak masuk. Pernah juga, beberapa hari ini, aku bercerita tentang kehidupan di kutub dan hutan tropis. Mengapa gunung es di kutub utara mulai meleleh, apa penyebabnya, dan solusinya. Juga manfaat hutan dan penyebab berkurangnya pohon di hutan-hutan Indonesia, demikian pula penyebab dan solusinya. Beberapa kali, aku mengucapkan kata-kata “Menjaga bumi.”

Suatu hari kami sedang berjalan-jalan keliling komplek perumahan di dekat sekolah kami. Sepanjang jalan, lumayan banyak pohon-pohon yang tumbuh. Namun, di beberapa tempat, ada pohon-pohon yang ditebangi dahan-dahannya. Maka pohon tersebut yang nampak hanya batangnya saja. Tiba-tiba, Aini bertanya. “Bu Fian, kok pohonnya ditebang ya?” Belum sempat aku menjawab pertanyaan langka itu, Aini melanjutkan kata-katanya. “Orangnya tidak menjaga bumi ya, bu Fian.” Kata Aini dengan polosnya. Ah Aini, kata-katamu itu lho. Seperti mutiara.

Bukan anakku

April 3, 2009 oleh intangobel

MEREKA BUKAN ANAKKU

Seorang insan, telah memilih, untuk mengisi hidupnya, dengan menjadi seorang guru. tujuh tahun, rasanya bukanlah sebuah perjalanan waktu yang sebentar. Tujuh tahun pula sang guru ini, menghabiskan setiap tahunnya. Untuk mewarnai hari-hari bersama puluhan sosok-sosok mungil yang selalu ceria dan penuh energi. Sang guru, yang setiap hari mengamati perkembangan para makhluk imut itu di dalam kelasnya. Semakin hari semakin jatuh hati, pada pemilik kaki-kaki yang tak pernah henti menjelajah itu. Seberapa pun, waktu yang pernah mereka lalui bersama. Namun sang guru, selalu merasakan ketakutan, bila mendekati masa-masa berakhirnya tahun ajaran. Perpisahan dengan senyum-senyum manis itu, seperti menggores luka dalam, yang tidak dapat terobati. Apalagi jika pertemuan mereka, harus diakhiri dengan pindahnya sang buah hati.

Masih teringat dengan jelas dalam memori sang guru. Saat, seorang putri kecil. Yang ayahnya adalah seorang laki-laki berstatus, warga negara Brunei. Harus pergi, tanpa memberikan informasi yang jelas terhadap sang guru. Perkenalan awal dengan sang guru, yang melalui tahapan agak sulit. Karena perbedaan bahasa. Membuat kepergian teman kecilnya, semakin menyesakkan bagi sang guru. Jika dapat, ingin rasanya sang guru tetap memeluknya agar ibu dari putri kecil itu tak perlu membawanya serta. Namun,apa daya. “Dia bukan anakku.” Kata sang guru dalam hati.

Sang guru menerawang jauh. Kembali ke cerita lalu. Tahun ke tiga, di mana seorang teman kecil lain, ada bersamanya. Yang datang dengan temperamen tinggi. Hampir tidak pernah, si kecil berbicara dengan kata-kata sopan. Awalnya, sangat tinggi hati. Tak suka ditegur atas kesalahannya. Berbuat semaunya, tanpa menghiraukan akibat yang kadang terlalu berbahaya buat diri dan temannya. Sebuah senjata rahasia, berhasil menaklukkannya. Setiap sang guru berbicara. Sang guru mengikuti logat daerah, yang terdengar agak sulit dihilangkan dari bahasa Indonesia yang setiap hari digunakan oleh si teman kecil. Mungkin logat itu, membuatnya merasa nyaman. Baru beberapa bulan, keakraban itu terjalin manis. Allah punya rencana hebat. Sang teman kecil harus pindah. Dan sehari setelah kepindahannya. Sebuah karya yang tertinggal, menorehkan kerinduan dan membuat sang guru tak sanggup menahan air mata rindunya. Apa yang bisa dilakukan sang guru ? “Teman kecil itu, bukan anakku.” Kalimat itu memenuhi hati sang guru.

Tahun ini, sang guru mewarnai hari bersama 22 teman kecil. Salah satunya adalah Nabila. Yang cerdas luar biasa. Sangat cepat mengenali simbol-simbol. Sehingga Nabila melejit dengan Qiro’atinya. Kosakata Bahasa Inggris, hampir tidak ada yang dilupakannya. Daya ingat yang kuat, merupakan kelebihan Nabila. Hingga suatu hari, Nabila mengatakan, “Bu guru, aku mau pindah.” Sang guru memandang Nabila dengan diam. Ya Allah, apakah kami harus berpisah sekarang juga ? Sang guru mencoba menampik ketidak relaannya. Dan kembali menenangkan diri sekali lagi, “Nabila, bukan anakku.” Dan masih banyak lagi saat-saat di mana sang guru terpaksa tak dapat bertemu lagi, Karena, harus berpisah, dengan teman-teman kecilnya. Puluhan teman kecil itu, datang dan pergi setiap tahunnya. Dan setiap mereka meninggalkan kesan tersendiri bagi sang guru. Karena mereka adalah bagian dari motivasi bagi sang guru. Namun, apa mau dikata. “Mereka, bukan anakku.” Gumam sang guru. Sang guru hanya dapat mengirim sebuah pesan dan do’a, untuk para teman kecil yang jauh, yang dekat. Yang masih dapat bertemu, atau yang sudah tak pernah bertemu. Wahai teman-teman kecilku, titilah jembatan surga. Wahai Allah, tunjukkan bagi teman-teman kecilku, jembatan surga itu. Amiin.

Senyum dong Fren…

April 3, 2009 oleh intangobel

“CRIIIIING. . .BERUBAH”

Di mulut ini ada senyum

Di hati ini ada senyum

Setiap hari ada senyum

Senyum untuk semuanya

Ya! Itu dia. Setiap hari, wajah kita harus dihias senyum. Teman-teman juga harus tersenyum. Karena, kalau wajah kita senyum. Orang lain ikut senang. Coba bayangkan, bagaimana kalau semua orang di dunia tidak pernah tersenyum. Semua bibir, melengkung ke atas. Wah, bagaimana rasanya?

Itulah yang aku harapkan. Semua teman kecilku, bisa tersenyum kapan saja dan di mana saja. Bertemu teman…,senyum. Sedang bermain…, senyum. Lagi hafalan…, senyum. Pokoknya, mau apa saja aku berharap wajah-wajah mungil itu senantiasa berhias bibir yang selalu melengkung manis.

Seorang teman kecilku ada yang agak sulit untuk mengangkat sedikit sudut bibirnya. Pada awal sekolah, si kulit putih ini sangat sensitif. Tersenggol sedikit, dia akan menangis. Kata mamanya, “Maaf ya,bu. Maklum nih, gelas kristal.” Sambil bercanda. Aku maklum aja sih. Mungkin belum merasa aman untuk bergaul di sekolah. Bisa jadi, hubungan dengan mamanya sangat dekat. Sehingga, masih sulit untuk ditinggalkan. Yang paling istimewa, memang pada garis wajahnya, jarang sekali aku menemukan sebuah senyuman. Hmm… pakai cara apa ya? Aku berpikir berbulan-bulan. Bayangkan, sebulan sebelum tahun ajaran berakhir. Aku baru menemukan cara yang tepat untuk membuatnya tersenyum. Sudah di motivasi dengan kata-kata. Belum berhasil. Sudah diberi stiker. Nggak ngaruh. Dicontohkan. Belum bisa.

Sampai suatu hari, teman kecil yang pandai cerita itu, sedang bersitegang dengan salah satu teman. Seperti biasa, walaupun masalahnya sudah selesai, si kecil bermata sipit itu masih tegang, dengan tangan mengepal, mulut sedikit maju, dan bergumam tak jelas. Aku langsung menghampirinya. “Fadhel, lagi marah ya?” Sapaku. Sapaanku cuma berhasil menambah maju bibirnya yang semakin lucu. “Ih, Fadhel, bu guru mau bicara nih. Kok mau di ajak ngobrol malah cemberut.” Ketegangannya mulai hilang. Alhamdulillah, saat itu Allah mengilhamkan sesuatu. “Criiing. . . wajah Fadhel berubah.” Kataku, sambil meniru gerakan pesulap yang mengayunkan tongkatnya, dengan jari telunjukku ke arah wajah Fadhel. Alhamdulillah. Horeeee… sorakku dalam hati. Aku berhasil. Bibir yang tadinya maju, langsung berubah seperti bulan sabit.

Jadi, setiap menemukan wajah cemberut Fadhel, katakan saja, “Criiing… berubah!” Langsung deh, muncul senyumnya. Yang hebat lagi, kata itu Cuma aku gunakan tiga sampai empat kali. Sekarang setiap bertemu denganku wajahnya langsung tersenyum. He he. Sebelum disulap bu Fian, senyum duluan aah. Mungkin begitu pikir Fadhel.

Dongeng untuk si kecil…

April 3, 2009 oleh intangobel

Burung Paling Hebat

By All Team of KPBA “Cinta Pena”

Dua anak burung sedang bertengger di dahan pohon. Mereka adalah Qori kutilang dan Aswad si beo. Mereka saling menceritakan tentang ibu mereka. Membanggakan kehebatan ibunya kepada yang lain.

“Aswad, kamu pernah lihat ibuku tidak ?” Tanya Qori.

“Iya, sudah pernah” Jawab Aswad. “Memangnya kenapa sih ?” Tanya Aswad.

“Ibuku adalah burung paling cantik. Kamu pasti sudah melihat warna bulunya. Indah kan?” Qori menggetarkan seluruh tubuhnya. Tentu saja karena Qori bangga sekali terhadap ibunya.

“Ooo, karena itu.” Aswad menganggukkan kepalanya. “Tapi, masih lebih hebat lagi ibuku. Ibuku, bulunya hitam mengkilat. Dan, yang lebih hebat lagi. Ibuku sangat pandai mengucapkan banyak bahasa manusia.” Kata Aswad. “Suatu hari nanti, aku juga akan seperti ibuku lho.”

Saat Qori dan Aswad, sedang asik menyebutkan kehebatan ibu mereka. Tiba-tiba, terdengar sebuah suara. “Ku ku…ku ku. Masih ada burung yang lebih hebat.” Ternyata suara itu, milik seekor burung hantu tua, bernama Oldi. Oldi tinggal di sebuah lubang, di pohon tersebut. Qori dan Aswad, menghampiri lubang tempat Oldi tinggal.

“Memangnya, ada burung yang bulunya lebih indah dari bulu ibuku, pak Oldi?” Tanya Qori.

“Iya pak Oldi. Apakah ada, burung lain yang bisa berbicara seperti ibuku.” Aswad ikut penasaran.

“Ha ha ha ha. “ Pak Oldi tertawa. Tawanya sampai membuat tubuh gempal yang dibalut bulu yang mulai kusam itu, berguncang.

“Iiih, pak Oldi. Ditanya kok malah tertawa. Memangnya, burung apa sih pak Oldi, yang lebih hebat dari ibu kami.” Kata Aswad.

“Qori dan Aswad, mau tidak mendengar sebuah kisah tentang burung paling hebat?” Tanya pak Oldi.

“Mau mau, pak Oldi. Ayo ceritakan.” Sambut Aswad dan Qori, bersemangat. Mereka ingin sekali mengetahui, burung apa sih, yang lebih hebat dari ibu mereka.

“Baiklah…” Kata pak Oldi.

Pak Oldi mulai bercerita.

Beberapa tahun yang lalu, hidup seekor burung.. Namanya Cilika. Selain bertubuh kecil, Cilika berkepala botak. Kepalanya, memang tidak ditumbuhi bulu. Dan, itu membuat Cilika dijauhi oleh burung-burung lain. Mereka selalu mengejek dan menertawakan kepala Cilika yang botak. “Kepala botak. Kepala botak.” Demikian mereka mengejek Cilika. Cilika sangat sedih dengan sikap teman-temannya. Karena malu, diejek, kemana-mana Cilika selalu sendirian. Bermain, terbang dan mencari makan. Selalu sendiri.

Suatu hari, Cilika sedang mencari makan. Sudah beberapa jam ia berkeliling mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk mengisi perutnya. Namun, dia belum juga mendapatkan makanan. Sedangkan perutnya sudah mulai sakit, karena sejak pagi belum diisi.

“Eh, apa itu ?” Cilika melihat sesuatu yang bergerak-gerak, di bawah sebuah batu. Wah, itu seekor cacing. Cacing itu pasti sangat lezat. Pikir Cilika. Cilika mendekati cacing tersebut. Saat ia sudah dekat, Cilika melihat cacing itu menggeliat kesakitan.

“Aduh, tolong aku. Tolong singkirkan batu ini dari tubuhku.” Cacing itu meringis.

“Bagaimana batu itu bisa menimpamu? Tanya Cilika. Ia merasa kasihan pada cacing kecil itu.

“Tadi, ada manusia yang melewati jalan ini. Kakinya menendang batu, yang kemudian menimpaku.” Kata si cacing.

Cilika memandangi cacing itu. Akhirnya, ia membantu cacing tersebut melepaskan diri, dengan menyingkirkan batu yang berada di atas tubuhnya.

“Terima kasih, burung yang baik. Aku tidak akan melupakan kebaikanmu.” Cacing itu bergegas pergi, meninggalkan Cilika yang masih kelaparan.

Cilika merapatkan sayapnya, untuk menekan perutnya yang sangat lapar. Ah, aku pergi ke kebun jagung, milik pak tani saja. Biasanya, di sana banyak biji jagung yang berjatuhan. Cilika pun, segera mengepak sayapnya, menuju ke kebun pak tani.

Sesampainya di kebun pak tani, Cilika merasa kecewa. Ternyata, kebun jagung pak tani, baru saja dipanen. Dan, beberapa ekor burung lain, telah menghabiskan biji-biji jagung yang berjatuhan. Cilika kembali terbang. Ia mempertajam penglihatannya. Walaupun, kepala dan perutnya terasa sakit sekali. Kemudian tampak olehnya, sebuah kolam kecil. Yang di dalamnya, tengah berenang, beberapa ekor ikan. Cilika memandangi calon makanannya dari udara. Ia menukik ke bawah dengan cepat. Hap! Seekor ikan, telah berhasil ditangkap olehnya. Namun…

“Burung yang baik, tolong jangan makan aku. Aku masih punya anak-anak, yang harus aku besarkan. Bagaimana nasib mereka, jika kau memakanku?” Kata ikan tersebut sambil menangis.

Karena kasihan, akhirnya Cilika melepaskan ikan itu, kembali ke kolam. Ikan itu berkata, “Terima kasih burung yang baik, aku akan membalas kebaikanmu.” Dan ikan kecil itu, berenang masuk ke dalam air.

Cilika masih kelaparan. Ia terlihat lelah. Dan sudah tidak memiliki tenaga untuk kembali terbang. Ia mencoba tidur di sebuah dahan pohon. Karena hembusan angin yang sepoi-sepoi, Cilika pun tertidur. Dalam tidurnya, Cilika bermimpi. Ia berada di sebuah lapangan luas, yang dipenuhi makanan. Dalam mimpinya, Cilika makan dengan lahap. Sedang sibuk Cilika menghabiskan makanannya. Tiba-tiba, terdengar suara keras. “Tolong. Tolong.” Cilika kaget. Terbangun dari tidur dan mimpinya. “Suara siapa itu.” Pikir Cilika. “Tolong. Tolong.” Cilika segera terbang, mencari asal suara itu. Setelah beberapa saat mencari. Cilika melihat, seekor merak yang sedang meronta, di dekat sebuah pohon. Ternyata, bulunya yang panjang tersangkut di sebuah dahan rendah. “Tolong aku.” Katanya memelas. “Tenang. Aku akan menolongmu. Jangan bergerak.” Kata Cilika. Cilika melepaskan bulu itu, dengan menggunakan paruhnya. Akhirnya, merak itu pun bebas. “Terima kasih burung yang baik.” Dan merak itu pun pergi. Tapi, Cilika kembali merasakan kelaparan.

Cilika memutuskan untuk pulang. Sesampainya di rumah. Cilika melihat banyak binatang, berkumpul di depan rumahnya. Ada apa ya? Saat Cilika mendarat. Seekor binatang berseru. “Hei, itu Cilika.” Semua binatang yang hadir berpaling. Dan saat melihat Cilika, mereka membuat suara-suara yang ramai sekali. Ada yang menghentakkkan kaki mereka. Sebagian mengeluarkan suara-suara yang indah. Cilika semakin heran. Dalam keramaian itu, Cilika melihat cacing kecil, yang tadi ditolongnya. Juga ada si merak cantik. Para binatang masih bersuara ramai, hingga datanglah Lio, sang raja hutan. Semua binatang hening, menyambut kedatangan raja hutan yang perkasa itu. Lio menuju sebuah batu besar. Dan berdiri di atasnya. Memandangi rakyatnya yang berkumpul. “Kalian tahu, mengapa kita berkumpul di sini?” Tanya sang raja. Para binatang mengangguk. “Aku mendengar banyak cerita. Tentang seekor burung kecil, yang suka menolong. Tapi, aku ingin, kalian mendengarnya sendiri dari mereka yang mengalaminya. “Siapa yang mau menceritakannya lebih dulu?” Lio melipat dua kaki belakangnya, untuk duduk.

Nilo, sang kuda nil, menceritakan bagaimana seekor burung kecil, pernah membantunya menghilangkan rasa gatal di badannya yang besar, dengan mematukkan paruhnya. Di lain waktu, saat Ula si ular sakit gigi, seekor burung kecil, membawakannya obat yang manjur dari hutan. Jaja si gajah, pernah kehilangan kacang kesukaannya. Dan seekor burung kecil, telah membantu untuk menemukannya. Tidak ketinggalan untuk bercerita. Cacing kecil yang di Bantu untuk melepaskan diri dari sebuah batu yang menimpanya. Juga merak cantik yang bulunya tersangkut di dahan rendah. Dan banyak lagi cerita lain. Yang membuat warga burung bangga. Tapi, mereka belum tahu, siapa burung kecil yang hebat itu. Lio kembali berdiri tegak. “Warga burung. Apakah kalian tahu, siapa burung kecil itu?” Sebagian besar warga burung menggeleng. Mereka saling memandang. “Burung kecil yang hebat itu adalah, Cilika.” Kata Lio berwibawa. Semua binatang kembali mengeluarkan suara yang ramai. Para burung pun, tidak ketinggalan. Banyak burung, yang dulu sering mengejek Cilika, juga ikut bergembira dan bangga. “Untuk itu,warga hutan akan memberikan hadiah buat Cilika.” Lio berkata lagi. Tiga ekor monyet, membawa biji-bijian yang di letakkan pada wadah-wadah dari batok kelapa. Wadah-wadah itu di letakkan di hadapan Cilika. Suasana kembali ramai. Cilika pun berbicara. “Terima kasih untuk semuanya. Juga kepada raja Lio. Tapi, saya tidak bisa memakan semua ini sendirian. Perut saya bisa sakit.” Kata Cilika. “Kamu bisa menyimpannya kan?” Kata raja Lio. “Tidak raja Lio. Aku akan mengajak semua burung untuk menghabiskannya hari ini. Ayo teman-teman, kita habiskan biji-bijian ini.” Ajak Cilika. Seketika, semua burung mengerumuni wadah-wadah tempat bijian tersebut. “Cilika kau memang burung kecil yang hebat.” Kata raja Lio.

“Sejak saat itu, tidak ada lagi, burung yang mengejek Cilika. Semua merasa bangga berteman dengan Cilika, si burung hebat.” Pak Oldi mengakhiri ceritanya.

“Wah, Cilika biar kecil suka menolong ya.” Kata Aswad.

“Iya. Walaupun pernah diejek. Cilika memaafkan teman-temannya.” Qori menimpali.

“Begitulah Aswad, Qori. Kita bisa di sebut hebat, karena kebaikan hati kita. Bukan karena bulu dan kemampuan kita untuk terbang tinggi. Kalian mau kan, menjadi burung hebat seperti Cilika?” Tanya Oldi.

“Mau pak Oldi. Mau.” Sekarang, Aswad dan Qori bertekad untuk menjadi burung yang suka menolong binatang lain yang mengalami kesulitan.

Niat yang baik ya. Siapa lagi, yang mau jadi hebat ?

Untuk semua Bunda…

April 3, 2009 oleh intangobel

Bunda

Bunda,

Rahimmu, adalah tempat bagi sejuta cinta

Menjagaku, dalam segala kepayahanmu

Memeliharaku, dengan semua kelelahanmu

Mengasihiku, bersama segala penatmu

Hingga dunia menyambutku

Dan dapat ku lihat wajah sucimu

Serta ku dengar indah lisanmu

Yang senandungkan lagu merdu,

Do’a dan harapan syahdu,

Hanya untukku

Bunda,

Dunia penuh dengan bahaya,

Tempat dusta merajalela

Moga kau tak lupa, Bunda

Bekal untukku, kelak dewasa

Kenalkanku pada Rabb, Sang Maha Pencipta

Agar ku ingat, bahwa aku adalah hamba-Nya

Ajarkan aku tentang Qur’an, sang ayat-ayat cinta

Supaya hidupku, senantiasa mulia

Bunda,

Yang mendidikku dengan cinta

Bawa aku ke jalan cahaya

Jadi jundi Allah yang setia

Pembela islam yang utama

Bimbing aku dengan do’a

Hingga kasih Allah, lewat Bunda

Jadikan ku sholeh dan sholehah

Wahai Bunda,

Dengarkan aku berdo’a

“Allah, kumpulkan hamba. Bersama Ayah dan Bunda

Ke dalam Surga”

cuma garam

Maret 16, 2009 oleh intangobel

CUMA GARAM

DALAM SAMBAL

Enam tahun mungkin bukan waktu yang sebentar. Tapi, pengalaman di dalam ke enam tahun tersebut, terus berakar dalam memoriku. Menumbuhkan banyak cabang kenangan yang tak lekang. Menghasilkan banyak daun pengalaman yang senantiasa hijau dan segar. Dan aku terus merasakan panen buah manfaat yang tiada habisnya. Ke arah mana aku harus melanjutkan tulisan ini ? Entahlah, setiap aku berusaha melanjutkan tulisan-tulisanku. Aku seperti membuka sebuah gudang besaaar, yang menumpahkan semua isinya. Dan tumpahannya membuatku sulit untuk memilih, mana yang terbaik untuk aku tuliskan. Kalau aku benar menghitungnya, aku sudah melewati enam tahunku bersama kurang lebih 202 teman-teman kecil. He he, banyak juga ya. Terus terang, tidak menyangka, kalau sudak sedemikian banyak.

Dari jumlah itu, jika setelah melewati masa taman kanak-kanak mereka. Dan mereka tetap mendapatkan kebebasan berekspresi dan mengekplorasi. Sekitar empat puluh lima persen dari mereka, menurutku adalah calon maestro seni. Dua puluh lima persen dari mereka sebagai ilmuwan. Dua puluh persennya adalah para atlet hebat. Yang lainnya, calon politisi yang tangguh. Subhaanallah. Mau di aminkan ?

Sebagian besar dari mereka, memang sangat menyukai seni. Baik itu menyanyi, melukis, membentuk, menari. Jangan salah, aku tidak pernah menyuruh mereka untuk melukis yang bagus. Atau aku menyalahkan dengan kalimat “Nyanyinya yang merdu dong.”. Apalagi mengomentari karya mereka dengan “Kok ekornya seperti itu?”. Mereka menemukan cara melukis yang bagus, menyanyi yang merdu, membentuk yang benar, dengan sendirinya. Demikian juga para calon ilmuwan, seringkali sok tahu dan banyak yang tidak diketahui. Hal ini membuat mereka sering bertanya serta mencoba berbagai hal. Tanpa mempertimbangkan sebab yang akan ditimbulkan. Jangan pernah berpikir bahwa saya sering melakukan percobaan di kelas. Atau membacakan buku-buku tentang penemu. Mereka menemukan minat ini dengan sendirinya. Atlet-atlet, yang setiap hari, dan setiap kali, bergerak ke sana ke ke mari, yang hampir tidak pernah berhenti. Seingatku, aku tidak pernah memberikan pesan “Rajinlah berlatih lari dan melempar. Juga melompat dan berayun.” Mereka mengembangkan kemampuan itu dengan sendirinya. Para politisi, seringkali sibuk melobi. “Kamu teman aku kan.” Dan di lain waktu mereka menjadi pemimpin yang tak bisa dibantah. Mungkin dalam hal ini, ada sedikit pengaruh yang datang dariku. Tapi, mereka benar-benar mendapatkan sifat pemimpin itu dengan sendirinya.

Aku cuma seorang guru. Yang berusaha semampunya untuk memberikan motivasi saat mereka tidak percaya diri. Tepukan lembut pada bahu mereka atas sebuah keberhasilan. Atau sekedar senyum atas sebuah kesalahan. Tanpa maksud apapun. Aku cuma taburan garam dalam racikan sambal. Yang hanya mampu memberikan rasa asin pada sambal tersebut. Namun, sensasi pedas ada pada cabe-cabenya. Yang membuat manusia menyukai sambal adalah cabe-cabenya. Garam cuma pelengkap. Tak perlu di anggap, kecuali ia terlalu banyak. He he, soalnya keasinan.

Jadi, jangan sebut kata terima kasih. Karena aku tidak berbuat apa-apa. Semua yang mereka bisa. Atas izin Allah, mereka bisa dengan sendirinya. Percaya deh, ayah bunda. “Mereka bisa, kok!”

Salam jumpa dunia… bertemu denganku sang manusia fana… jika ada khilaf dan tak sesuai asa… mohon dimaafkan… aku memang tak sempurna…

Maret 16, 2009 oleh intangobel

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!