Ini Jejak-Q

Hanya Satu Yang Akan Kita Tinggalkan… Ialah… JEJAK

Ayat Untuk Pemenang


هل أتى على الإنسان حين من الدهر لم يكن شيئا مذكورا. إنا خلقنا الإنسان من نطفة أمشاج نبتليه فجعلناه سميعا بصيرا.
1. Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang Dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? (QS 76:1)
2. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur[1535] yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan Dia mendengar dan melihat. (QS 76:2)

Hidup… satu hal, yang terlalu banyak nikmat di dalamnya. Jika kita masih menjelajahkan hati dengan penuh kesyukuran. Bukannya berkalang keluh dan resah tiada akhir. Bahwa hidup yang kita jalani saat ini. Adalah hasil kemenangan kita saat menuju ke alam rahim. Kemenangan yang memang telah di tetapkan Allaah bagi setiap diri, yang akhirnya berhasil menang kembali, untuk mencicipi alam dunia. Alam kenyataan. Yang dengan senang atau tidak. Maka telah, Allaah siapkan sebuah universitas kehidupan. Bagi siapapun, yang punya cita-cita ingin keluar dari alam dunia. Dan kembali… dalam keadaan… menang…

Seperti hal-nya menjadi seorang guru TK. Siapapun yang dengan sengaja melamar atau ditawarkan oleh teman. Yang akhirnya dia menerima pekerjaan menjadi guru TK. Dengan otomatis, dia mengerti bahkan mungkin telah diberi gambaran, bahwa menjadi guru TK, bukanlah hal yang akan selalu terasa menyenangkan. Demikian pula tempat kita ditakdirkan hidup oleh Allaah sebagai manusia, yang senantiasa kita sebut sebagai ‘dunia’ ini.

Diri ini… dirimu… diri kita semua… adalah kefanaan yang Allaah ciptakan. Namun, bukan berarti Pencipta Kefanaan adalah Dzat Yang lemah. Justru Allaah ingin menunjukkan kuasa-Nya. Dengan menciptakan kelemahan kita ini.

Pernah diri ini teman… terbelenggu pikir yang tak seharusnya. Merana… dan merasa menjadi seseorang yang paling tak berharga. Atas keterbatasan segala dalam keluarga. Merasa selalu kurang pada sisi diriku. Entahlah… kadang terbersit… Tak sayangkah Allaah padaku… (saat itu). Astaghfirullaah… Begitulah aku… dahulu. Ku tak rasa… akan ada cinta untukku… ku tak rasa… ada bahagia untukku… Tak kan sukses aku… Jauh berhasil, dariku… Terbayangkah… rasaku… waktu itu.

Than I found YOU… Allaah…

Ya… Dia, Allaah… aku menemukan-Nya… pada sebuah masa tanpa nama. Satu terang tanpa bosan. Di mana pelangi tak hanya tujuh warna. Karena bersama-Nya… ada cinta yang sungguh tak sederhana. Dari lingkaran-lingkaran persaudaraan… taman-taman ilmu… majelis-majelis kaji… Kutemukan satu demi satu puzzle kesadaran akan penciptaan diriku. Maka arena hidupku… menjadi jembatan penyambung rasa… pada satu muara cinta… Allaah…

Semakin aku yakin teman, bahwa kehidupan ini… punya tujuan. Tak dipijakkan Allaah, kaki-kaki kita ini di bumi, tanpa maksud. Ada misi tertentu yang mesti terlaksana. Sebelum semua berakhir dengan dengan ditutupnya waktu kita. Tak ingin… tentu tak ingin… setiap detik, menit, jam, hari, pekan, bulan, dan tahun kita… terlewat… dan tanpa makna. Bukankah kita… wajib untuk bermakna…?

Telah ada banyak kesempatan… yang memang coba kita gapai. Namun, belum juga kita sampai. Beberapa berhasil yang terlepas dari rencana dan cita. Sekian banyak mimpi yang masih menjadi dialog hati dan Sang Pembolak-baliknya. Namun, banyak orang berkata… kita belum sukses. Kita belum berhasil. Kita belum kaya. Kita belum memiliki pasangan. Kita belum ini… kita belum itu. Mungkin… ‘belum’ itu… masih dibelenggu oleh satu hal… kesiapan diri… Tak semua kita akan siap menjadi kaya. Tak semua kita, akan siap menjadi berhasil. Tak semua kita, akan siap memiliki keluarga. Hanya ingin memantik hati… Mari… menyiapkan… untuk sebuah kemuliaan.

Manusia yang terlahir ke bumi. Bukanlah sebuah produk gagal… Karena ia pernah menang… di alam sebelum menempati rahim ibunda. Maka, manusia yang telah melewati masa-masa itu (kemenangan sebelum alam rahim)… adalah orang-orang yang sudah seharusnya berhasil. Selama dia mengetahui… menyadari… memahami… dan termotivasi… oleh kemenangan yang pernah ia raih… kemenangan menjadi manusia. Subhaanallaah… Maka BeKERJAlah.. dan rizki akan datang. BerUSAHAlah.. niscaya berhasil.. BerSUNGGUH-SUNGGUHlah.. Tentu akan sukses. BerDO’Alah.. dan akan dimudahkan.. BerTAWAKAL-lah.. Itulah KEMENANGAN rasa… serta… KELUASAN jiwa… ~ Berlelah-lelah-lah teman… dan akan… TERBAYAR… dengan yg pantas… (Salam PERJUANGAN, untuk semua calon PEMENANG)

*Senyum*

Iklan

Februari 28, 2010 Posted by | 1 | Tinggalkan komentar

Rindu Nabi


Merenung lagi

Dalam sediam kalam

Mengenai butir kehidupanmu

Terpahat jelas pada prasasti bersejarah

Ketika kau runtuhkan dengan perlahan

Budaya sekutu Tuhan

Bagaimana kebersihan hati

Menyentuh jelaga jiwa

Hingga ia menyerah pada putih yang kau bawa

Kebeningan lisan

Mengguyur angkara pada titik termurka

Sampai keji… hilang tak berbekas

Meski ratusan sastra mengukir hidup lakonanmu

Tak sejelas Qur’an mengukir keajaiban kemanusiaanmu

Hingga memagnet terhadap semesta

Bertasbihlah raya

Bertahmidlah mayapada

Bertakbirlah bumi dan penghuni

Langit serta penghiasnya

Bershalawatlah setiap ruh pengagummu

Bulan pun kalah hangat

Bintang terasa redup di sisimu

Pelangi tak sanggup kalahkan warna pesonamu

Duhai cahaya bagi gulita kami

Seringnya kami mengumbar rindu dalam kata

Namun lihatlah kami yang terpuruk pada cinta tanpa bukti

Tak sanggup bayangkan

Bila rindu ini tersampaikan

Jika… kau dihadir di sini…

Mengetuk pintu rumah kami

Malu… Pasti…

Tergopoh menyembunyikan laku asli

Menutupi setiap dinding diri

Yang bertuliskan ‘lalai sunnah’ atau ‘ingkar’..?? (Hiks)

Maluuuuu… Pasti…

Masih mencoba membohongimu, demi tetapkan sayangmu

Menutupi keluarga kami

Yang terjebak kejahilan akhir zaman

Yaa Nabiii…

Dengan apa kusembunyikan wajah

Sedang baja pun kau tembus dengan bashirah

Yaa Nabiii…

Dengan apa kuhilangan bau hidupku

Sedang kau mampu bertanya pada Rabb-ku

Tentang siapa diriku

Yaa Nabiii…

Sedang kuingat episode akhir duniamu

Maka tersedu dalam bisu

Mencoba memaknai cinta di sakaratul mautmu

“Ummatii… Ummatii… Ummatii.”

Layakkah diri ini… Yaa Nabiii

Akukah yang kau sebut..??

Barisankukah yang kau cinta..??

Sedangkan kau tak pilih rasa pada setiap titik jiwa

Yaa Nabiii…

Titik ledak kebahagiaan kami

Adalah bahagia di latar surga

Dengan kau sebagai teman perjalanan di taman-tamannya

Yaa Nabiii…

Tak lelah hati ingin jumpa

Menembus hijab masa

Dan dengarkan merdu kebijaksanaanmu

Mencuri waktu tuk tatapmu… sejenak

Tak bosan pula

Menderaskan asa

Tuk jadi hamba… pengikut yang patut

Umat… yang bergelora taat

Dan kekasih yang hanya menyebut satu nama kekasihnya

Yaa Nabiii…

Inginnya… kami setia

Hingga syafa’at adalah piala

Dan surga adalah kehidupan kami selanjutnya

Shalluu ‘alannabii…

Padamu Rasuulullaah Muhammad SAW

Dariku… Setitik kefanaan

Yang dalam kerinduan

Februari 25, 2010 Posted by | 1 | Tinggalkan komentar

Burung Paling Hebat


Dua anak burung sedang bertengger di dahan pohon. Mereka adalah Qori kutilang dan Aswad si beo. Mereka saling menceritakan tentang ibu mereka. Membanggakan kehebatan ibunya kepada yang lain.

“Aswad, kamu pernah lihat ibuku tidak ?” Tanya Qori.

“Iya, sudah pernah” Jawab Aswad. “Memangnya kenapa sih ?” Tanya Aswad.

“Ibuku adalah burung paling cantik. Kamu pasti sudah melihat warna bulunya. Indah kan?” Qori menggetarkan seluruh tubuhnya. Tentu saja karena Qori bangga sekali terhadap ibunya.

“Ooo, karena itu.” Aswad menganggukkan kepalanya. “Tapi, masih lebih hebat lagi ibuku. Ibuku, bulunya hitam mengkilat. Dan, yang lebih hebat lagi. Ibuku sangat pandai mengucapkan banyak bahasa manusia.” Kata Aswad. “Suatu hari nanti, aku juga akan seperti ibuku lho.”

Saat Qori dan Aswad, sedang asik menyebutkan kehebatan ibu mereka. Tiba-tiba, terdengar sebuah suara. “Ku ku…ku ku. Masih ada burung yang lebih hebat.” Ternyata suara itu, milik seekor burung hantu tua, bernama Oldi. Oldi tinggal di sebuah lubang, di pohon tersebut. Qori dan Aswad, menghampiri lubang tempat Oldi tinggal.

“Memangnya, ada burung yang bulunya lebih indah dari bulu ibuku, pak Oldi?” Tanya Qori.

“Iya pak Oldi. Apakah ada, burung lain yang bisa berbicara seperti ibuku.” Aswad ikut penasaran.

“Ha ha ha ha. “ Pak Oldi tertawa. Tawanya sampai membuat tubuh gempal yang dibalut bulu yang mulai kusam itu, berguncang.

“Iiih, pak Oldi. Ditanya kok malah tertawa. Memangnya, burung apa sih pak Oldi, yang lebih hebat dari ibu kami.” Kata Aswad.

“Qori dan Aswad, mau tidak mendengar sebuah kisah tentang burung paling hebat?” Tanya pak Oldi.

“Mau mau, pak Oldi. Ayo ceritakan.” Sambut Aswad dan Qori, bersemangat. Mereka ingin sekali mengetahui, burung apa sih, yang lebih hebat dari ibu mereka.

“Baiklah…” Kata pak Oldi.

Pak Oldi mulai bercerita.

Beberapa tahun yang lalu, hidup seekor burung.. Namanya Cilika. Selain bertubuh kecil, Cilika berkepala botak. Kepalanya, memang tidak ditumbuhi bulu. Dan, itu membuat Cilika dijauhi oleh burung-burung lain. Mereka selalu mengejek dan menertawakan kepala Cilika yang botak. “Kepala botak. Kepala botak.” Demikian mereka mengejek Cilika. Cilika sangat sedih dengan sikap teman-temannya. Karena malu, diejek, kemana-mana Cilika selalu sendirian. Bermain, terbang dan mencari makan. Selalu sendiri.

Suatu hari, Cilika sedang mencari makan. Sudah beberapa jam ia berkeliling mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk mengisi perutnya. Namun, dia belum juga mendapatkan makanan. Sedangkan perutnya sudah mulai sakit, karena sejak pagi belum diisi.

“Eh, apa itu ?” Cilika melihat sesuatu yang bergerak-gerak, di bawah sebuah batu. Wah, itu seekor cacing. Cacing itu pasti sangat lezat. Pikir Cilika. Cilika mendekati cacing tersebut. Saat ia sudah dekat, Cilika melihat cacing itu menggeliat kesakitan.

“Aduh, tolong aku. Tolong singkirkan batu ini dari tubuhku.” Cacing itu meringis.

“Bagaimana batu itu bisa menimpamu? Tanya Cilika. Ia merasa kasihan pada cacing kecil itu.

“Tadi, ada manusia yang melewati jalan ini. Kakinya menendang batu, yang kemudian menimpaku.” Kata si cacing.

Cilika memandangi cacing itu. Akhirnya, ia membantu cacing tersebut melepaskan diri, dengan menyingkirkan batu yang berada di atas tubuhnya.

“Terima kasih, burung yang baik. Aku tidak akan melupakan kebaikanmu.” Cacing itu bergegas pergi, meninggalkan Cilika yang masih kelaparan.

Cilika merapatkan sayapnya, untuk menekan perutnya yang sangat lapar. Ah, aku pergi ke kebun jagung, milik pak tani saja. Biasanya, di sana banyak biji jagung yang berjatuhan. Cilika pun, segera mengepak sayapnya, menuju ke kebun pak tani.

Sesampainya di kebun pak tani, Cilika merasa kecewa. Ternyata, kebun jagung pak tani, baru saja dipanen. Dan, beberapa ekor burung lain, telah menghabiskan biji-biji jagung yang berjatuhan. Cilika kembali terbang. Ia mempertajam penglihatannya. Walaupun, kepala dan perutnya terasa sakit sekali. Kemudian tampak olehnya, sebuah kolam kecil. Yang di dalamnya, tengah berenang, beberapa ekor ikan. Cilika memandangi calon makanannya dari udara. Ia menukik ke bawah dengan cepat. Hap! Seekor ikan, telah berhasil ditangkap olehnya. Namun…

“Burung yang baik, tolong jangan makan aku. Aku masih punya anak-anak, yang harus aku besarkan. Bagaimana nasib mereka, jika kau memakanku?” Kata ikan tersebut sambil menangis.

Karena kasihan, akhirnya Cilika melepaskan ikan itu, kembali ke kolam. Ikan itu berkata, “Terima kasih burung yang baik, aku akan membalas kebaikanmu.” Dan ikan kecil itu, berenang masuk ke dalam air.

Cilika masih kelaparan. Ia terlihat lelah. Dan sudah tidak memiliki tenaga untuk kembali terbang. Ia mencoba tidur di sebuah dahan pohon. Karena hembusan angin yang sepoi-sepoi, Cilika pun tertidur. Dalam tidurnya, Cilika bermimpi. Ia berada di sebuah lapangan luas, yang dipenuhi makanan. Dalam mimpinya, Cilika makan dengan lahap. Sedang sibuk Cilika menghabiskan makanannya. Tiba-tiba, terdengar suara keras. “Tolong. Tolong.” Cilika kaget. Terbangun dari tidur dan mimpinya. “Suara siapa itu.” Pikir Cilika. “Tolong. Tolong.” Cilika segera terbang, mencari asal suara itu. Setelah beberapa saat mencari. Cilika melihat, seekor merak yang sedang meronta, di dekat sebuah pohon. Ternyata, bulunya yang panjang tersangkut di sebuah dahan rendah. “Tolong aku.” Katanya memelas. “Tenang. Aku akan menolongmu. Jangan bergerak.” Kata Cilika. Cilika melepaskan bulu itu, dengan menggunakan paruhnya. Akhirnya, merak itu pun bebas. “Terima kasih burung yang baik.” Dan merak itu pun pergi. Tapi, Cilika kembali merasakan kelaparan.

Cilika memutuskan untuk pulang. Sesampainya di rumah. Cilika melihat banyak binatang, berkumpul di depan rumahnya. Ada apa ya? Saat Cilika mendarat. Seekor binatang berseru. “Hei, itu Cilika.” Semua binatang yang hadir berpaling. Dan saat melihat Cilika, mereka membuat suara-suara yang ramai sekali. Ada yang menghentakkkan kaki mereka. Sebagian mengeluarkan suara-suara yang indah. Cilika semakin heran. Dalam keramaian itu, Cilika melihat cacing kecil, yang tadi ditolongnya. Juga ada si merak cantik. Para binatang masih bersuara ramai, hingga datanglah Lio, sang raja hutan. Semua binatang hening, menyambut kedatangan raja hutan yang perkasa itu. Lio menuju sebuah batu besar. Dan berdiri di atasnya. Memandangi rakyatnya yang berkumpul. “Kalian tahu, mengapa kita berkumpul di sini?” Tanya sang raja. Para binatang mengangguk. “Aku mendengar banyak cerita. Tentang seekor burung kecil, yang suka menolong. Tapi, aku ingin, kalian mendengarnya sendiri dari mereka yang mengalaminya. “Siapa yang mau menceritakannya lebih dulu?” Lio melipat dua kaki belakangnya, untuk duduk.

Nilo, sang kuda nil, menceritakan bagaimana seekor burung kecil, pernah membantunya menghilangkan rasa gatal di badannya yang besar, dengan mematukkan paruhnya. Di lain waktu, saat Ula si ular sakit gigi, seekor burung kecil, membawakannya obat yang manjur dari hutan. Jaja si gajah, pernah kehilangan kacang kesukaannya. Dan seekor burung kecil, telah membantu untuk menemukannya. Tidak ketinggalan untuk bercerita. Cacing kecil yang di Bantu untuk melepaskan diri dari sebuah batu yang menimpanya. Juga merak cantik yang bulunya tersangkut di dahan rendah. Dan banyak lagi cerita lain. Yang membuat warga burung bangga. Tapi, mereka belum tahu, siapa burung kecil yang hebat itu. Lio kembali berdiri tegak. “Warga burung. Apakah kalian tahu, siapa burung kecil itu?” Sebagian besar warga burung menggeleng. Mereka saling memandang. “Burung kecil yang hebat itu adalah, Cilika.” Kata Lio berwibawa. Semua binatang kembali mengeluarkan suara yang ramai. Para burung pun, tidak ketinggalan. Banyak burung, yang dulu sering mengejek Cilika, juga ikut bergembira dan bangga. “Untuk itu,warga hutan akan memberikan hadiah buat Cilika.” Lio berkata lagi. Tiga ekor monyet, membawa biji-bijian yang di letakkan pada wadah-wadah dari batok kelapa. Wadah-wadah itu di letakkan di hadapan Cilika. Suasana kembali ramai. Cilika pun berbicara. “Terima kasih untuk semuanya. Juga kepada raja Lio. Tapi, saya tidak bisa memakan semua ini sendirian. Perut saya bisa sakit.” Kata Cilika. “Kamu bisa menyimpannya kan?” Kata raja Lio. “Tidak raja Lio. Aku akan mengajak semua burung untuk menghabiskannya hari ini. Ayo teman-teman, kita habiskan biji-bijian ini.” Ajak Cilika. Seketika, semua burung mengerumuni wadah-wadah tempat bijian tersebut. “Cilika kau memang burung kecil yang hebat.” Kata raja Lio.

“Sejak saat itu, tidak ada lagi, burung yang mengejek Cilika. Semua merasa bangga berteman dengan Cilika, si burung hebat.” Pak Oldi mengakhiri ceritanya.

“Wah, Cilika biar kecil suka menolong ya.” Kata Aswad.

“Iya. Walaupun pernah diejek. Cilika memaafkan teman-temannya.” Qori menimpali.

“Begitulah Aswad, Qori. Kita bisa di sebut hebat, karena kebaikan hati kita. Bukan karena bulu dan kemampuan kita untuk terbang tinggi. Kalian mau kan, menjadi burung hebat seperti Cilika?” Tanya Oldi.

“Mau pak Oldi. Mau.” Sekarang, Aswad dan Qori bertekad untuk menjadi burung yang suka menolong binatang lain yang mengalami kesulitan.

Niat yang baik ya. Siapa lagi, yang mau jadi hebat ?

Februari 21, 2010 Posted by | 1 | Tinggalkan komentar

Burung Paling Hebat

Dua anak burung sedang bertengger di dahan pohon. Mereka adalah Qori kutilang dan Aswad si beo. Mereka saling menceritakan tentang ibu mereka. Membanggakan kehebatan ibunya kepada yang lain.

“Aswad, kamu pernah lihat ibuku tidak ?” Tanya Qori.

“Iya, sudah pernah” Jawab Aswad. “Memangnya kenapa sih ?” Tanya Aswad.

“Ibuku adalah burung paling cantik. Kamu pasti sudah melihat warna bulunya. Indah kan?” Qori menggetarkan seluruh tubuhnya. Tentu saja karena Qori bangga sekali terhadap ibunya.

“Ooo, karena itu.” Aswad menganggukkan kepalanya. “Tapi, masih lebih hebat lagi ibuku. Ibuku, bulunya hitam mengkilat. Dan, yang lebih hebat lagi. Ibuku sangat pandai mengucapkan banyak bahasa manusia.” Kata Aswad. “Suatu hari nanti, aku juga akan seperti ibuku lho.”

Saat Qori dan Aswad, sedang asik menyebutkan kehebatan ibu mereka. Tiba-tiba, terdengar sebuah suara. “Ku ku…ku ku. Masih ada burung yang lebih hebat.” Ternyata suara itu, milik seekor burung hantu tua, bernama Oldi. Oldi tinggal di sebuah lubang, di pohon tersebut. Qori dan Aswad, menghampiri lubang tempat Oldi tinggal.

“Memangnya, ada burung yang bulunya lebih indah dari bulu ibuku, pak Oldi?” Tanya Qori.

“Iya pak Oldi. Apakah ada, burung lain yang bisa berbicara seperti ibuku.” Aswad ikut penasaran.

“Ha ha ha ha. “ Pak Oldi tertawa. Tawanya sampai membuat tubuh gempal yang dibalut bulu yang mulai kusam itu, berguncang.

“Iiih, pak Oldi. Ditanya kok malah tertawa. Memangnya, burung apa sih pak Oldi, yang lebih hebat dari ibu kami.” Kata Aswad.

“Qori dan Aswad, mau tidak mendengar sebuah kisah tentang burung paling hebat?” Tanya pak Oldi.

“Mau mau, pak Oldi. Ayo ceritakan.” Sambut Aswad dan Qori, bersemangat. Mereka ingin sekali mengetahui, burung apa sih, yang lebih hebat dari ibu mereka.

“Baiklah…” Kata pak Oldi.

Pak Oldi mulai bercerita.

Beberapa tahun yang lalu, hidup seekor burung.. Namanya Cilika. Selain bertubuh kecil, Cilika berkepala botak. Kepalanya, memang tidak ditumbuhi bulu. Dan, itu membuat Cilika dijauhi oleh burung-burung lain. Mereka selalu mengejek dan menertawakan kepala Cilika yang botak. “Kepala botak. Kepala botak.” Demikian mereka mengejek Cilika. Cilika sangat sedih dengan sikap teman-temannya. Karena malu, diejek, kemana-mana Cilika selalu sendirian. Bermain, terbang dan mencari makan. Selalu sendiri.

Suatu hari, Cilika sedang mencari makan. Sudah beberapa jam ia berkeliling mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk mengisi perutnya. Namun, dia belum juga mendapatkan makanan. Sedangkan perutnya sudah mulai sakit, karena sejak pagi belum diisi.

“Eh, apa itu ?” Cilika melihat sesuatu yang bergerak-gerak, di bawah sebuah batu. Wah, itu seekor cacing. Cacing itu pasti sangat lezat. Pikir Cilika. Cilika mendekati cacing tersebut. Saat ia sudah dekat, Cilika melihat cacing itu menggeliat kesakitan.

“Aduh, tolong aku. Tolong singkirkan batu ini dari tubuhku.” Cacing itu meringis.

“Bagaimana batu itu bisa menimpamu? Tanya Cilika. Ia merasa kasihan pada cacing kecil itu.

“Tadi, ada manusia yang melewati jalan ini. Kakinya menendang batu, yang kemudian menimpaku.” Kata si cacing.

Cilika memandangi cacing itu. Akhirnya, ia membantu cacing tersebut melepaskan diri, dengan menyingkirkan batu yang berada di atas tubuhnya.

“Terima kasih, burung yang baik. Aku tidak akan melupakan kebaikanmu.” Cacing itu bergegas pergi, meninggalkan Cilika yang masih kelaparan.

Cilika merapatkan sayapnya, untuk menekan perutnya yang sangat lapar. Ah, aku pergi ke kebun jagung, milik pak tani saja. Biasanya, di sana banyak biji jagung yang berjatuhan. Cilika pun, segera mengepak sayapnya, menuju ke kebun pak tani.

Sesampainya di kebun pak tani, Cilika merasa kecewa. Ternyata, kebun jagung pak tani, baru saja dipanen. Dan, beberapa ekor burung lain, telah menghabiskan biji-biji jagung yang berjatuhan. Cilika kembali terbang. Ia mempertajam penglihatannya. Walaupun, kepala dan perutnya terasa sakit sekali. Kemudian tampak olehnya, sebuah kolam kecil. Yang di dalamnya, tengah berenang, beberapa ekor ikan. Cilika memandangi calon makanannya dari udara. Ia menukik ke bawah dengan cepat. Hap! Seekor ikan, telah berhasil ditangkap olehnya. Namun…

“Burung yang baik, tolong jangan makan aku. Aku masih punya anak-anak, yang harus aku besarkan. Bagaimana nasib mereka, jika kau memakanku?” Kata ikan tersebut sambil menangis.

Karena kasihan, akhirnya Cilika melepaskan ikan itu, kembali ke kolam. Ikan itu berkata, “Terima kasih burung yang baik, aku akan membalas kebaikanmu.” Dan ikan kecil itu, berenang masuk ke dalam air.

Cilika masih kelaparan. Ia terlihat lelah. Dan sudah tidak memiliki tenaga untuk kembali terbang. Ia mencoba tidur di sebuah dahan pohon. Karena hembusan angin yang sepoi-sepoi, Cilika pun tertidur. Dalam tidurnya, Cilika bermimpi. Ia berada di sebuah lapangan luas, yang dipenuhi makanan. Dalam mimpinya, Cilika makan dengan lahap. Sedang sibuk Cilika menghabiskan makanannya. Tiba-tiba, terdengar suara keras. “Tolong. Tolong.” Cilika kaget. Terbangun dari tidur dan mimpinya. “Suara siapa itu.” Pikir Cilika. “Tolong. Tolong.” Cilika segera terbang, mencari asal suara itu. Setelah beberapa saat mencari. Cilika melihat, seekor merak yang sedang meronta, di dekat sebuah pohon. Ternyata, bulunya yang panjang tersangkut di sebuah dahan rendah. “Tolong aku.” Katanya memelas. “Tenang. Aku akan menolongmu. Jangan bergerak.” Kata Cilika. Cilika melepaskan bulu itu, dengan menggunakan paruhnya. Akhirnya, merak itu pun bebas. “Terima kasih burung yang baik.” Dan merak itu pun pergi. Tapi, Cilika kembali merasakan kelaparan.

Cilika memutuskan untuk pulang. Sesampainya di rumah. Cilika melihat banyak binatang, berkumpul di depan rumahnya. Ada apa ya? Saat Cilika mendarat. Seekor binatang berseru. “Hei, itu Cilika.” Semua binatang yang hadir berpaling. Dan saat melihat Cilika, mereka membuat suara-suara yang ramai sekali. Ada yang menghentakkkan kaki mereka. Sebagian mengeluarkan suara-suara yang indah. Cilika semakin heran. Dalam keramaian itu, Cilika melihat cacing kecil, yang tadi ditolongnya. Juga ada si merak cantik. Para binatang masih bersuara ramai, hingga datanglah Lio, sang raja hutan. Semua binatang hening, menyambut kedatangan raja hutan yang perkasa itu. Lio menuju sebuah batu besar. Dan berdiri di atasnya. Memandangi rakyatnya yang berkumpul. “Kalian tahu, mengapa kita berkumpul di sini?” Tanya sang raja. Para binatang mengangguk. “Aku mendengar banyak cerita. Tentang seekor burung kecil, yang suka menolong. Tapi, aku ingin, kalian mendengarnya sendiri dari mereka yang mengalaminya. “Siapa yang mau menceritakannya lebih dulu?” Lio melipat dua kaki belakangnya, untuk duduk.

Nilo, sang kuda nil, menceritakan bagaimana seekor burung kecil, pernah membantunya menghilangkan rasa gatal di badannya yang besar, dengan mematukkan paruhnya. Di lain waktu, saat Ula si ular sakit gigi, seekor burung kecil, membawakannya obat yang manjur dari hutan. Jaja si gajah, pernah kehilangan kacang kesukaannya. Dan seekor burung kecil, telah membantu untuk menemukannya. Tidak ketinggalan untuk bercerita. Cacing kecil yang di Bantu untuk melepaskan diri dari sebuah batu yang menimpanya. Juga merak cantik yang bulunya tersangkut di dahan rendah. Dan banyak lagi cerita lain. Yang membuat warga burung bangga. Tapi, mereka belum tahu, siapa burung kecil yang hebat itu. Lio kembali berdiri tegak. “Warga burung. Apakah kalian tahu, siapa burung kecil itu?” Sebagian besar warga burung menggeleng. Mereka saling memandang. “Burung kecil yang hebat itu adalah, Cilika.” Kata Lio berwibawa. Semua binatang kembali mengeluarkan suara yang ramai. Para burung pun, tidak ketinggalan. Banyak burung, yang dulu sering mengejek Cilika, juga ikut bergembira dan bangga. “Untuk itu,warga hutan akan memberikan hadiah buat Cilika.” Lio berkata lagi. Tiga ekor monyet, membawa biji-bijian yang di letakkan pada wadah-wadah dari batok kelapa. Wadah-wadah itu di letakkan di hadapan Cilika. Suasana kembali ramai. Cilika pun berbicara. “Terima kasih untuk semuanya. Juga kepada raja Lio. Tapi, saya tidak bisa memakan semua ini sendirian. Perut saya bisa sakit.” Kata Cilika. “Kamu bisa menyimpannya kan?” Kata raja Lio. “Tidak raja Lio. Aku akan mengajak semua burung untuk menghabiskannya hari ini. Ayo teman-teman, kita habiskan biji-bijian ini.” Ajak Cilika. Seketika, semua burung mengerumuni wadah-wadah tempat bijian tersebut. “Cilika kau memang burung kecil yang hebat.” Kata raja Lio.

“Sejak saat itu, tidak ada lagi, burung yang mengejek Cilika. Semua merasa bangga berteman dengan Cilika, si burung hebat.” Pak Oldi mengakhiri ceritanya.

“Wah, Cilika biar kecil suka menolong ya.” Kata Aswad.

“Iya. Walaupun pernah diejek. Cilika memaafkan teman-temannya.” Qori menimpali.

“Begitulah Aswad, Qori. Kita bisa di sebut hebat, karena kebaikan hati kita. Bukan karena bulu dan kemampuan kita untuk terbang tinggi. Kalian mau kan, menjadi burung hebat seperti Cilika?” Tanya Oldi.

“Mau pak Oldi. Mau.” Sekarang, Aswad dan Qori bertekad untuk menjadi burung yang suka menolong binatang lain yang mengalami kesulitan.

Niat yang baik ya. Siapa lagi, yang mau jadi hebat ?

Februari 21, 2010 Posted by | 1 | 7 Komentar

Esensi dan Makna

Semakin memperhatikan iklan. Maka, makin banyak wanita di sana. Bahkan. Hampir tak ada iklan… tanpa keindahan senyum sang wanita. Hampir tak ada iklan… tanpa cantik wajah wanita. Tak ada iklan… tanpa tubuh wanita. Tereksploitasi ? Atau mengeksploitasi diri ? Entahlah… Gerimis… miris… Kaumku terjebak ? Atau sengaja terlena di dalam jebakan ? Sekali lagi… entahlah.

Yang kembali menjadi perhatian pada setiap iklan. Terutama… iklan kosmetik. Adalah gencarnya mengkampanyekan kecantikan lahir. Bagaimana kulit yang putih… adalah lebih disukai oleh pria. Menyajikan cara-cara cepat menjadi putih. Seakan-akan kulit putih adalah segala-galanya bagi wanita. Tak kan dipandang seorang wanita, tanpa putih kulitnya. Itulah yang digambarkan oleh iklan pemutih kulit. Bahkan, sebuah jingle memiliki syair yang cukup provokatif buat wanita yang sangat peduli dengan hal lahir. “Wajahmu, mengalihkan duniaku.” What a words !! Hanya sekedar wajah putih. Akan membuat seorang pria teralihkan pandangannya dari dunia ? Hmm… semoga tidak mengalihkannya juga dari akhiratnya. Na’udzubillaah.

Diiklan lain, getol membicarakan keindahan rambut. Mahkota bagi wanita. Yang seharusnya terjaga. Terjaga dari segala bentuk kuman dunia. Termasuk pandangan pria-pria berpikiran hina. Seperti halnya pemutih kulit, iklan ini pula, menyampaikan hal yang benar-benar menarik. Jika tak berambut indah, lurus, halus, hitam maka bersiaplah untuk tak menjadi pilihan seorang pria. Hohoho… Bayangkan, pada sebuah iklan… seorang pria yang tersentuh oleh rambut wanita, bisa hampir pingsan. Terlena… Lebay… hehe. Sebuah nilai yang dibangun demi sebuah kepentingan bernama… keuntungan.

Namun, bukan itu saja. Nilai ini, bergeser dari tiga hal lain yang juga penting. Keluarga… Harta… Agama… Yang penting sekarang adalah… Jika ingin dipilih… maka wanita itu mesti berwajah cantik. Ia harus berkulit putih. Dan ia wajib berambut hitam mengkilap. Hmm… Jika sebuah nilai mengenai wanita, sudah bergeser setimpang ini. Dimana tak ada lagi wanita yang dipandang kecerdasannya. Tak usah dipedulikan kekuatan spiritual keagamaannya. Dan tak perlu lagi diteliti keluarganya. Mungkin, pria tak perlu memilih seorang wanita… tapi… pilihlah boneka Barbie. Rambut memang tak hitam. Namun, rambut Barbie indah lho. Kulit Barbie… dijamin putih… tih… tih… hehe. Ada lagi. Tak perlu mencari siapa keluarga Barbie. 🙂

Ups… bukan itu inti dari tulisan ini. Bukan berpesan kepada pria manapun. Namun, membagi pikirku dengan setiap wanita manapun. Yang dengan cintaku ingin kupeluk dengan segenap rindu. Dan kusampaikan padanya kata-kata ini…

“Bahwa kaulah keindahan. Yang diletakkan Allaah pada pelataran bumi. Kau diciptakan demi sebuah ketenangan jiwa bagi seorang pria. Bukan dengan kulit nan lembut. Bukan dengan putihnya ia. Bukan dengan sehelai rambut nan mempesona. Kau adalah mutiara kedamaian. Yang seharusnya tersimpan rapi dicangkang kerang kesederhaan. Kau tertutup dari pandangan kehinaan. Kau terhindar dari duri-duri cela. Kau adalah bunga kecemerlangan. Yang wangi karena karyamu. Yang menarik karena mahkota lakumu. Yang makin indah karena setiap kebaikan yang kau tampakkan di benang sarimu. Kau tercipta bukan untuk ditatap mata… hingga yang ada padamu… hanya BENTUK dan WARNA… Kau mestinya terukur oleh hati… agar yang eksis pada diri… adalah ESENSI… sisi MAKNAWI.”

Oke Cantiiiiik… ^_^

Februari 18, 2010 Posted by | 1 | 6 Komentar

Keluargaku atau Dakwahku..?

KASUS 1

Sebelum teman saya menikah, dia pernah berkata. “Biar saya sudah menemukan pasangan hidup nanti, saya masih mau kerja begini.” Saat itu, kami sedang menuju kesebuah acara baksos. Kata-kata itu, membuat saya mengaguminya. Hingga tujuh bulan kemudian, teman saya tersebut melangsungkan pernikahannya. Tiga bulan pertama, semua masih berjalan seperti biasa. Namun, dibulan selanjutnya, teman saya tersebut mengalami kesulitan untuk sedikit bersantai di tempat kerjanya. Karena, setiap kali selesai jam kerja, sang suami langsung menghubunginya lewat telepon. Padahal biasanya, kami masih harus membicarakan kerja-kerja dakwah yang sangat padat. Semakin diperhatikan, suaminya terus melakukan hal-hal yang semakin menarik perhatian. Entah bercanda, atau apalah. Yang pasti itu cukup mengganggu. Setahun kemudian, setelah pernikahannya, dan memiliki seorang anak. Teman tersebut berhenti bekerja. Dengan alasan ingin fokus untuk mendidik anak.

KASUS 2

Seorang saudara seiman, pernah membuat teman-temannya begitu kagum dengan aktifitasnya. Karena dia membina banyak kelompok pengajian. Dia juga sangat perhatian pada keluarganya. Dan saya juga mengagumi. Tentu saja, seorang aktivis sepertinya memang jarang ditemui. Hingga akhirnya beberapa bulan yang lalu, saudara kami itupun menikah. . Mempersunting seorang akhwat pilihannya. Dan sejak saat itu, saya jarang menemukannya dalam aktivitas dakwah, yang biasa kami geluti bersama. Yang sangat disayangkan adalah banyak diantara kami yang begitu mengaguminya. Sehingga kami selalu menghibur diri dengan kalimat, “Lagi sibuk kali.”, “Mungkin lagi sakit.” Atau :BIarlah, kan masih pengantin baru.”

KASUS 3

Sebelum pernikahannya, seorang sahabat, pecinta pendidikan, telah melakukan perjanjian pranikah dengan calon suaminya. Bahwa suaminya tidak boleh melarangnya untuk terus melakukan kegiatan pendidikan. Saat ini, ia sudah memiliki dua orang anak. Dan berhasil mengelola sebuah lembaga pendidikan bermutu di sebuah kota. Namun, sekarang sahabat tersebut hanya melakukan aktivitas di rumah saja. Suaminya mengharapkan dirinya untuk lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama anak-anak, bersama keluarganya. Seorang teman yang pernah yang pernah menghubunginya, menceritakan, bagaimana kesedihan sahabat saya tersebut.

Rasanya tidak ada seorang pun, yang bisa disalahkan dalam ketiga kasus di atas. Bisa jadi keluargalah yang mengharapkan setiap anggotanya untuk lebih sering berada di rumah. Atau diri kitalah, yang enggan untuk meninggalkan keluarga. Sebagai seorang yang belum menikah, mungkin saya tidak berkompeten untuk mengungkapkan hal seperti ini.

Namun, tiga kasus di atas, sering membawa pikiran pada perenungan yang sangat panjang. Bahkan tidak jarang, saya memiliki kekhawatiran terhadap masa depan. Bagaimana nasib saya saat menikah ? Bagaimana pasangan saya nanti ? Apakah ia akan membebaskan saya untuk melakukan aktifitas dakwah ? Atau, ia menginginkan saya untuk berjihad di dalam rumah saja ? Sebuah kekhawatiran yang patut tertanam. Jika kita masih mau melakukan dakwah tanpa batas. Namun, tetap proporsional.

Saya tidak ingat secara tepat, dari mana sumbernya. Namun, saya pernah mendengar ungkapan, “Keluarga akan membawamu untuk mengingat dunia.” Bisa jadi pernyataan tersebut, terbukti dengan kasus di atas. Bisa dikatakan, kita sering menjadikan keluarga atau pasangan kitasebagai alasan untuk mengurangi aktifitas dakwah luar rumah. Apalagi, dakwah saat ini menuntut perhatian khusus, kemasan istimewa, menghabiskan banyak waktu dan terganjal oleh ghazwul fikri yang merajalela. Bisa jadi, istri yang cantik, membuat seorang suami menjadi enggan pergi mengaji. Keasyikan bermain bersam buah hati kita, mungkin saja membuat kita bimbang untuk mengisi majelis taklim. Bahkan, seorang rekan, pernah mengatakan, “Saya nggak bisa seperti fulana yang “keluyuran”, sementara anaknya ditinggal di rumah.” Rekan saya tersebut menganggap kegiatan berdakwah, sebagai tindakan dzalim, yang akan mengorbankan kepentingan keluarga. Walaupun, tidak dapat dibenarkan juga jika seseorang begitu giatnya berdakwah, sampai melalaikan keluarganya.

Tentu saja, pernah terlintas dalam pikiran. Bahwa santai di rumah dengan keluarga memang tidak memerlukan banyak energi, seperti layaknya kita menghabiskan banyak tenaga dan tentu saja, waktu untuk berdakwah. Kita senantiasa merasa nyaman dan aman saat berkumpul dengan istri atau suami dan anak-anak. Terkadang keikhlasan kita, boleh jadi terkikis oleh ungkapan, “Di rumah, kita belum tentu mau melakukan ini.” Dan pernyataan itu akan diungkapkan oleh seorang aktivis yang tidak menyadari, untuk apa ia hidup. Bukankah Allaah telah membeli jiwa dan raga setiap orang beriman. Dan dari perniagaaan itu, akan beroleh senuah keuntungan besar, yaitu surga. Ya, hidup kita, bukan hanya milik kita dan keluarga. Allaah berfirman,

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebajikan yang terus menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Rabb-mu untuk menjadi harapan.” (QS Al-Kahfi:46)

Bahkan Allaah melengkapi perjalanan islam dengan sebuah kisah pengorbanan besar. Kisah keluarga Ammar, yang luar biasa. Yang memilih untuk tetap teguh dalam keimanan. Sekalipun, pilihan keduanya adalah mempertaruhkan hidup keluarganya. Panas api dunia, panas api dunia lebih baik dari pada ‘berkhianat’ kepada Allaah.

Kisah keluarga Ammar, bukanlah doing motivasi. Tapi, itulah sejatinya pernrbanan dari perjuangan seorang jundi. Dunia dan isinya, boleh jadi begitu indah. Namun, menggenggam dunia dengan dakwah ilallaah, itu pasti lebih indah. Dan jalan ini, tidak disiapkan oleh Allaah, untuk melalaikan kita dari kehidupan dunia. Justru jalan dakwah disiapkan untuk membuat kehidupan dunia kita lebih baik. Jika kita sudah meyakini. Maka saatnya.. mengajak keluarga kita untuk memahaminya. Karena, jalan inilah yang insya Allaah, akan mengumpulkan kita dan keluarga di surga. Amiin Yaa Rabbal’aalamin.

By Afiani Intan Rejeki

*Tabloid Cakrawala, 2006

Februari 16, 2010 Posted by | 1 | 2 Komentar

Kau Kuat

Alhamdulillaah… Cerpen pertamaku… Makasih bu Galuh… Makasih Era… Makasih semuanya… Makasih sahabat… Kau-lah inspirasinya… 🙂 (Ayooo… monggo… silahkan… dikritik abis-abisan… mumpung belum ketagihan nulis cerpen… hehe…)

Yaa Allaah… Aku masih gadis… Perempuan berkulit sawo matang itu berkata dalam hati. Ia baru saja lepas dari kekalutan yang dirasakannya berbulan-bulan. Dalam rumah bernama cinta, tanpa cinta. Pada ikatan yang mengatasnamakan kasih sayang, tanpa kasih sayang. Pedih yang dirasanya, dihapus Allah dengan kenyataan yang indah. Hatinya dipenuhi syukur yang tak henti. Kesabaran tanpa tepi ada di telaga hatinya yang murni. Lewat udara, dibisikkannya terimaksih pada sosok yang telah melepaskannya. Senyumnya mengembang…

11 Bulan lalu…

Kasih menebar pandangannya. Ia duduk di tepi tempat tidurnya. Kamar mungilnya berubah drastis. Lemari gantungnya entah dipindah bapak kemana. Meja kerjanya yang lapuk pun telah berganti dengan sebuah meja rias yang memunculkan bayangan gadis manis itu, pada kaca besarnya. Sebuah kipas besar di pojok ruangan, sedikit menyejukkan ruang 3×4 yang biasanya terasa hangat. Walaupun, sebenarnya Kasih kurang suka dengan hembusan anginnya yang terlalu keras menerpa kulit sawo matangnya. Tapi, bapak yang meletakkannya di situ. “Besok kamu perlu itu nak.”, katanya. Kasih hanya bisa pasrah, kali ini dia sama sekali tak ingin berkata apapun yang berbeda dari pendapat dan keputusan bapak. Lajang 24 tahun itu kembali menelusuri sudut-sudut kamarnya. Hari ini semua sudah menjadi biru. Warna yang paling diinginkannya sejak dulu. Bila tiba masa yang ditunggu itu. Bagaimanapun bentuk hiasnya, warna inilah yang diharapkannya.

Seketika, dirasanya sebuah getar yang tak biasa. Teringat pada sesuatu. Kasih menghampiri lemari biru yang dibeli bapak. Bapak… selalu punya cara untuk menyenangkan anak-anaknya. Meski tiada kata yang terungkap dari lisannya yang kaku. Tangannya mengambil sebuah tas berisi laptop. Satu-satunya barang paling berharga baginya. Dibelinya dengan uang tabungannya yang tak banyak. Kasih duduk disandaran kasur busa yang juga telah diberi seprai dan ‘bedcover’ berwarna biru langit mengkilap. Membuka laptop di atas pangkuannya. Satu folder yang dicarinya ‘Hati Yang Rindu’. Kursor dihentikannya pada tulisan itu. Dan jari telunjuknya menekan mouse-nya lembut. Hanya ada dua file di dalamnya. Dipilihnya salah satu. Hingga muncullah tulisan itu. Sebuah ungkap rasa, yang baru dituliskannya satu bulan lalu.

Abangku sayang…

Masih jauhkah… kesempatan kita untuk bertemu…

sedangkan… telah siap sebuah taj mahal…

kubangunkan di hatiku nan rapuh…

namun istanamu… kukuh di sana…

resahku… ku hapus dengan memimpikan umat yang kian berjaya…

gundahku… ku hilangkan… dengan sejumput asa…

bahwa umat ini akan menikmati indahnya.

Ketika tiba masanya… Allaah tunjukkan kebenaran pada mereka…

Namun… tetapku impikan…

keluarga bahagia… bersamamu…

sosok yang masih ada dalam do’a…

nama… yang sampai saat ini masih saja rahasia…

Rahasia langit… yang belum terungkapkan…

Wahai Allaah…

Penggenggam kehidupanku…

Peletak takdirku…

Izinkan dalam kekuranganku…

Perkenankan dalam kelemahanku…

ku harapkan seorang pangeran yang terbaik bagiku…

Yang pula… meneguhMU dalam jiwanya…

menyatukanMU dalam hatinya…

MenjadikanMU yang utama pada citanya…

Satukan kami… dalam kecintaan kami kepadaMU…

pertemukan kami… dalam kumpulan terbaik di sisiMU…

Ikatkan kami… Pada perjuangan bagi dienMU…

Dan jadikan kami… manusia-manusia beruntung…

Yang mendapat ridhoMU…

berhak menempati surgaMU…

dan… memperoleh keindahan tiada banding…

yaitu menatap wajahMU… Amiin Yaa Rabb

Setetes bening, mengalir jatuh dari sudut matanya. Allaah menjawab sebagian isi do’aku. Aliran itu, jatuh begitu saja. Kasih tak sanggup menahan bahagianya. Menderas, melelehkan rasa kesendiriannya. Karena besok, 2 Mei 2010, Syaif Dewangga Aji akan mengucap ijab untuknya. Hmm… cukup… Kasih menghapus genang di pipinya. Menutup file dan folder. Kemudian mematikan laptopnya. Di letakkannya di samping bantal. Kemudian ia berbaring, memeluk guling birunya yang baru. Teringat kembali sang bapak. Bapak… terima kasih…

Aroma kebahagiaan yang semakin memuncak. Kasih menarik nafas dalam-dalam. Getar halus itu sedikit memalukan baginya. Tapi, ia muncul tanpa dapat ditahan. Dan ia pun menegur jiwanya yang hampir tak sabar menanti esok. Sabar ya, Kasih. Perlahan tapi pasti, angin sejuk yang tak terlalu disukai dari kipas angin mulai membelainya. Membujuknya menyelami kedalaman bawah sadarnya. Kasih tertidur…

**** @ ****

Kasih berdiri di depan cermin besar itu. Gaun pengantin hijaunya, menampakkan aura kecantikan yang selama ini terpendam dalam keindahan menundukkan pandangan. Tampak kerlip keemasan menambah pesona Kasih hari ini. Disampingnya, ada bapak… yang sedari tadi memandang dengan penuh kebanggaan dan sayang.
“Kamu cantik nak.”, kata sang bapak.
Kasih mencabut pandangannya dari cermin. “Lho, bapak baru tau ya ? Hehehe…”
“Bapak dah tau dari dulu sih nak. Tapi, bapak males ngomongnya.”, balas bapak atas canda Kasih.
Keduanya tertawa di kamar biru itu. Bahagia… meski ada setitik kehilangan.
Kehilangan yang sama, hadir saat ijab kabul diucapkan oleh Syaif. Di kamarnya, Kasih bergetar bahagia. Hingga tetes-tetes bening mengaliri pipinya. Disambung dengan duka yang masih segar diingatannya. Ibu telah tiada. “Kasih dah menikah ibu. Semoga Allaah sampaikan bahagiaku sebagai cahaya bagi tidur panjangmu. Amiin.” Aliran itu susut, ketika Syaif, suaminya, masuk bersama bapak. Kasih tertunduk malu, ketika mata Syaif, beradu dengan tatapannya. Bapak menyerahkan sebuah pulpen, dan menyuruhnya untuk membubuhkan tanda tangan pada sebuah kertas. Kemudian, Syaif mengeluarkan sesuatu dari kantung jasnya. Sebuah kotak perak. Saat dibuka, tampaklah mahar Kasih. Yang disebut Syaif diijab kabulnya tadi. Sebuah cincin sederhana. Sangat sederhana.

Mahar itu, telah melingkar di jari manis Kasih. Kemudian, sebagai tanda penyerahan ketaatannya pada Syaif. Kasih spontan mengambil tangan Syaif, yang baru saja menyelipkan cincin itu. Diciumnya dengan penuh hormat. Dalam hati, Kasih berkata… “Aku akan menjadi istri yang taat untukmu, suamiku.” Lama… Syahdu… Setelah itu, Kasih berpaling pada bapak. Digenggamnya telapak tangan bapak. Dibawanya airmata, untuk tumpah di atas tangan yang telah mengerut itu. Penuh takzim…

**** @ ****

Usai sudah pesta pernikahan Kasih. Seharian, ia hanya bisa tersenyum. Senyum tak terpaksa. Karena hari itu, ia memang hanya punya senyum untuk dunia. Semua memang lelah. Namun, canda masih terdengar di dapur, di ruang tengah dan di halaman rumah. Di kamar biru. Setelah usai menyalin pakaiannya. Syaif berkata, “Aku lelah, tidur duluan ya dek.” Datar, namun sanggup menciptakan satu hening.
“Ya mas.” Kasih memang merasakan lelah pula. Namun… Aah… sudahlah hari ini memang melelahkan. Meski ada setitik kecewa di hatinya. Seharusnya… ada sebuah dialog malam itu… dialog persatuan jiwa. Bicara dari hati ke hati. Kasih menarik nafas panjang dan melepaskannya. Ia rela…

**** @ ****

Sepekan… Syaif menjaga jarak. Kasih bersangka baik. Dia mungkin masih malu… sangat malu. Dua pekan… tidur itu… masih dengan posisi yang sama. Syaif membelakanginya. Meletakkan sebuah guling di antara mereka. Apa ini..? Apa maksudnya…? Sebulan sudah. Malam itu, Kasih menyembunyikan guling pemisah tidur mereka. Saat akan tidur, Syaif panik… tak menemukan gulingnya. “Mana gulingnya dek..?” Syaif memandang Kasih yang sedang menyisir rambutnya.
“Adek simpan.”, jawab Kasih tenang.
“Dimana..?”, nada Syaif meninggi.
Kasih diam.
“Dimana dek..?” Makin tinggi.
Kasih berbalik, menatap suaminya. “Kenapa mas..? Untuk apa..?”, tanya Kasih. Sambil menahan tangisnya. Getar nada suaranya.
Syaif keluar dari kamar, ia menuju ke kamar sebelah, kamar Dinar, adik Kasih. Dan kembali membawa sebuah guling. Meletakkannya di tengah tempat tidur. Kemudian mengambil posisi yang sama. Seperti malam-malam sebelumnya. Dan… diam… tidur. Kasih menatap punggung suaminya penuh tanda tanya. Ada apa denganmu mas.

Bulan ketiga… Ruang tidur adalah tempat paling hening. Penuh dengan kejujuran disana. Kejujuran rasa yang dalam. Kasih… terus menerima penolakan. Kekakuan hadir.. ketika keduanya didalam penjara 4×5 itu. Penjara..? Hampir sama menurut Kasih. Hampa… Tapi, dia suamiku. Aku tetap sayang… cinta. Namun, kekakuan itu selalu berubah. Saat keluar melalui pintu ruang tidur mereka. Dipintu depan… kemesraan itu ada. Kasih mencium tangan Syaif. Syaif mencium kening Kasih. Tapi… hambar. Mesra yang juga hadir di ruang tamu. Tak pernah absen di meja makan. Mungkin karena ada bapak. Kasih pun… hampir muak dengan kebodohannya.

Suatu malam di bulan ke 7. Kasih bersiap dengan penampilan terbaiknya. Penampilan terbaik, yang semakin baik daripada bulan-bulan sebelumnya. Demi menarik perhatian suaminya tersayang. Dihampirinya Syaif, yang telah terbaring membelakanginya… lagi.
“Mas.”, panggilnya.
“Aku mau tidur.”, Syaif semakin mengkerutkan posisi tidur. Sebuah penolakan.. lagi. Biasa.. Kasih tak menyerah. Kali ini, ia harus berusaha lebih keras. Karena… pernikahannya… adalah taruhannya. Allaah… Bantu Kasih ya.
“Mas Syaif.”, Kasih melembutkan suaranya.. mendayu.. rindu.. disentuhnya bahu Syaif. Syaif meloncat bangun dari tempat tidur. Berlari menuju sudut ruang tidur mereka. Ia menatap Kasih dengan pandangan aneh.
“Kenapa mas..?” Kasih kaget dengan reaksi Syaif.
“Kamu mendekat.. aku akan pergi dari rumah ini.” Ancam Syaif.
DUG..!! Hantaman keras di dinding hati Kasih. Hancur… “Apa salahku mas..? Aku ini istrimu.”, Tangis Kasih tak terbendung, Namun, ia berkata dengan suara pelan. Kasih tak ingin bapak tau. “Jujur mas..? Ada apa sebenarnya..?”, masih dalam tangisnya.
Syaif diam.. diam… dan diam.

Kasih makin lebur dengan yakinnya. Tanpa diberi alasan, ia tak pernah diberi hak mendapatkan kasih sayang dari Syaif. Kebohongan demi kebohongan yang hadir dari diamnya Syaif.

Allaah…

inilah Kasih…

Seorang istri sederhana…

Yang mengharap cinta dari lelakinya tersayang…

Meminta keadilan dari ruang ke-Rahiman-Mu…

Mengharap keputusan terbaik dari kuasa Rahman-Mu…

Masihkah Kasih… harus terus memberi kasih…

Pada sesosok Syaif Dewangga Aji…

Yang telah menghargaiku dengan sakral ta’likut thalak…

Namun… tak menghendaki Kasih sebagai istri sejati…

Sungguh… Kau-lah muara cintaku…

Pada-Mu… rindu kulabuh lewat sujud-sujud digulita pekat…

Haruskah Kasih-Mu ini… merawat pernikahannya…

Keluh Kasih pada sebuah puisinya…

**** @ ****

Bulan kesebelas…
Setelah melalui kesabaran panjang. Kasih menerima keputusan hakim. Ia telah bercerai dengan suaminya. Seorang Syaif Dewangga Aji. Berat… Namun, harus. Ia yakin. Setelah berpuluh-puluh istikharahnya.

**** @ ****

Yaa Allaah… Aku masih gadis… Perempuan berkulit sawo matang itu berkata dalam hati. Ia baru saja lepas dari kekalutan yang dirasakannya berbulan-bulan. Dalam rumah bernama cinta, tanpa cinta. Pada ikatan yang mengatasnamakan kasih sayang, tanpa kasih sayang. Pedih yang dirasanya, dihapus Allah dengan kenyataan yang indah. Hatinya dipenuhi syukur yang tak henti. Kesabaran tanpa tepi ada di telaga hatinya yang murni. Lewat udara, dibisikkannya terimakasih pada sosok yang telah melepaskannya. Senyumnya mengembang…

Sahabatku: “Saya dah cerai mbak. Lebih baik mbak tau dariku. Daripada dengar dari orang lain.”, katanya sambil tersenyum.
Aku: Terlonjat kaget, “Kenapa ukh..?” Getar… suaraku getar. Ikut terluka.
Dia menceritakan perjalanan pernikahannya. Hatiku… tak cuma gerimis. Hujan… deras.
Sahabatku: “Sudahlah mbak. Airmataku… cukuplah. Sekarang aku tak perlu menangis lagi. Allaah sayang padaku. Dengan cara yang tak kita mengerti.”, dengan senyumnya… hampir getir. Namun, ia… tersenyum.
Aku: “Ada orang lain… jauh lebih baik… yang akan meminangmu. Allaah sayang… sangat sayang padamu.”, hiburku yakin… sangat yakin…
Sahabatku: “Makasih… akupun yakin. Kamu perlu tau satu hal lagi.”, sambil senyum. Tak ada getir di situ.
Aku: “Apa itu..?”, keningku mengerut.
Sahabatku: “Aku masih perawan.”
Kupeluk dia… penuh sayang. Kau hebat. Jika aku… mungkin tak kan kuat. Semoga tak terjadi, pada yang lain. Cukup kau. Karena kau… kuat.

Mengagumi… sebuah KESABARAN…

Februari 14, 2010 Posted by | Tak Berkategori | 15 Komentar

Manusia… Bukan Produk Gagal

Salam sahabat… apa kabar weekendmu… semoga kesenangan yang berkah pada hari-hari liburmu… dan peroleh ketenangan hati darinya. Amiin

Dari satu titik kehidupan…

Ketika Bapak Adam diciptakan…

Kemudian atas nama Cinta…

Dihadirkan pula satu jiwa yang akan mencinta…

Ibunda Hawa…

Berlanjutlah waktu…

Hingga titik ini…

Kitalah kerumunan manusia…

Dengan jiwa-jiwa pemenang di dalamnya…

Siapapun yang merasa tak berhasil dalam kehidupan ini…

Ada satu fase di perjalanan penciptaannya…

Yang tidak disadari…

Bahwa… ciptaan berupa makhluk… bernama manusia…

Bukanlah produk gagal…

Kita mungkin tak ingat… namun Allaah ingatkan…

Bahwa kita… yang telah hadir di dunia saat ini…

Adalah PEMENANG…

Saat tak menang dalam sebuah lomba…

Ingatlah…

Kita pernah mengalahkan jutaan lainnya…

Saat sukses belum teraih…

Ketahuilah…

Kita sudah pernah sukses sebelumnya…

Saat sedih kecewa pada hidup nan mendilema..

Kenanglah pemilihan kita… sebagai khalifah dunia…

Duta… Wakil… Utusan…

Seorang duta dikirim… hanya untuk KESUKSESAN

Seorang wakil dikirim… hanya demi KEBERHASILAN

Seorang utusan dikirim… hanya menjadi RAHMAT bagi alam…

Se-ISTIMEWA itulah… kita…

Se-LUAR BIASA itulah… kita…

Dan…

Se-DAHSYAT itulah… kita…

GAGAL… hanya datang… pada manusia-manusia…

yang tak mengetahui.. memahami… menyadari… dan memotivasi diri…

dengan SUKSES-nya menuju HIDUP…

Ada 3 hidup… dimana kita seenaknya… seindahnya… sesenangnya… dan sebaiknya… adalah SUKSES…

Ialah HIDUP sebelum alam rahim…

HIDUP setelah alam rahim…

dan HIDUP… setelah mati…

@@@@@@@ +++++++++ $$$$$$$$$$$ &&&&&&&&&&& ????????

Kepada ibu-ibu… bapak-bapak… adek-adek… mas-mas… mbak-mbak… ukhty-ukhty… akhi-akhi… semua anggota grup yang sangat aku sayangi karena Allaah… Bersama ini… mau pamit… hendak rehat…

Henti sejenak.. Untuk.. Restrukturisasi.. Reformasi .. Rekonstruksi.. Reorientasi.. Refresh.. dan.. Re.. Re.. Re.. yang lainnya..

Dalam waktu yang tidak bisa ditentukan… bisa seminggu… dua minggu… sebulan… dua bulan… or dua hari mungkin… hehe…

Tapi serius nih… perlu sedikit menjauh dulu dari hiruk-pikuk facebook…

Satu pesan karena cintaku pada kalian semua…

Sahabat adalah salah satu perhiasan dunia… dia mungkin tak lebih indah dari istri shalehah… namun… sahabatlah… salah satu dahan… yang hadir dari batang cinta kita… Ialah… yang menghadirkan ranting pertemanan… daun hijau… sebagai pernik kehidupan… bunga cantik penghias dirimu… dan buah lezat… pemanis hidupmu…

Semoga Allaah ridha atas semua keindahan yang hadir dari jalinan silaturahim kita selama ini. Amiin

Jika pada hari-hari kita… ada kesalahan yang tak terjaga… Mohon maaf lahir batin…

NB: Bagi ibu-ibu… mbak-mbak… ukhty-ukhty… adek-adek perempuan… yang mau tetap berhubungan and sharing selama masa rehatku… silahkan… kita bisa tukeran nomor HP lewat inbox ya… ^_^ semoga dengannya… silaturahim kita sebagai teman… sahabat dan saudara… bisa tetap terjalin….

Sekali lagi, terimakasih atas kebersamaan yang indah…

*Tiada senang… seindah pertemanan… ^_^

Wassalam..

Februari 13, 2010 Posted by | Tak Berkategori | 4 Komentar

Al Qur’an dan Otak

Salam para dewasa… apa kabar USIA DINI kita… semoga Allaah mudahkan kita dalam membimbing mereka… menuju jalan surga… Amiin…

Sebuah kisah nyata, yang diceritakan oleh seorang rekan guru di sekolah.

Pernah dengar mengenai pesatnya perkembangan otak yang terjadi pada anak-anak yang ibunya diperdengarkan musik klasik. Cerita ini, memang agak berbeda sedikit. Namun, aku yakin, ada satu hal penting yang akan sama-sama kita petik. Silahkan membaca…

Rekan tersebut menikah di usia muda. Kemudian ia mengandung anak pertama. Harapan seorang ibu muda yang cukup biasa. Ia ingin, anaknya menjadi gagah, tampan, ganteng, cantik, rupawan, dll.

Entah mendapat masukan dari siapa, atau memang inisiatifnya sendiri. Selama masa kehamilannya, rekanku itu membaca salah satu surat dalam Al Qur’an. Tahu tidak, apa yang dia baca. Sebuah surat yang menggunakan nama salah satu manusia tertampan dalam sejarah manusia. Yup…. Dia membaca surat Yusuf.

Tak henti-hentinya selama 9 bulan, ia membaca surat Yusuf.

Maka lahirlah sang anak. Subhaanallaah. Seorang putra nan tampan. Hadir atas Kuasa Allaah. Dengan rupa nan menawan. Sekarang, putra pertama itu sudah SMP. Guanteng… teng… teng… ^_^

Pada kehamilannya yang kedua. Rekan saya masih memiliki cita-cita yang sama. Putra keduaku harus ganteng, tampan, cantik, dll. Maka, ia setiap hari membaca kembali surat Yusuf. Rekan saya itu membaca dari sebuah Al-Qur’an lama, yang tulisannya tebal, dan sedikit rapat. Hingga di ujung kehamilannya. Ia membaca surat yang sama.

Hingga suatu hari, saudaranya menegurnya. Mbak, ini kok baca surat Yunus..? Rekan saya tersebut sedikit kaget. Dan mencoba meyakinkan diri, bahwa dia selama ini, telah membaca surat yang benar. Namun… selama berbulan-bulan… ia telah membaca surat Yunus. Maka pasrahlah rekanku tersebut dengan apa yang akan terjadi pada anak keduanya itu.

Lahirlah sang anak. Bisa ditebak, anak kedua memang tak setampan anak pertamanya. Saat ini si bungsu sudah SD. Kulitnya agak gelap. Namun, menurut kisah nabi Yunus… ia adalah nabi yang kuat. Subhaanallaah… begitu pulalah, anak kedua dari rekanku tersebut. Ia kuat, hampir tak pernah sakit.

Setiap mengingat kisah rekanku tersebut… hanya tasbih saja yang terucap… Subhaanallaah…

*Kitab… yang tiada keraguan di dalamnya…

@@@@@@@@@@ &&&&&&&&& *********** ????????????? $$$$$$$$$$$$$
Ada satu penelitian lain yang diungkapkan oleh seorang guruku di sebuah pelatihan… Yang membuatku berpikir tentang satu hal. Bahwa, kecerdasan yang ditimbulkan oleh irama musik klasik. Hanya akan dirasakan oleh bayi, yang ibunya, bisa menikmati irama itu. Namun, jika seorang ibu tidak mengenal musik klasik. Maka, iramanya tak kan mempengaruhi perkembangan neuron pada janinnya. Bisa jadi, dengan menggunakan irama gending jawa. Jika diperdengarkan pada seorang ibu yang bisa menikmatinya, maka irama gending itupun akan mempengaruhi lonjakan jaringan neuron pada janin.
Bisa dibayangkan… jika kedua ibu… diperdengarkan satu irama yang sama. Coba tebak… apa yang terjadi, jika dua ibu yang berbeda… Seorang ibu Belanda dan ibu dari sebuah desa di Indonesia… diperdengarkan surat… Ar Rahman…???

Semoga Allaah tunjukkan jalan-jalan benar… cara-cara indah… untuk membesarkan USIA DINI… agar dewasanya kelak.. ia tak hanya tampan dan cantik… tapi juga cerdas pikir… cerdas raga…dan… cerdas ruh… Amiin….

*********** ^^^^^^^^^^^^^ &&&&&&&&&& ???????????? %%%%%%%%%

Wassalam

*Tetap sayangi USIA DINI yaa… ^_^

Februari 13, 2010 Posted by | Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

Selamat Bersama

Salam sahabat… apa kabar masa… semoga senantiasa ringan melangkah menuju tempat-tempat kebaikan… Amiin…

Bergantilah detik…

Bersama rotasi kehidupan kita…

Bergantilah menit…

Seiring nafas di orbitnya…

Bergantilah jam…

Dalam selimut atmosfer gerak kita…

Lalu hari…

Mengalir deras… hingga hitungan rasi bintang…

tak sanggup mengukurnya…

Dan pekan akan berganti lagi…

Sedangkan terasa… baru sekelip mata… memijak pekan ini…

Sungguh…

Waktu akan bergulir makin cepat…

Ada yang akan pergi…

Dan akan setia pada harapan denyut nadi…

Pun hujan meteor dijatuhkan…

Taubat yang tak sempat… karena tertunda kesombongan…

Maka bersama masa… manusia hancur…

Saat semesta saling mendekat… dan meledakkan kebosanannya…

Lalu… sempatkah kita… melihat dosa di antara kawah bulan…

Akan lebur alam raya…

Serentak… dengan kacaunya aliran darah kita…

Sadiskah…??? Ini hanya susunah kata…

Kelak… masa itu akan tiba sahabat…

Jatuh tempo yang tak dapat ditawar…

Masa kita… menghadap Sang Maha Raja…

Dan pekan masih bisa berganti…

Ruh.. masih sanggup menikmati….

Saling menyusun do’a…

Agar kita selamat…

Karena kucinta… maka kuingin… kita selamat… bersama…

Tidakkah kau…??? T_T

~~~~~~~~ &&&&&&&&&&&&& ^^^^^^^^^^^ ########## ^^^^^^^^^^^ *************************

Ingin mengungkap rasa… dengan berani… namun aku… bukan pemberani… jika mesti kubangun sebuah benteng… agar kita tak perlu jumpa… maka akan kubangun sekuat tenaga… namun apa daya… aku tak rela…

@@@@@@@@ ******* )))))))))))) _______________ ?????????????? >>>>>>>>>>> “”””””””””””

Selamat berakhir pekan…

Wassalam…

*Tiada senang… seindah pertemanan… ^_^

Februari 12, 2010 Posted by | Tak Berkategori | Tinggalkan komentar