Ini Jejak-Q

Hanya Satu Yang Akan Kita Tinggalkan… Ialah… JEJAK

Memilah kata

MUTIARA KATA

Para pujangga pasti memiliki banyak kata yang digunakan dalam karya-karya mereka. Bahasa yang mereka gunakan, kebanyakan adalah kiasan-kiasan indah dan penuh makna. Kata dalam karya mereka itu adalah hasil perenungan yang dalam. Latihan yang tak henti. Bahkan, beberapa meneliti terlebih dahulu tentang sebuah hal yang mereka akan ungkapkan dalam puisinya. Itu pujangga lho. Mereka biasanya mampu mengeluarkan kecanggihan dalam mengolah kata untuk mengungkapkan perasaan dan pendapat mereka, untuk bisa dipublikasikan.

Bagaimana jika kata-kata indah itu keluar dari mulut makhluk Allah bernama manusia yang berusia 5 tahun ? Tentu saja kepolosan, kejujuran, keikhlasan dan kemurnian yang akan kita dengar dan rasakan. Aku selalu berusaha menularkan sedikit kata-kata yang bisa digunakan oleh teman-teman kecilku untuk dapat mengungkapkan perasaan dan pendapat mereka. Jika sesuatu sering diulang, maka hal itu pun akan melekat dalam memori. Apalagi otak segar yang dimiliki oleh buah hati kita.

Kata ‘maaf’, adalah salah satu kata yang sering aku gunakan. Saat meminjam sesuatu kepada mereka, “Maaf, boleh pinjam guntingnya ?” Meminta tolong, “Maaf, tolong ambilkan spidol.” Menegur kesalahan mereka, “Maaf, kakinya di bawah saja. Bahkan, saat aku mau kebelakang pun aku meminta izin dengan berkata, “Teman-teman…”

“Apa…” jawab mereka.

“Maaf, bu guru tinggal. Bu guru BAK dulu ya…”

“Iyaaa..” sahut mereka lagi.”

Yaaa, gitu deh. Maka bertebaranlah kata-kata maaf dari lidah-lidah mungil itu. Dan, senang rasanya mereka bisa terdengar sangat sopaaaaaan. He he. Berlebihan ya ?

Tapi ada satu yang memiliki spesialisasi dalam menggunakan kata-kata yang pernah aku ucapkan. Dia, Aini. Aini sangat sering menggunakan kata-kata ‘maaf’. Tapi, bukan hanya itu. Cuma Aini yang pernah mengatakan, “Bu, Fadhel ga masuk. Bagaimana kalau kita do’ain saja.” Itu juga Aini ucapkan saat teman-teman lain tidak masuk. Pernah juga, beberapa hari ini, aku bercerita tentang kehidupan di kutub dan hutan tropis. Mengapa gunung es di kutub utara mulai meleleh, apa penyebabnya, dan solusinya. Juga manfaat hutan dan penyebab berkurangnya pohon di hutan-hutan Indonesia, demikian pula penyebab dan solusinya. Beberapa kali, aku mengucapkan kata-kata “Menjaga bumi.”

Suatu hari kami sedang berjalan-jalan keliling komplek perumahan di dekat sekolah kami. Sepanjang jalan, lumayan banyak pohon-pohon yang tumbuh. Namun, di beberapa tempat, ada pohon-pohon yang ditebangi dahan-dahannya. Maka pohon tersebut yang nampak hanya batangnya saja. Tiba-tiba, Aini bertanya. “Bu Fian, kok pohonnya ditebang ya?” Belum sempat aku menjawab pertanyaan langka itu, Aini melanjutkan kata-katanya. “Orangnya tidak menjaga bumi ya, bu Fian.” Kata Aini dengan polosnya. Ah Aini, kata-katamu itu lho. Seperti mutiara.

April 3, 2009 Posted by | Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

Bukan anakku

MEREKA BUKAN ANAKKU

Seorang insan, telah memilih, untuk mengisi hidupnya, dengan menjadi seorang guru. tujuh tahun, rasanya bukanlah sebuah perjalanan waktu yang sebentar. Tujuh tahun pula sang guru ini, menghabiskan setiap tahunnya. Untuk mewarnai hari-hari bersama puluhan sosok-sosok mungil yang selalu ceria dan penuh energi. Sang guru, yang setiap hari mengamati perkembangan para makhluk imut itu di dalam kelasnya. Semakin hari semakin jatuh hati, pada pemilik kaki-kaki yang tak pernah henti menjelajah itu. Seberapa pun, waktu yang pernah mereka lalui bersama. Namun sang guru, selalu merasakan ketakutan, bila mendekati masa-masa berakhirnya tahun ajaran. Perpisahan dengan senyum-senyum manis itu, seperti menggores luka dalam, yang tidak dapat terobati. Apalagi jika pertemuan mereka, harus diakhiri dengan pindahnya sang buah hati.

Masih teringat dengan jelas dalam memori sang guru. Saat, seorang putri kecil. Yang ayahnya adalah seorang laki-laki berstatus, warga negara Brunei. Harus pergi, tanpa memberikan informasi yang jelas terhadap sang guru. Perkenalan awal dengan sang guru, yang melalui tahapan agak sulit. Karena perbedaan bahasa. Membuat kepergian teman kecilnya, semakin menyesakkan bagi sang guru. Jika dapat, ingin rasanya sang guru tetap memeluknya agar ibu dari putri kecil itu tak perlu membawanya serta. Namun,apa daya. “Dia bukan anakku.” Kata sang guru dalam hati.

Sang guru menerawang jauh. Kembali ke cerita lalu. Tahun ke tiga, di mana seorang teman kecil lain, ada bersamanya. Yang datang dengan temperamen tinggi. Hampir tidak pernah, si kecil berbicara dengan kata-kata sopan. Awalnya, sangat tinggi hati. Tak suka ditegur atas kesalahannya. Berbuat semaunya, tanpa menghiraukan akibat yang kadang terlalu berbahaya buat diri dan temannya. Sebuah senjata rahasia, berhasil menaklukkannya. Setiap sang guru berbicara. Sang guru mengikuti logat daerah, yang terdengar agak sulit dihilangkan dari bahasa Indonesia yang setiap hari digunakan oleh si teman kecil. Mungkin logat itu, membuatnya merasa nyaman. Baru beberapa bulan, keakraban itu terjalin manis. Allah punya rencana hebat. Sang teman kecil harus pindah. Dan sehari setelah kepindahannya. Sebuah karya yang tertinggal, menorehkan kerinduan dan membuat sang guru tak sanggup menahan air mata rindunya. Apa yang bisa dilakukan sang guru ? “Teman kecil itu, bukan anakku.” Kalimat itu memenuhi hati sang guru.

Tahun ini, sang guru mewarnai hari bersama 22 teman kecil. Salah satunya adalah Nabila. Yang cerdas luar biasa. Sangat cepat mengenali simbol-simbol. Sehingga Nabila melejit dengan Qiro’atinya. Kosakata Bahasa Inggris, hampir tidak ada yang dilupakannya. Daya ingat yang kuat, merupakan kelebihan Nabila. Hingga suatu hari, Nabila mengatakan, “Bu guru, aku mau pindah.” Sang guru memandang Nabila dengan diam. Ya Allah, apakah kami harus berpisah sekarang juga ? Sang guru mencoba menampik ketidak relaannya. Dan kembali menenangkan diri sekali lagi, “Nabila, bukan anakku.” Dan masih banyak lagi saat-saat di mana sang guru terpaksa tak dapat bertemu lagi, Karena, harus berpisah, dengan teman-teman kecilnya. Puluhan teman kecil itu, datang dan pergi setiap tahunnya. Dan setiap mereka meninggalkan kesan tersendiri bagi sang guru. Karena mereka adalah bagian dari motivasi bagi sang guru. Namun, apa mau dikata. “Mereka, bukan anakku.” Gumam sang guru. Sang guru hanya dapat mengirim sebuah pesan dan do’a, untuk para teman kecil yang jauh, yang dekat. Yang masih dapat bertemu, atau yang sudah tak pernah bertemu. Wahai teman-teman kecilku, titilah jembatan surga. Wahai Allah, tunjukkan bagi teman-teman kecilku, jembatan surga itu. Amiin.

April 3, 2009 Posted by | Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

Senyum dong Fren…

“CRIIIIING. . .BERUBAH”

Di mulut ini ada senyum

Di hati ini ada senyum

Setiap hari ada senyum

Senyum untuk semuanya

Ya! Itu dia. Setiap hari, wajah kita harus dihias senyum. Teman-teman juga harus tersenyum. Karena, kalau wajah kita senyum. Orang lain ikut senang. Coba bayangkan, bagaimana kalau semua orang di dunia tidak pernah tersenyum. Semua bibir, melengkung ke atas. Wah, bagaimana rasanya?

Itulah yang aku harapkan. Semua teman kecilku, bisa tersenyum kapan saja dan di mana saja. Bertemu teman…,senyum. Sedang bermain…, senyum. Lagi hafalan…, senyum. Pokoknya, mau apa saja aku berharap wajah-wajah mungil itu senantiasa berhias bibir yang selalu melengkung manis.

Seorang teman kecilku ada yang agak sulit untuk mengangkat sedikit sudut bibirnya. Pada awal sekolah, si kulit putih ini sangat sensitif. Tersenggol sedikit, dia akan menangis. Kata mamanya, “Maaf ya,bu. Maklum nih, gelas kristal.” Sambil bercanda. Aku maklum aja sih. Mungkin belum merasa aman untuk bergaul di sekolah. Bisa jadi, hubungan dengan mamanya sangat dekat. Sehingga, masih sulit untuk ditinggalkan. Yang paling istimewa, memang pada garis wajahnya, jarang sekali aku menemukan sebuah senyuman. Hmm… pakai cara apa ya? Aku berpikir berbulan-bulan. Bayangkan, sebulan sebelum tahun ajaran berakhir. Aku baru menemukan cara yang tepat untuk membuatnya tersenyum. Sudah di motivasi dengan kata-kata. Belum berhasil. Sudah diberi stiker. Nggak ngaruh. Dicontohkan. Belum bisa.

Sampai suatu hari, teman kecil yang pandai cerita itu, sedang bersitegang dengan salah satu teman. Seperti biasa, walaupun masalahnya sudah selesai, si kecil bermata sipit itu masih tegang, dengan tangan mengepal, mulut sedikit maju, dan bergumam tak jelas. Aku langsung menghampirinya. “Fadhel, lagi marah ya?” Sapaku. Sapaanku cuma berhasil menambah maju bibirnya yang semakin lucu. “Ih, Fadhel, bu guru mau bicara nih. Kok mau di ajak ngobrol malah cemberut.” Ketegangannya mulai hilang. Alhamdulillah, saat itu Allah mengilhamkan sesuatu. “Criiing. . . wajah Fadhel berubah.” Kataku, sambil meniru gerakan pesulap yang mengayunkan tongkatnya, dengan jari telunjukku ke arah wajah Fadhel. Alhamdulillah. Horeeee… sorakku dalam hati. Aku berhasil. Bibir yang tadinya maju, langsung berubah seperti bulan sabit.

Jadi, setiap menemukan wajah cemberut Fadhel, katakan saja, “Criiing… berubah!” Langsung deh, muncul senyumnya. Yang hebat lagi, kata itu Cuma aku gunakan tiga sampai empat kali. Sekarang setiap bertemu denganku wajahnya langsung tersenyum. He he. Sebelum disulap bu Fian, senyum duluan aah. Mungkin begitu pikir Fadhel.

April 3, 2009 Posted by | Tak Berkategori | 3 Komentar

Untuk semua Bunda…

Bunda

Bunda,

Rahimmu, adalah tempat bagi sejuta cinta

Menjagaku, dalam segala kepayahanmu

Memeliharaku, dengan semua kelelahanmu

Mengasihiku, bersama segala penatmu

Hingga dunia menyambutku

Dan dapat ku lihat wajah sucimu

Serta ku dengar indah lisanmu

Yang senandungkan lagu merdu,

Do’a dan harapan syahdu,

Hanya untukku

Bunda,

Dunia penuh dengan bahaya,

Tempat dusta merajalela

Moga kau tak lupa, Bunda

Bekal untukku, kelak dewasa

Kenalkanku pada Rabb, Sang Maha Pencipta

Agar ku ingat, bahwa aku adalah hamba-Nya

Ajarkan aku tentang Qur’an, sang ayat-ayat cinta

Supaya hidupku, senantiasa mulia

Bunda,

Yang mendidikku dengan cinta

Bawa aku ke jalan cahaya

Jadi jundi Allah yang setia

Pembela islam yang utama

Bimbing aku dengan do’a

Hingga kasih Allah, lewat Bunda

Jadikan ku sholeh dan sholehah

Wahai Bunda,

Dengarkan aku berdo’a

“Allah, kumpulkan hamba. Bersama Ayah dan Bunda

Ke dalam Surga”

April 3, 2009 Posted by | Tak Berkategori | 1 Komentar