Ini Jejak-Q

Hanya Satu Yang Akan Kita Tinggalkan… Ialah… JEJAK

Sekolah Dalam Kotak

Anda pernah melihat kotak? Saya yakin setiap kita pernah melihatnya. Benda dengan empat sisi yang diadopsi bentuknya oleh benda-benda seperti dadu dan teman-temannya. Seperti halnya dalam tempurung. Semua yang ada dalam kotak, tidak akan dapat berkembang, membesar dan tentu saja akan senantiasa tetap, stagnan dan tidak  mengalami perubahan yang signifikan.

Mengamati kembali dunia pendidikan di Indonesia umumnya. Atau, yang lebih khususnya di Balikpapan. Kita akan mendapati sekian banyak penyimpangan, penyelewengan dan ketidakseimbangan serta ketidakdisiplinan dalam pendidikan. Baik penyimpangan akhlak, penyelewengan dana, ketidakseimbangan kurikulum dan ketidakdisiplinan murid, bahkan guru. Bagaimana pendidikan bisa menemukan titik balik perkembangannya ? Bagaimana pendidikan bisa mencapai perubahannya ? Jika sekolah masih dalam kotak.

Sekolah macam apa yang senantiasa menempatkan diri mereka dalam kotak ? Coba kita lihat lebih dekat. Dan, semoga kita mampu bercermin. Berada diposisi yang

manakah, kita telah menempatkan sekolah kebanggaan kita.

Setiap hari anak-anak datang dengan ceria, mengisi pagi itu dengan sejuta bahagia yang selalu terukir di wajah-wajah polos mereka. Murid kesebelas pagi itu sudah datang. Tapi…di mana sang Guru ? Gerbang kebanggaan itu masih rapat terkunci. Pintu-pintu kelas, masih mengatup. Lampu-lampu malam, belum dimatikan. Mainan masih digantung. Sepi… Beberapa orang tua yang mengantar, kebingungan. “Hari ini libur, ya nak ?” Dan si anak juga jadi ikut bingung. Memandang mainan dengan penuh harap. Memandang jauh keujung jalan, mengharap  semoga sang Guru  cepat datang. Seharusnya pagi itu sang Guru telah menyambut mereka dengan sapaan ramah. Biasanya terdengar lagu-lagu anak yang mengalun jernih dari sebuah tape sederhana dipojok kelas. Tapi,  sang Guru belum ada. Dan anak-anak pun ditinggal disekolah oleh sang pengantar dengan hati was-was.

Duduk termenung disebuah bangku kecil, menghayalkan teman-temannya yang akan segera datang. Tampaknya, disiplin sangat ditanamkan dalam diri anak-anak.

Namun,  sang Guru sudah tidak pernah lagi meneladankannya. Maasyaa Allah.

Jam tujuh lewat lima puluh menit. Baru dua orang guru yang datang. Sedangkan sepuluh menit lagi kegiatan dimulai. Anak-anak sudah tak pernah lagi mendapatkan sambutan hangat didepan gerbang. Toh, gerbang itu hanya diramaikan oleh anak-anak dan para pengantar. Beberapa anak dengan sukarela menggantikan sang Guru. Menyambut teman-temannya dengan kehangatan dan teguran penuh canda. Hmm…anak-anak begitu baiknya. Bagaimana dengan sang Guru ?

Pernahkah merasa haus yang begitu kuatnya? Disekolah ini, semua merasa haus. Haus akan ilmu. Apalagi anak-anak. Mereka mencari sendiri ilmunya. Dengan bermain. Mereka sering melakukan penjelajahan disudut-sudut sekolah. Tempat-tempat terpencil, yang menurut mereka menawarkan keasikan dan kesenangan yang tidak mereka dapatkan dikelas. Terutama mendapatkan ilmu. Seharusnya, mereka bisa melepas dahaga dengan lembar-lembar berjilid, yang kita kenal dengan sebutan buku. Dari bukulah mereka seharusnya bisa menjelajah. Walaupun, penjelajahan disudut-sudut sekolah itu sepertinya tidak akan tergantikan.

Setidaknya, buku bisa memberi mereka ilmu lain yang tidak ada di sudut sekolah. Tapi…hampir puluhan tahun sudah sekolah ini berdiri. Buku bukanlah hal istimewa yang seharusnya menjadi semakin lengkap. Buku hanyalah pelengkap saat sang Guru kehabisan ilmu. Oase itu telah lama kering. Dan sang dahaga tak kunjung hilang.

Kelas sangat tenang. Anak-anak tampak bosan dan tegang. Mereka mengahadapi buku paket, lembar kertas, dan tugas-tugas pasif lainnya. Seperti para karyawan yang sibuk dengan lembar-lembar kerjanya. Jika sedikit bersuara, maka sang Guru berkata “Eee, kerjakan dulu tugasnya, baru bicara.” Biasanya dengan ancaman, “Kalau tidak selesai, tidak boleh istirahat.” Anak-anak pun, kembali sibuk dengan tugasnya. Mereka hanya saling melempar senyum, yang kadang berusaha ditularkan dengan sembunyi-sembunyi.

Bermain sambil belajar telah kehilangan tempatnya. Digantikan oleh belajar sambil belajar. Tak ada kata bermain. Terasa sekali, sekolah ini telah menjadi sebuah ….Semoga lain waktu aku bisa memilih sebuah kata yang tepat.

Mengembangkan diri. Itulah seharusnya yang dilakukan oleh semua manusia.

Entahlah, harus dikatakan apa lagi jika seorang manusia sudah tidak berkeinginan untuk mengembangkan dirinya. Innalillaah. Akan dibawa kemana masyarakat ini. Rasanya sekolah itu sudah mulai merasa pandai dan hebat. Tak ada lagi keterbukaan untuk berbagi dan menerima ilmu. Semua yang baru, dipandang sebagai sesuatu yang tabu, merepotkan dan dianggap tidak bermanfaat.  Mau begini, repot. Mau begitu, rumit. Sang Guru hanya dituntut untuk mencerdaskan muridnya. Namun kegiatan yang bisa mencerdaskan sang Guru, adalah sesuatu yang amat jarang dilakukan. Bahkan, hampir tidak pernah. Sedangkan masalah anak semakin besar, banyak dan aneh tentu saja. Dan sang Guru hanya belajar dari pengalaman. Sedangkan pengalaman, agak sulit digali dari memori. Psikologi, ketrampilan, seni, olah tubuh. Semua ilmu berkembang. Dan langkah masih tetap berderap ditempat. Ingin jadi baik. Namun, tidak mencari cara untuk mendatangkan kebaikan. Sesungguhnya, kebaikan tidak akan datang dengan sendirinya.

Begitulah. Kondisi setiap sekolah dalam kotak, bak sedang menyelimuti diri. Berlindung dari segala persaingan, dengan menutup diri. Berkembang malas, berhenti pun, tak sudi.

Hanya berusaha menghibur diri dengan rapuhnya motivasi. Menggeliat tak pasti. Bahkan tak berani unjuk gigi. Dan anak-anak hampir kehilangan minat sejati. Akankah

sekolah itu tetap begitu. Menyendiri, menyepi, dan sombong diri. Wahai, semakin iba hati. Kepadamu, ‘SEKOLAH DALAM KOTAK”.

**Kadang kita terlalu cepat puas dengan kelebihan. Maka benarlah. Setiap kelebihan wajib disyukuri. Sehingga tak pantas rasanya. Mengakui setiap kelebihan adalah milik pribadi. Bukankah semua hanya milik Ilahi ???

Oktober 26, 2009 Posted by | Tak Berkategori | Tinggalkan komentar