Ini Jejak-Q

Hanya Satu Yang Akan Kita Tinggalkan… Ialah… JEJAK

Setitik Manusia

Salam sahabat… apa kabar hari-harimu… semoga detik2 tak berlalu dengan penyesalan… dan hanya terlewati dengan penuh kesyukuran… Amiin

Berlembar hari dihitung jari…

Dan segenap waktu dihambur habis… hingga sia…

Setiap kita… ada masa yang tak tau kapan henti…

Sekejap saja… sekelip mata…

Inilah hidup… setelah kehidupan…

Dari rahim… ke dunia kemanusiaan…

Ada atur… agar tak rancu…

Lalu dianggap… dilanggar pun layak…

Kitalah… penghuni rahim bumi…

Sesuka hati… mengguna nikmat…

Tanpa pernah menggulir syukur…

Seringkali mencela coba…

Mengapa datang ditengah senang…

Di dalam kemelut hati…

Masihkah cinta… pada satu muara…

Narkoba dunia… melena hati… pada satu institusi…

LUPA…

Detik-detik ini… bukan hak milik…

Tertulis di aliran darah kita…

Terlukis di denyut jantung nan ajaib…

Terpahat di kokohnya tulang kita…

Terjalin di jaringan neuron nan dahsyat…

Dari… ujung jari kaki… Hingga ujung rambut di kelapa…

Jelas… dan nyata…

Pada kita… semuanya… hanya milik-Nya…

Maka… panahkan pesona pada Agung-Nya…

Tujukan puji dan sujud… dihadap-Nya…

Serendah hina… seorang hamba sahaya…

Kitalah… setitik manusia… di samudra semesta…

Hanya setitik manusia… TUNA MAKNA…???

****Sahabat… Kesuksesan HIDUP sesudah MATI… adalah hasil… dari perencanaan matang KEHIDUPAN… sebelum datang KEMATIAN…

Wassalam…

*Tiada senang… seindah pertemanan… ^_^

Iklan

Februari 8, 2010 Posted by | Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

Ayah… Aku Tak Suka Ekonomi

Salam para dewasa… apa kabar USIA DINI kita… semoga masih senang dan ceria… pada sebuah kebahagiaan bermain… sambil belajar… menjelajah makna semesta. Amiin

Satu kisah lagi… dari sebuah bangku belajarku…

Seorang Profesor besar.. telah berusia 70an tahun. Ia memiliki seorang anak laki-laki. Ia punya cita-cita, akan membuat anaknya sukses. Maka, profesor itu memilih sekolah-sekolah terbaik untuk anaknya. SD favorit… SMP unggulan… SMA nomor satu… bahkan hingga pendidikan S2-nya, profesor memilihkannya. Anak laki-lakinya itu, di pintanya untuk menyelesaikan pendidikan di bidang ekonomi. Harapan besar, dari seorang ayah. Yang mengatasnamakan cinta. Dan atas nama cinta pula, sang anak terus menuruti kemauan sang ayah yang sangat di sayanginya. Meski tersembunyi, sebuah keinginan lain di kedalaman hatinya. Namun, rasa sayangnya pada sang ayah, mengalahkan segala cita-cita besarnya.

Sang anak menyelesaikan S2-nya. Ia bekerja, di sebuah bank. Kemudian menikah. Memiliki rumah dan kendaraan. Yang tampak adalah kesenangan yang ia dapatkan dalam kehidupannya.

Sang ayah… selalu membanggakannya. Aku telah sukses membesarkan anakku. Sekarang ia telah berhasil dalam kehidupannya. Lihatlah ia… bahagia dengan keluarganya, pekerjaannya hebat, karirnya terus menanjak, tenang rasanya.

Suatu hari… ayah dan anak itu, akan menuju kesebuah tempat. Tiba-tiba… sang anak menghentikan kendaraannya.

“Ayah.. boleh saya bicara.”

“Tentang apa ini, anakku..?”, sang ayah penuh tanda Tanya.

“Telah lama, anakmu ini, mengikuti apa yang ayah mimpikan. Bolehkah sekarang, anakmu ini mengejar mimpinya..?”, takzim sang anak menatap wajah sang ayah.

“Apa maksudmu anakku… jelaskanlah.”, baliklah sang ayah menatap dengan sayang pada buah hatinya yang telah dewasa. Yang selama ini hanya diam, kini hendak angkat bicara.

“Ayah, anakmu ini, tak suka ekonomi. Saya suka musik. Dua bulan yang lalu, saya berhenti dari bank tempat saya bekerja. Sekarang, saya sedang kuliah, mendalami, apa yang saya suka.”, tutur sang anak.

Bukan petir… bukan halilintar… namun, cukup mengagetkan… sang profesor tak menyangka… hanya menyimpan kecewa pada dirinya sendiri… “Ternyata, aku tak berhasil mensukseskan anakku.”

~~~~~~~~~~ @@@@@ ~~~~~~~~~~~~~ @@@@@@@@@ ~~~~~~~~~~~~

Ada sebuah rencana indah… yang mungkin telah kita ukir bagi USIA DINI kita. Sebuah cita-cita, yang akan membuatnya bahagia… Sebuah harapan… yang akan membuatnya berhasil di masa depan. Kita ingin.. ia hidup di taman. Penuh bunga… berteman kupu-kupu… duduk di bangku-bangku cantik… dan lampu-lampu hias nan terang. Namun… bertanyalah dahulu… padanya… yang akan menjalani rencana itu… Mungkin… dia tak ingin… hidup di taman… Bisa jadi… dia suka dengan bunga… Sebelum cita-cita itu… menjadi fatamorgana… terlihat saat ini… namun hilang di masa depan…

Semoga… kita berhasil membesarkan mereka… sesuai dengan ingin mereka… dan tak menyimpang dari aturan-Nya. Amiin Yaa Rabb…

*Tetap sayangi USIA DINI yaa… ^_^

Februari 6, 2010 Posted by | Tak Berkategori | 6 Komentar

Raja Ali Haji

Bapak pulang dari Riau… saat datang kami riang berkicau…

Oleh-oleh paling kusuka… sebuah makna… dari gurindam lama…

Subhaanallaah.. mari dibaca… Sungguh Islam… Tiada dua…

Gurindam Dua Belas

(Raja Ali Haji)

Fasal Pertama

Barang siapa mengenal yang empat
Maka dia itulah orang yang ma’rifat
Barang siapa mengenal Allaah
Suruh dan tegahnya tiada ia menyalah
Barang siapa mengenal diri
Maka telah mengenal akan
Tuhan yang Bahari
Barang siapa mengenal dunia
Tahulah ia barang yang terpedaya
Barang siapa mengenal akhirat
Tahulah dia dunia melarat

Fasal Kedua

Apabila terpelihara mata
Sedikit cita-cita
Apabila terpelihara kuping
Kabar yang jahat tidaklah damping
Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan
Daripada segala berat ringan
Apabila perut terlalu penuh
Keluarlah fi’il yang tiada senonoh
Hendaklah peliharakan kaki
Dari pada berjalan membawa rugi

Fasal Ketiga

Hati itu kerajaan dalam tubuh
Jikalau zalim segala anggota pun rubuh
Apabila dengki telah bertanah
Datanglah daripadanya beberapa anak panah
Mengumpat dan memuji hendaklah pikir
Disitulah banyak orang yang tergelincir
Pekerjaan marah jangan dibela
Nanti hilang akal di kepala
Jika sedikitpun berbuat bohong
Boleh diumpamakan mulutnya pekong

Fasal Keempat

Barang siapa meninggalkan sembahyang
Seperti rumah tidak bertiang
Barang siapa meninggalkan puasa
Tidaklah dapat dua temasya
Barangsiapa meninggalkan zakat
Tidaklah hartanya beroleh berkat
Barang siapa meninggalkan haji
Tiadalah ia menyempurnakan janji

Februari 5, 2010 Posted by | Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

Rakyat.com

Ehemm… serius mode on…

Ada 4 unsur penting di negri ini… yang seluruhnya memiliki kelebihan dan kekurangan… (Meskipun… selain unsur ini… juga penting)… Lihat Selengkapnya
1. Presiden
2. Rakyat
3. Mentri
4. Wakil rakyat.

Tak perlu disebut apa kekurangannya… (karena, semua kita sudah membaca kondisinya) Namun.. keempatnya punya potensi… untuk membuat negri ini lebih baik… atau makin hancur…

Saya ni… yang jadi rakyat.. cuma bisa berusaha jadi rakyat… dengan sebaik2nya.. Ga sekedar bisa nyalahin orang2 di atas sana… tapi juga bisa jadi rakyat.. yang bener2 tau apa yang sedang dilakukan oleh pemimpinnya.. Jadi rakyat, yang tau kapan Presidennya salah… Trus berani protes… dengan cara yang benar… ga sekedar unjuk2 rasa… unjuk2 kuat… trus… menunjukkan diri yang ternyata juga perusak… Haduuuh… malu juga nih kalo jadi rakyat yang kayak gitu… mau ngasih tau Presidennya dah berbuat salah… eeeeh… malah ikut2an bikin masalah…

Jadi Presiden… jangan keblinger…
Jadi Rakyat… Mesti pinter…
Jadi Mentri… jangan kuper…
Jadi wakil rakyat… Jangan Sleeper… 🙂

Februari 3, 2010 Posted by | Tak Berkategori | 8 Komentar

Bukan Bidadari

Tak punya aku sayap… Dan tak dapat ku terbang… Yang kau sebut eksotis…

Pula tak mampu ku hadir… menjelma… dan kau sebut romantis…

Hanya manusia… berseragam kefanaan…

Beratribut kekurangan…

Berhias lemah…

Pun ada lebihku… Bukan milikku…

Jika ada baikku… Bukan padaku…

Bila ada benarku… Bukan dariku…

Bidadari kau kemas indah di benakmu…

Dan kau jelmakan menarik di ruang pikirmu…

Itu bukan aku…

Inilah manusia…

Fana…

Hanyaku… seorang hamba…

Yang seada ku bisa…

Dan semampu ku mau…

Jika kehilangan bidadarimu…

Jangan cari di diriku…

(Repost… Puisi nan lamo sekali)

Saikoji bilang Online… Online…
Kalo diriku… Posting… Posting… 🙂

Februari 1, 2010 Posted by | Tak Berkategori | Tinggalkan komentar