Ini Jejak-Q

Hanya Satu Yang Akan Kita Tinggalkan… Ialah… JEJAK

Blogger Power

Mengingat :
Bahwa banyaknya blogger Indonesia yang telah mengikuti kontes seo mengembalikan jati diri bangsa yang dimulai tanggal 14 Juli 2009 s.d 21 Desember 2009 ( selama 160 hari)

Menimbang :

* Tidak ada kejelasan mengenai tanggal dan waktu penyerahan hadiah
* Tidak pernah diresponnya email, telepon ataupun Ym! dari para pemenang dan blogger indonesia

Memutuskan :
Kami para peserta kontes seo mengembalikan jati diri bangsa memutuskan bahwa kontes seo mengembalikan jati diri bangsa yang diselenggarakan oleh beritajitu.com adalah SCAM!!

Keputusan ini dapat kami tarik kembali dengan memposting sebuah artikel postif bila hadiah telah kami terima dengan utuh sesuai kesepakatan awal.

Kami meminta kepada segenap blogger Indonesia untuk memposting artikel ini diblog masing-masing atau di facebook masing-masing. (silakan di copy paste)

ILMU BARU-ku:

*SCAM= Scam adalah berita elektronik dalam Internet yang MEMBOHONGI dan bersifat MENIPU, sehingga pengirimnya akan mendapat manfaat dan keuntungan tertentu. Contoh scam yang sering kita jumpai adalah surat berantai dan pengumuman lotre. Dalam hal ini akibat dari berita scam ini bagi penerimanya akan lebih serius, jika dibandingkan dengan spam.

Dalam bahasa Inggris, scam diartikan juga sebagai confidence trick or confidence game, sehingga pada awalnya penerima berita merasa yakin dan tidak mencurigai bahwa hal ini merupakan bentuk penipuan.

Buat para peserta kontes… Moga pada sabar ya… Keep semangat nge-blog… ^_^

Januari 31, 2010 Posted by | Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

Taubat

Yã Allãh…

pada jejak2 kecil kami…

kami topangkan diri dng memohon kekokohanMU…

pun hati masih ternoda… Masih kami mohon kesucianMU…

tak akan sampai kebaikan kepada kami… Tanpa IzinMU…

tak dekat pada kami keburukan… Tanpa KehendakMU…

pun sekali lagi kami khilaf… Tak ENGKAU kurangi nikmatMU…

dan jika kami bertaubat… ENGKAU tambahkan RahmatMU…

Dan saksikanlah kami yã Allãh… Dengan payah… Mengarah langkah…

Dengan susah… Mengatur lidah…

Dengan penuh daya… Membimbing mata…

Sungguh inginnya… Kami hidup tanpa dosa yã Allãh…

Namun siapalah kami… Manusia dhoif yang sering kali negatif…

Ampuuuuun yã Allãh…

ENGKAU paling tau… Segala apa yang kami tutup… Semua hal yang rahasia…

setiap titik kburukan pada wajah hati kami…

Jadikan kami maluuu… Maluuu… Maluuu… Jadikan kami Maluuu padaMU yã Allãh…

di bumiMU kami berpijak… Namun masih bermaksiat… Di bawah langitMU kami berlindung… Masih pula kami jarang merenung…

jika taubat kami sebelumnya tak cukup buatMU… Maka izinkan kami taubat… Taubat… Dan taubat lagi…

adalah kami yã Rabbi… Taubat hari ini… Pada ujung hariMU… di gelapMU… Jadikan kami beruntung… Jauhkan dari rugi…

kami hidup… Sekali lagi… Untuk mengabdi… Terima taubatku, taubatnya dan taubat mereka… Ãmïn yã Tawwabu…

Januari 26, 2010 Posted by | Tak Berkategori | 2 Komentar

Ramadhan… In Memoriam…??

Kala itu… Di sebuah sudut waktu…

Satria Ramadhan: “Apakah kau harus pergi sekarang kawan?” Dengan wajah sedih.

Ramadhan: “Telah tiba waktunya untuk pergi. Bukan inginku. Kehendak Rabb-ku… Rabb-mu… Rabb kita.” Kesedihan yang sama.

Satria Ramadhan duduk merapat ke sisi Ramadhan. Ia menjabat erat tangan Ramadhan.

Satria Ramadhan: “Maafkan aku kawan…” Wajahnya makin sendu. Pada kedua matanya. Tampak mengaca.

Ramadhan: “Kau kan tidak salah apa-apa.” Sambil menepuk bahu kawannya itu. Dan memandangnya teduh.

Satria Ramadhan: “Aku bersalah… sangat bersalah…” Satria Ramadhan mulai menangis.

Ramadhan kebingungan.

Satria Ramadhan: “Aku… Aku… Aku kadang tertidur pada malam2mu. Sedangkan aku pernah berjanji. Akan menjaga setiap malammu. Kalaupun aku bangun setiap malam. Aku menemanimu dengan sholat. Namun… Aku bahkan tertidur dalam sujudku. Aku bersalah….” Jeritnya dalam tangis.

Ramadhan terus memandangi sahabatnya itu. Dan memeluknya….

Satria Ramadhan: “Aku bersalah… Aku juga pernah berjanji akan menggenapkan hari dengan Qur’an. Namun… Ada hari-hari yang sempat terlewat tanpa satu juz pun aku selesaikan. Walaupun akhirnya aku berhasil mengejar ketertinggalanku. Tapi… aku bersalah…” Air matanya semakin deras.

Ramadhan: “Cukup kawan… Allaah mengetahuinya. Itu cukup bagiku. Kau menyadarinya. Itu cukup bagiku. Dan kau memperbaikinya. Itu baik bagimu.” Kata Ramadhan bijak. “Tapi, aku tetap harus pergi.”

Satria Ramadhan: “Datanglah lagi nanti…” Ia melepas rangkulannya. Matanya sembab. Isaknya masih terdengar.

Ramadhan: “Kawanku… Kita ini hanya hamba. Pertemuan itu tak bisa dikira. Perpisahan ini tak dapat dielak. Syawal akan mengemban amanahku menemanimu. Kau sudah luar biasa kawan. Janganlah kau mengendurkan semangatmu ini. Tanpaku… kau harus tetap mampu mengendalikan nafsu. Tanpaku… kau tetap harus menjaga malam-malam itu. Tanpaku… kau harus tetap berhibur dengan Qur’an. Kau sudah berubah sejauh ini. Jangan sia-siakan, dengan kembali menjadi dirimu yang biasa, saat aku pergi. Rugi kawan…” Nasihat Ramadhan panjang lebar.

Satria Ramadhan: “Baiklah kawan… aku berjanji. Penyesalan ini mungkin terlambat. Tapi tak pernah terlambat untuk memperbaiki dan mempertahankan.” Ia mulai tersenyum.

Ramadhan: “Kau benar. Ada sebelas bulan setelah aku pergi. Mereka akan menunaikan amanahnya. Jika Allaah Menghendaki. Kita akan bertemu tahun depan.”

Satria Ramadhan hanya mengangguk setuju.

Ramadhan: “Sebelum aku pergi… Mari kita nikmati sisa waktu ini kawan. Aku ingin kita benar-benar lebih dalam memaknai pertemuan kita ini. Berkumpulnya kita tahun ini. Semoga membuat kau dan saudara-saudaramu mampu menjadi sosok-sosok istimewa. Kau tau tidak…? Fajar lebaran itu sungguh indah disambut oleh semua muslim. Namun tak banyak yang mampu merasakan fajar lebaran… seindah yang dirasakan oleh para pemenang. Yang dengan megah dan meriah merayakan perjumpaan cinta denganku. Dan ia melakukan pengabdian dan penghambaannya dengan rela.”

Satria Ramadhan: “Semoga aku… dan saudara-saudaraku… termasuk di dalamnya. Amiin.”

Ramadhan: “Amiin Yaa Rabbal’aalamiin.”

Kedua kawan itu pun saling berpelukan semakin erat. Detik-detik perpisahan itu… ingin mereka lalui dengan penuh cinta. Keindahan berasik masyuk dengan Sang Pencipta mereka. Allaahu Dzuljalaali wal Ikraam…

*Yaa Syahru Ramadhan… Syahrus Shiyam… Syahru tilawatil Qur’an… Syahru Qiyam… Syahru Ghufran… Ku lepas jemarimu… satu demi satu… haru…

T_T… Ramadhan…

*Satria Ramadhan: Masih teringat dirimu sahabat… Kau pergi… Namun… Tetaplah di sini… Di hatiku… Menemani hidupku… 11 sebelas bulan tanpamu… pasti berat sahabat… Namun… Masih ada… pendar semangatmu… di sini… di relung jiwa ini… Sahabat… Ku pinta… pada Rabb kita… Kan jumpa lagi… denganmu… dan… meraya cinta… (Menderas dan menganak sungai air mata rindu… dari sudut mata sang satria)

*Syawal: Aku ada di sini… menemanimu teman… ada enam hariku… yang dapat sedikit mengobat rindumu pada Ramadhan… Mari teman… pegang tanganku… Aku pun… ingin jadi sahabatmu… mari nikmati pertemuan ini… dengan pengabdian suci… Meski tak senikmat Ramadhan… Izinkan aku… menyajikan hariku… Izinkan aku…

*Dzulkaidah, Dzulhijjah, Muharram, Syafar, Robiul awal, Robiul Akhir, Jumadil awal, Jumadil akhir, Rajab, Sya’ban: Teman… Tetaplah menjadi Satria Ramadhan… Dan berjuanglah bersama kami…

MASIHKAH IA… DI HATI KITA…

Januari 26, 2010 Posted by | Tak Berkategori | 2 Komentar

Inginkan… KAU…

Yaa Allaahu… Yaa Ghaniyyu… Yaa Waduudu… Yaa ‘Aliimu… Yaa Hayyu…

Aku faqir… Dalam apapun…

Aku miskin ilmu…

Dan inginku… Kau-lah sesuatu yang paling kupahami… Ku jelajahi apapun tentangMU… Hingga… tak satu pun hal tentangMU… yang tak ku tau… Jika saja ku mampu…

Aku miskin cinta…

Dan mauku… Kau-lah hal yang padaNYA ku pasrahkan hidup ini… ku genangkan rasaku… pada setiap pesonaMU… Hingga tiada cinta lain… yang mampu memalingkanku dari men-Satu-kanMU…

Aku miskin bahagia…

Dan pintaku… Kau-lah indah itu… Yang bersamaNYA aku aman… Sejuk dalam seluruh jengkal hatiku… Hingga tiada senandung pilu… yang berirama di jiwaku…

Aku miskin ketenangan…

Dan harapku… Kau-lah Yang melapangkan himpitku… Meluaskan sempitku… membuatku penuh rela menerima semua yang Kau ingin ku terima… Memuncakkan kesyukuran… Serta… Menghilangkan batas kesabaran…

Aku miskin harta…

Dan asaku… Kau-lah Yang selalu mencukupkan kebutuhanku… di tengah keterbatasan mampuku… Penuhi setiap ruang puasku… dengan kebaikanMU… Hingga tak perlulah… ku bergantung… selain kepadaMU…

Aku miskin waktu…

Dan izinkanku… bersama waktu… Yang hanya milikMU… Yaitu sedikit masa… yang Kau titipkan padaku… Jadikan waktu itu… bercahaya di tanganku… agar penuh dengan pendar makna… Jadikan waktu itu… bersinar di pikirku… hingga menghasilkan kerlip karya penuh guna… Dan tak perlu banyak waktu… kecuali di dalamnya… Kau izinkanku… menjadi manusia yang bernilai bagiMU…

Yaa Rabbi…

Aku miskin segala… Kau utus ke dunia dengan segala Yang Kau punya…

Raga ini… MilikMU… Di setiap pori-pori inilah… tanda Kau Berkuasa… Dalam setiap sel itulah… Tanda Kau Ada… Di Nafas tak henti inilah… Ku temukan Kau tiada duanya… Di jantung yang berdetak inilah… Kau buatku merasa… Kau-lah segala…

Jiwa ini… DariMU… Biarkanku… menemukanMU… dalam penjelajahan rasaku… agar sanggup diriku… Tak merasa bebas dariMU… Karena jiwa telah jatuh pada kedalaman rasa… Bahwa Kau melihatku… Dalam gelap dan terangMU… Pula Kau mendengarku… Dalam sepi dan ramaiMU… Betapa ku ingin begitu… MeneguhMU… sebagai Segala-ku…

Akal ini… PemberianMU… Buatlah pikirku… sedemikian rupa… tuk MengadakanMU selalu… Dalam dudukku nan lemah… Dalam baringku yang rapuh… Dan pada berdiriku yang tak kokoh… Agar ia tak berlari liar… menarikku tuk ingkar… Jadikan ia dalam kendaliku… Untuk menjadikan KesegalaanMU… adalah tak tertolak…

Dalam hidup ini… Ingin KAU… Menjadi SEGALA-ku…

Amiiin Yaa Rabbal’alamiin…

Januari 24, 2010 Posted by | Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

Versi Cinta

Cinta 1 : Berdua… Saling cinta… Memenjara diri dalam kasih. Tiada orang lain di antara ke2nya. Segalanya untuk belahan jiwa. Setiap ungkapan cinta tercurah pada satu nama…

Inilah Cinta…

Cinta 2 : Jadi sudut ke 3. Dari sebuah cinta… Setelah separuh jiwa mencintai sebuah cita… Menghabis waktu dng yang ke satu… Mencurah cinta pada satu asa… Menjadi istri ke 2… Dari suami yang memiliki istri pertama… Bernama ‘PERJUANGAN’…

Ini baru Cinta…

Cinta 3 : Menjadi yang pertama… Namun memimpikan cinta memiliki sayap ke 2… Mengharapkan rasa bisa dibagi bersama… Bermimpi… Bahtera berlabuh pada 2 dermaga… Dan terjadilah… Cinta harus berbagi… Berbagi segalanya… Bahkan… Berbagi CEMBURU…

Hmm… Ini lebih dari CINTA…

Subhãnallãh…

Yã Allãh… Jadikan aku seindahnya… Buatlah diri sepertinya… Dan izinkan aku lebih baik lagi… Bersamanya. Ãmïn.

Januari 22, 2010 Posted by | Tak Berkategori | 2 Komentar

Hanya Ingin Berbagi

Ketika setiap potensi menjaring puji… Maka ingatlah… Ada Dzat Yang Memberikan itu padamu… Ucapkan Alhamdulillãh…

Kala ada ilmu… Yang membuat Mereka menyukaimu… Maka kembalilah mengingat bahwa ada Dzat Yang Menganugrahkan itu padamu… Dan ucaplah Alhamdulillãh…

Bila ada Semangatmu yang bersinar tanpa jemu… Dan membawa manusia tak lelah menantimu… Maka berbaliklah serta ingat lagi… Ada Dzat Yang Mengalirkan itu padamu… Karenanya ucapkan Alhamdulillah…

Ketika Kuatmu menarik perhatian dunia menujumu… Maka menunduklah… Bukankah ada Dzat Yang Menyertakan itu denganmu… Segeralah berkata Alhamdulillãh…

Waktu setiap lebihmu mencuri cinta dari hati semesta… Maka berlututlah renung kembali… Ada Dzat Yang Menyematkan itu padamu… Dan katakan Alhamdulillãh…

Dan pabila hatimu mulai ragu dng mimpi tentang keinginan untuk berbagi… Maka hentilah…

Karena potensi itu telah kau rendahkan hingga hina…

Karena ilmu itu telah luluh lantak menjadi debu dan nista…

Karena semangat itu telah berkeping menjadi tak berharga…

Karena kuat itu telah rusak oleh riya…

Dan kelebihan itu telah hilang menguap jadi udara…

Diri… Jiwa… Hati… Luruslah kembali… Bukankah hanya satu azzam kita kala itu… Ini hanya bentuk pengabdian pada Sang Pencipta kita…

Berbenahlah kembali… Gerak, kerja dan amal ini… Lahir dari Sebuah Energi…

KITA… HANYA INGIN BERBAGI…

Oke diri ? (Yup!)
Oke hati ? (Siip!)
Oke jiwa ? (Deal !)

Dan inilah deklarasi Cinta… Antara Hati… Raga… Dan Jiwa… Untuk semua… Karena Allãh…

Januari 21, 2010 Posted by | Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

Beruntung…

Aku pernah jatuh…

Terjerembab oleh kalah…

Lalu… membagi tangis…

Melempar keluh ke segala penjuru…

Mengoper kesah ke setiap arah…

Dan hanyut dalam sedu sedan…

Teringat… apa yang Kau lakukan…

Kau perlihatkan lebih banyak luka… yang berlebih laranya…

Kau perdengarkan rintih… yang lebih pedih dari ringisanku…

Kau tunjukkan hitam… yang lebih gulita dari gelapku…

Mengapa..??

Bukannya Kau tampilkan senandung bahagia…

Atau Kau gelar panggung ceria…

Setidaknya… sebuah kisah yang gembira…

Tidak… Kata-Mu…

“Hambaku sayang… untuk membuatmu merasa beruntung… maka, Ku perlihatkan ketidakberuntungan.”

“Supaya kau merasa bahagia… Maka Ku tunjukkan ketidak bahagiaan.”

“Demi kau dapat menemukan terang… maka Ku persembahkan kegelapan.”

“Mengertilah… tak ada yang lebih menginginkan kau tersenyum… kecuali Aku.”

“Tak ada yang sangat berkehendak kau harus bahagia… melainkan Aku.”

“Jika kau terima cara-Ku mencinta… maka… bersabarlah…”

“Pilihan… ada padamu… wahai hamba-Ku.”

~~~~~~~^^^^^^^~~~~~~~~~~~~~~~~

Dalam jatuhku… Dia menghiburku… Ku terima cinta-Nya… yang sungguh tak sederhana…

Dalam rasa kalahku… Aku BERUNTUNG…

Alhamdulillaah…

Januari 20, 2010 Posted by | Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

Sahabat adalah Sang Fajar

Salam sahabat… apa kabar hatimu… sedangkah duka menderamu. Semoga terhapus laramu… dengan sabarmu. Yang Allaah semat di jiwamu. Amiin…

Sahabat… adalah sang fajar dikala gelap pergi..

Ia bersinar tangguh di tengah mendungmu…

Sahabat punya banyak warna pada cahayanya…

Sehingga mejikuhibiniu… mengindahkan hidupmu… bahkan lebih dari warna pelangi itu..

Ia mengisi kurangmu… tanpa menganggapmu kurang…

Dipelajarinya lebihmu… demi membantumu… lebih baik lagi..

Ia menarik ruh-mu yang jatuh lunglai…

Dipapahnya dirimu… ketika hebatmu luntur…

Bila kau terjatuh di jurang dalam… Maka tali persahabatannyalah yang membantumu lepas dari bahaya…

Kuungkap… sebanyak apapun tentang sahabat… maka tak kan pernah lengkap…

Karena… sahabat… adalah… orang hebat…

Secarik rasanya… dilipatnya rapat… demi mendengar bahagiamu…

Maka… persembahkanlah… yang terindah… untuk sahabatmu…

~~~~~*******~~~~~~**********~~~~~~***~~~~~

Sahabat… Kearah mana pun kita pergi… Kedepan… belakang… atas… bawah… kiri… kanan… sertakanlah… KEYAKINAN… 🙂

Semoga Allaah ridho… dengan persahabatan kita. AMiin

Januari 12, 2010 Posted by | Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

Salah Satu Bintang-Q

Apakah anda orang tua yang memiliki anak yang selalu berbicara, mengeluarkan bunyi-bunyian dari mulutnya dan selalu tak pernah berhenti bergerak? Seorang anak yang selalu memancing kata ‘masya Allah’ , dari orang-orang yang berinteraksi dengannya? Atau sering kali gurunya ‘mengadukan’ perilakunya disekolah? Saya punya murid yang seperti itu. Dan mungkin saya termasuk guru yang suka mengadukan aktifitas Farhan di kelas. Mungkin saya lebih leluasa melakukannya, karena saya mengenal kedua orang tuanya.

Sebut saja Farhan, begitu nama sebenarnya. Karena saya ingin semua orang mengenal Farhan sebagai Farhan. Farhan murid saya sejak kelas kecil. Dan saat kelas besar, saya kembali menjadi wali kelasnya. Farhan adalah keunikan tersendiri dari kelas saya. Farhan kecil dapat berbicara dengan lancar, dengan banyak kosakata, walaupun saat awal kelas kecil, saya selalu meminta Farhan mengulangi kata-katanya.
Sekarang, Alhamdulillah, saya tidak perlu meminta Farhan untuk mengulangi kata-katanya, karena sudah jelas. Dan sekarang malah membuat saya sedikit kewalahan untuk menenangkannya walau sesaat. Apalagi saat saya sedang menjelaskan sesuatu didepan kelas, Farhan akan dengan sengaja mengeluarkan suara-suara dari mulutnya. Entah sedang bicara sendiri, atau kadang-kadang Farhan menirukan suara burung, kucing, atau suara-suara yang lain.

Belakangan Farhan suka mengucapkan kata-kata yang menarik perhatian teman-temannya. Dan membuat teman-temannya semakin sering mengadukan kata-katanya. “Bu…Farhan bilang ini.” “Bu…Farhan bilang itu.” Biasanya saya cuma bisa mengatakan “Bu guru tidak dengar, tapi Allah dengar loh, Farhan.” Atau kadang-kadang saya hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala dan menatap mata Farhan yang kalau sadar telah berbuat salah, ia akan mengerjap lucu.

Belum lagi Farhan sangat aktif bergerak. Tangannya seperti mesin yang tak dapat berhenti melakukan apa saja. Memencet hidung temannya, mengacak rambut temannya, menyentuh barang-barang dimeja guru tanpa ijin. Dalam kegiatan mewarnai dengan cairan pewarna, walaupun saat itu bukan kegiatan melukis dengan jari, Farhan akan dengan sengaja mencelupkan jarinya kedalam cairan-cairan itu. Membuat saya harus berkali-kali mengingatkannya untuk tidak mengelapkannya ke baju atau meja.

Suatu hari…(saat itu kami sudah mempelajari mengenai binatang), kami akan membuat kebun binatang dengan plastisin. Setelah membuat kandang, pohon, jalan dan kolam, anak-anak akan mengisinya dengan binatang-binatang.

“Ayo anak-anak… semua boleh mengisi kandang-kandang dengan binatang buatannya.” Mereka langsung sibuk dengan plastisinnya. Si Aqil membuat ular yang sangat besar, Aldo membuat buaya yang seperti cicak, Ega buat cacing (he he. . . ayo kebun binatang mana yang ada cacingnya ?) Teman-teman yang lain ada yang buat bebek, beberapa sangat suka membuat ular. Hingga kebun binatang kami hampir penuh dengan binatang berbisa itu.

Saya sempat meninggalkan mereka ketoilet beberapa saat dalam pengawasan rekan saya dikelas. Saat saya kembali, saya melihat beberapa binatang tambahan. Saya mengamatinya lebih dekat. Subhanallah. . .dikebun binatang itu sudah ada Gajah yang lengkap dengan belalai dan telinga lebarnya. Ada juga seekor burung yang merentangkan sayapnya, bertengger diatas pohon. Saya menebarkan pandangan, mencoba mengira-ngira, siapa pembuatnya. Sepertinya kebanyakan murid masih membuat ular.

Tiba-tiba Farhan datang mendekat, dan meletakkan seekor binatang didalam kolam. Allaahuakbar! Itu Buaya! Benar-benar Buaya (tidak mirip cicak )
Saya menghampiri Farhan “Farhan tadi buat apa saja sayang ?”

“Itu bu. . .Gajah, Burung, Ular, sama Buaya” Jawab Farhan dengan gaya khasnya (berbicara sambil memanyunkan bibirnya )

“Wah. Hebat ! Alhamdulillah buatan Farhan bagus semua.”
Serentak anak-anak yang lain mendekatiku sambil membawa karya mereka “Bu, saya buat ini.” “Bu, saya buat ini.”

Saya tersenyum “Tentu-tentu semua bagus, karena sudah berusaha membuat sendiri.” (Berhasil. . .berhasil kita sudah berhasil. Yesss !!)

Saya memegangi jari-jari mungil Farhan. Mungkin tangan ini memang seperti mesin yang tak bisa berhenti bergerak. Orang lain mungkin saja mengatakan bahwa ini adalah jari-jari yang jahil. Tapi menurutku, ini adalah jari-jari ISTIMEWA.

**Tangan-tangan Farhan tidak akan berhenti bekerja, sebelum kepalanya menghentikan lingkaran imajinasi yang berfrekuensi tinggi. Farhan selalu ingin membuat barang-barang yang bisa ia buat sendiri atau dengan sedikit bantuan. Bahkan ia berkata “Saya ingin membuat kaca mata sisir.” Biasanya. . . apa yang ia katakan, beberapa hari kemudian akan jadi sebuah benda dalam bentuk kongkret yang ia buat dengan bantuan Abi atau Uminya.

Januari 7, 2010 Posted by | Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

Menjadi Magnet

Apakah pernah, anda melihat magnet ? Entah, kekuatan macam apa, yang telah dikaruniakan Allah, padanya. Sehingga magnet, menjadi benda yang begitu ‘menarik’, bagi benda-benda lain, yang terbuat dari logam. Ada sih, magnet alam. Yang dari sononya, sudah memiliki kekuatan itu. Namun, ada juga magnet buatan. Benda-benda, yang memang mendapatkan stimulan, untuk dapat menjadi magnet.
Mencermati kekuatan magnet, sepertinya mengingatkan kita, pada beberapa individu, yang memiliki kekuatan yang sama. Yaitu, menjadi begitu menarik, bagi orang lain. Kadang-kadang menjadikan kita bertanya-tanya. Apa yang membuatnya bisa begitu menarik ? Kata-katanya ? Sifatnya ? Atau penampilannya ? Itu, bagi mereka yang sudah menjadi magnet, dari sononya. Bagaimana dengan kita ? Yang menarik, juga kagak. Apakah, seperti magnet buatan ? Menjadi orang yang menarik, mungkin memang perlu usaha, seperti halnya merubah logam biasa, menjadi magnet. Pasti perlu !

Begitu pula menjadi pendidik. Bagi kita, yang telah ‘nyebur’ kekolam pendidikan, dan menjadi atlet utama dikolam ini, yaitu, menjadi guru. Tak diragukan lagi, mau tidak mau, kita harus memiliki unsur-unsur tertentu, yang membuat kita bisa jadi magnet. Yang begitu menarik, sehingga, membuat yang ada di sekitarnya, menjadi demikian dekat dan lengket. Magnet, mungkin dapat menarik benda-benda logam, meskipun si magnet dalam keadaan diam. Namun, tidak demikian halnya, dengan pendidik. Pendidik akan menghadapi benda hidup, manusia. Yang harus disentuh perasaannya, dibangkitkan minatnya, dan dimotivasi geraknya. Ya. Murid-murid kita adalah manusia. Dan satu-satunya cara, untuk membuat mereka tertarik, adalah mengeluarkan seluruh potensi yang ada pada diri kita, sebagai manusia. Mau tidak ? Kalau jawaban anda ‘tidak mau’, maka segeralah keluar dari kolam ini. Karena kolam ini, hanya dapat di isi, oleh orang-orang yang mau mengerahkan setiap potensi, yang ada pada dirinya.

Sebaiknya anda sudah siap, untuk menerima ilmu ‘magnetis’ ini. Sebelum meneruskannya, terlebih dahulu, hiruplah udara sedalam-dalamnya, dalam sepuluh hitungan. Kemudian, tahan, dalam sepuluh hitungan. Dan, lepaskan, dalam lima hitungan. He he. Agak sesak, ya. Itu salah satu cara menjaga kesehatan anda, sebagai pendidik.

Oke ! Potensi pertama yang kita miliki, adalah, ruh.
Bayangkan. . , kita ingin mengenalkan kasih sayang, pada murid-murid kita. Tapi, ruh kasih sayang itu sendiri, belum kita miliki. Suatu kali, betapa kita ingin, menjadikan anak-anak kita disiplin. Namun, ruh disiplin, tidak terpatri secara benar, dalam diri kita. Dan hasilnya, saat kita bicara tentang kasih sayang, tanpa ruhnya. Apakah ada, murid yang mendengarkan. Yo, mbak yu. Sekedar mendengarkan saja, mereka sudah bersikap cuek. Tak akan pernah sampai, masa bagi mereka untuk mengamalkan, apa yang pernah kita bicarakan pada mereka. (Hei, anda telah melewati kata, pada) (???) Bingung, kan. Seorang pendidik, akan kehilangan kekuatan magnetisnya, jika merasa, dirinya paling tau. Dan, pendidik dengan tipe ini, tidak lagi memiliki ruh menghargai. Ruh menghargai, yang akan menimbulkan kekuatan magnetis pada diri kita, hanya akan terlihat dan terasa, jika kita tidak bicara ‘pada mereka’. Namun. ., bicaralah ‘dengan mereka’. Bagaimana kita, tidak sekedar berbicara,. Namun, mendiskusikannya dengan murid-murid. Sebenarnya, ini baru sekian persen, dari potensi ruh. Karena, ruh yang baik, akan mempengaruhi setiap kata kita menjadi ‘kaulan tsakiilaa’. Yang mampu mempengaruhi, siapapun yang mendengarkan. Karenanya, nyok, kite baikin ruh kite. Soalnye, untuk ngebagian cahaye, ke orang laen, seenggak-enggaknye, kite bise jadi lilin kecil, nyang siap ngebagiin cahaye buat dunie. Oke !

Akal, adalah potensi kedua, yang kita miliki.
Benda-benda dari logam, mungkin tidak akan pernah punya rasa bosan, terhadap si magnet. Tapi murid kita ? Tetaplah ingat selalu. Bahwa, mereka adalah manusia. Yang harus disentuh, perasaannya. Di bangkitkan minatnya. Dan Di motivasi, geraknya. Tentu saja, mereka punya rasa bosan. Trus ? Yok opo, rek ? Apa yang harus kita lakukan. . . Oh, jangan biarkan dia merasa bosan pada diri kita. . *simpuh mode on* Gunakan akal. Berfikirlah. Apa yang membuat mereka bosan ? Pernahkah terfikir, untuk membuat jendela rendah, pada ruang kelas kita? Agar anak-anak bisa memandang keluar, dengan leluasa. Apa yeng terbayang di benak kita ? Mungkin ini yang terbayang. . ., ‘oh, tidak, si Zidan manjat jendela. Maasya Allah ! beberapa anak memanggil tukang balon. Innalillahi, si Ical buang sampah lewat jendela. Aaaaaaaaaaaaaaaa, aku capek teriak-teriak, mereka cuma merhatiin jendela.’ Kacau banget. Namun, coba bayangkan. . ., ‘dari jendela rendah itu, anak-anak bisa melihat perbaikan jalan. Siapa saja yang mengerjakan . Alat apa saja yang digunakan. Bagaimana mengerjakannya. Bagaimana hasil akhirnya.’ Bukankah lebih tenang ? Kita tidak panik, dan anak-anak dapat ilmu baru. Setidaknya, berfikirlah untuk menggunakan jendela, bukan hanya berfungsi sebagai tempat sirkulasi udara. Tapi, jadikan jendela multifungsi.
Ha ? (kok bengong sih) belum nyambung, ya. Hei, kita bukan hanya bicara tentang jendela, lho. Tapi, semua benda, sarana dan prasarana, bekas atau baru, jadikan semuanya memiliki multifungsi. Intinya adalah kreatif, kreatif, kreatif (he he, cool banget nggak sih, gaya gue). Teroboslah sebanyak mungkin zona tidak nyaman (seperti, persepsi jendela rendah, diatas). Dulu, mungkin kita gunakan sepatu, untuk sekedar
alas kaki. Sepatu akan terlihat nyaman, kalau dia berada dikaki, atau dirak sepatu. Bagaimana, jika dia didalam kelas. Dalam keranjang cucian, digunakan untuk belajar berhitung, mencari pasangan, melempar sebagai pengganti bola, mengenal warna, belajar simpul, mengidentifikasi, mengenal pemilik, atau anda punya saran lain ? Gimana ? Apakah seorang pendidik, dengan fikiran seperti ini, akan membuat muridnya bosan ? Tidak! Anak akan senantiasa menunggu ide baru kita. Akal kita, akan membuat kekuatan magnetis yang luar biasa. Kata-kata, mungkin bisa saja membuat orang lain tertarik. Tapi, kreatifitas akan membuat kita jadi lebih menarik. So, kite musti maksain diri, buat mikirin nyang baru-baru. Soalnye, kite sendiri udeh bosen ame nyang lame-lame.

Pasti udah tau kan. Potensi kita yang ketiga ? Ya, benar. Potensi ketiga, adalah anggota tubuh. Gunakan wajah kita saat bercerita. Rubahlah mimik, bentuk bibir, gerak mata dan yang lainnya. Gunakan juga suara kita. Apakah suara Harimau, sama dengan suara Bebek ? Tidak, bukan. Gunakan juga gerak tubuh kita. Bagaimana gerakan seekor Rubah, yang sedang mengintai mangsanya, Jerapah, yang sedang menggapai daun, dipucuk pohon. Itu semua kan perlu gerakan. Jangan pernah ragu, untuk meng’eksploitasi’ tubuh, dalam rangka membuat mereka tertarik. Saat menjelaskan sesuatu, jangan hanya gunakan lisan saja. Namun, gunakan seluruh tubuh, untuk membahasakan isi dan menarik perhatian murid. Menarik bagi kita. Belum tentu menarik, buat anak murid. Jelas sekali, anak-anak akan merasa bosan dengan kegiatan ‘mendengar’. Setelah enam bulan mengajar, sudah berapa anak, yeng kehilangan ketertarikannya, pada cerita kita ? Amatilah. . .Jika kita masih terus menggunakan lisan untuk menjelaskan. Maka, kita pasti menemukan, semakin banyak anak, yang tidak mendengarkan. Dan kekuatan magnetis kita, semakin berkurang, dan tak berdaya. Jadi, nyok, kite ngegunain semue anggote tubuh kite, dengan sebaik-baiknye. Kagak ade lagi, nyang boleh bikin kite, jadi malu-malu bergerak, juge bersuare. Pokoknye, nyok kite nonton ondel-ondel.’ Ha ha ha.

Masih tidak bisa menjadi magnet ? Tetaplah berusaha. Karena, Allah tidak melihat hasil. Namun Allah senantiasa melihat apa saja yang kita kerjakan, untuk mencapai hasil tersebut. Bukankah kita berniat jadi magnet, agar bisa membawa murid-murid kita, pada cahaya cinta, dari islam. Dan contoh terbaik bagi seorang muslim, untuk menjadi magnet, adalah Rosululloh Muhammad. Beliaulah pemilik kekuatan magnetis, paling indah, sejagat raya. Bisa tidak, ya ?
Jawabannya : ‘INSYA ALLAH KITA BISA’

**Segenap kemampuan sudah semestinya, tercurah kedalam hari-hari itu. Karena, setiap hari, akan kita temui, ‘gelas-gelas kristal’ yang mungil. Yang sudah selayaknya diisi, dengan banyak kebaikan. Agar kelak, ‘gelas-gelas kristal’ itu, dapat mencurahkan isinya, bagi mereka yang dahaga, akan kebenaran.

SEO CONTEST… WIN AS A TEAM…

Kartu-Pulsaku.Com Solusi Bisnis Online Anda

Januari 4, 2010 Posted by | Tak Berkategori | 4 Komentar