Ini Jejak-Q

Hanya Satu Yang Akan Kita Tinggalkan… Ialah… JEJAK

Malu

Apakah kau seorang hafidz ??

Seorang yang memelihara. Menjaga kemurnian hal yang diyakininya. Lebih dikenal istilah hafidz ini untuk para penghafal Al Qur’an. Sungguh, inginnya diri ini menjadi seorang yang terus teguh mengeja ayat-ayat itu. Kalam suci yang menenangkan. Cahaya dalam kegelapan, petunjuk tanpa kesalahan, kebenaran di atas kebenaran, penyejuk hati di kala gundah, pembening hati di waktu amarah. Kalam Allaah.. dengan segala mukjizat yang teriring bersama nuzulnya. Inginnya diri menjadi hafidz… -_-

Seringkali, bersama Al Qur’an, kutemukan teguran terindah bagi khilaf. Hiburan terbaik bagi sedih yang melanda. Menghujam tajam di kedalaman nurani. Menabur benih raja’ (harap) dan khauf (takut) pada jiwa-jiwa yang ingin makin dekat dengan Rabb-nya. Mengalirkan bening dari sudut mata, berharap setiap kebahagiaan yang terkabar di dalamnya, akan menjadi kebahagiaannya. Sekaligus takut, adzab yang tersurat dan tersirat pada baris-barisnya, tak menimpanya. Duhai.. Inginnya diri menjadi hafidz…

Hingga beberapa pekan lalu, dalam majelis cintaku. Aku jatuh.. tersungkur. Akibat ‘tertampar’ kuat. Saat itu, masing-masing kami, menyetor hafalan, dengan saling berpasangan. Selama ini, biasanya pasanganku adalah rekan yang sama mudanya. Sama bisanya, sama mampunya, sama potensinya. Namun, takdir Allaah yang tertulis hari itu, berbeda dari biasanya. Aku dapat pasangan, seorang bunda, beranak 5. Anak tertuanya, sedikit lebih muda dariku.

Kami sepakat, bahwa beliaulah yang mulai setor hafalan lebih dulu. Ternyata, baru kuketahui, hafalan beliau, jauh.. jauh.. jauh di atasku. Seiring setiap ayat yang keluar dari lisannya. Yang kala itu, terdengar lebih syahdu dari bisanya. Bergetar setiap dinding jiwa. Bergolak setiap lembar rasa. Aku menyaksikan keindahan menjadi seorang hafidz. (meskipun, beliau belum hafal seluruh Al Qur’an) Subhaanallaah. Nafasku tertahan, wajahku memerah. Namun, bunda itu masih terus mengalunkan lembut ayat-ayat cinta-Nya. Hingga akhir hafalannya… Maka meledaklah setiap buncah maluku. Malu………. yang luar biasa. Di tengah usaha kerasku untuk terus menambah hafalan. Aku sudah terjerembab, dalam kekalahan. Beningku mengalir tanpa dapat ditahan.. sungguh tak tertahankan. Tanpa suaranya.. tangisku pecah berderai.

“Lho..?? ukhti kenapa ?”, Tanya bunda itu kaget.

Aku tak sanggup berkata-kata. Hanya terus mengalirkan air mata. Membuat bunda itu makin tak mengerti.

Hingga dalam aliran deras tangis bodohku, aku berkata “Ana malu, bunda.”, dengan sudut mata yang terus basah.

“Afwan ya ukhti.”, merasa bersalah telah menyebabkanku menangis. Bunda malah ikutan nangis. Menambah derasku tak tertahan.

Dalam kebingunganku mencari tisu, aku terus menggenggam tangannya. Tergenang dalam malu itu. Yaa Allaah… aku benar-benar malu niiiih…. Sambil terus menyembunyikan wajah basahku, dari pandangan teman-teman satu majelis yang juga tak mengerti kejadiannya. Yaa Allaah… malu… -_-

****** @ ******

Fadhail Dunia

1. Hifzhul Qur’an merupakan nikmat rabbani yang datang dari Allah

Bahkan Allah membolehkan seseorang memiliki rasa iri terhadap para ahlul Qur’an,
“Tidak boleh seseorang berkeinginan kecuali dalam dua perkara, menginginkan seseorang yang diajarkan oleh Allah kepadanya Al Qur’an kemudian ia membacanya sepanjang malam dan siang, sehingga tetangganya mendengar bacaannya, kemudian ia berkata, ‘Andaikan aku diberi sebagaimana si fulan diberi, sehingga aku dapat berbuat sebagaimana si fulan berbuat'” (HR. Bukhari)

Bahkan nikmat mampu menghafal Al Qur’an sama dengan nikmat kenabian, bedanya ia tidak mendapatkan wahyu,
“Barangsiapa yang membaca (hafal) Al Qur’an, maka sungguh dirinya telah menaiki derajat kenabian, hanya saja tidak diwahyukan kepadanya.” (HR. Hakim)

2. Al Qur’an menjanjikan kebaikan, berkah, dan kenikmatan bagi penghafalnya

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya” (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Seorang hafizh Al Qur’an adalah orang yang mendapatkan Tasyrif nabawi (penghargaan khusus dari Nabi SAW)

Di antara penghargaan yang pernah diberikan Nabi SAW kepada para sahabat penghafal Al Qur’an adalah perhatian yang khusus kepada para syuhada Uhud yang hafizh Al Qur’an. Rasul mendahulukan pemakamannya.

“Adalah nabi mengumpulkan di antara dua orang syuhada Uhud kemudian beliau bersabda, “Manakah di antara keduanya yang lebih banyak hafal Al Qur’an, ketika ditunjuk kepada salah satunya, maka beliau mendahulukan pemakamannya di liang lahat.” (HR. Bukhari)

Pada kesempatan lain, Nabi SAW memberikan amanat pada para hafizh dengan mengangkatnya sebagai pemimpin delegasi.

Dari Abu Hurairah ia berkata, “Telah mengutus Rasulullah SAW sebuah delegasi yang banyak jumlahnya, kemudian Rasul mengetes hafalan mereka, kemudian satu per satu disuruh membaca apa yang sudah dihafal, maka sampailah pada Shahabi yang paling muda usianya, beliau bertanya, “Surat apa yang kau hafal? Ia menjawab,”Aku hafal surat ini.. surat ini.. dan surat Al Baqarah.” Benarkah kamu hafal surat Al Baqarah?” Tanya Nabi lagi. Shahabi menjawab, “Benar.” Nabi bersabda, “Berangkatlah kamu dan kamulah pemimpin delegasi.” (HR. At-Turmudzi dan An-Nasa’i)

Kepada hafizh Al Qur’an, Rasul SAW menetapkan berhak menjadi imam shalat berjama’ah. Rasulullah SAW bersabda,
“Yang menjadi imam suatu kaum adalah yang paling banyak hafalannya.” (HR. Muslim)

4. Hifzhul Qur’an merupakan ciri orang yang diberi ilmu

“Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.” (QS Al-Ankabuut 29:49)

5. Hafizh Qur’an adalah keluarga Allah yang berada di atas bumi

“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para ahli Al Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan pilihan-pilihan-Nya.” (HR. Ahmad)

6. Menghormati seorang hafizh Al Qur’an berarti mengagungkan Allah

“Sesungguhnya termasuk mengagungkan Allah menghormati orang tua yang muslim, penghafal Al Qur’an yang tidak melampaui batas (di dalam mengamalkan dan memahaminya) dan tidak menjauhinya (enggan membaca dan mengamalkannya) dan Penguasa yang adil.” (HR. Abu Daud)

Fadhail Akhirat

1. Al Qur’an akan menjadi penolong (syafa’at) bagi penghafal

Dari Abi Umamah ra. ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Bacalah olehmu Al Qur’an, sesungguhnya ia akan menjadi pemberi syafa’at pada hari kiamat bagi para pembacanya (penghafalnya).”” (HR. Muslim)

2. Hifzhul Qur’an akan meninggikan derajat manusia di surga

Dari Abdillah bin Amr bin ‘Ash dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Akan dikatakan kepada shahib Al Qur’an, “Bacalah dan naiklah serta tartilkan sebagaimana engkau dulu mentartilkan Al Qur’an di dunia, sesungguhnya kedudukanmu di akhir ayat yang kau baca.” (HR. Abu Daud dan Turmudzi)

Para ulama menjelaskan arti shahib Al Qur’an adalah orang yang hafal semuanya atau sebagiannya, selalu membaca dan mentadabur serta mengamalkan isinya dan berakhlak sesuai dengan tuntunannya.

3. Para penghafal Al Qur’an bersama para malaikat yang mulia dan taat

“Dan perumpamaan orang yang membaca Al Qur’an sedangkan ia hafal ayat-ayatnya bersama para malaikat yang mulia dan taat.” (Muttafaqun ?alaih)

4. Bagi para penghafal kehormatan berupa tajul karamah (mahkota kemuliaan)

Mereka akan dipanggil, “Di mana orang-orang yang tidak terlena oleh menggembala kambing dari membaca kitabku?” Maka berdirilah mereka dan dipakaikan kepada salah seorang mereka mahkota kemuliaan, diberikan kepadanya kesuksesan dengan tangan kanan dan kekekalan dengan tangan kirinya. (HR. At-Tabrani)

5. Kedua orang tua penghafal Al Qur’an mendapat kemuliaan

Siapa yang membaca Al Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaiakan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab,”Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an.” (HR. Al-Hakim)

6. Penghafal Al Qur’an adalah orang yang paling banyak mendapatkan pahala dari Al Qur’an

Untuk sampai tingkat hafal terus menerus tanpa ada yang lupa, seseorang memerlukan pengulangan yang banyak, baik ketika sedang atau selesai menghafal. Dan begitulah sepanjang hayatnya sampai bertemu dengan Allah. Sedangkan pahala yang dijanjikan Allah adalah dari setiap hurufnya.

“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Qur’an maka baginya satu hasanah, dan hasanah itu akan dilipatgandakan sepuluh kali. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, namun Alif itu satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf.” (HR. At-Turmudzi)

7. Penghafal Al Qur’an adalah orang yang akan mendapatkan untung dalam perdagangannya dan tidak akan merugi

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS Faathir 35:29-30)

Adapun fadilah-fadilah lain seperti penghafal Al Qur’an tidak akan pikun, akalnya selalu sehat, akan dapat memberi syafa’at kepada sepuluh orang dari keluarganya, serta orang yang paling kaya, do’anya selalu dikabulkan dan pembawa panji-panji Islam, semuanya tersebut dalam hadits yang dhaif.

“Ya Allah, jadikan kami, anak-anak kami, dan keluarga kami sebagai penghafal Al Qur’an, jadikan kami orang-orang yang mampu mengambil manfaat dari Al Qur’an dan kelezatan mendengar ucapan-Nya, tunduk kepada perintah-perintah dan larangan-larangan yang ada di dalamnya, dan jadikan kami orang-orang yang beruntung ketika selesai khatam Al Qur’an. Allahumma amin” (dian)

Maraji’:
Abdul Aziz Abdur Rauf, Lc. Kiat Sukses Menjadi Hafizh Qur’an Da’iyah.
Dr. Yusuf Qardhawi. Berinteraksi dengan Al Qur?an.
(Fadhilah dari pk-sejahtera.org)

SIAPAPUN PEMBACANYA… MOHON DO’AKAN AKU…
Inginnya diri.. menjadi hafidz.. -_-

Iklan

Maret 24, 2010 Posted by | 1 | 1 Komentar

Ruang Pertemanan


Sebuah pertanyaan, mampir di inboxku. “Benarkah, tidak ada pertemanan abadi, yang ada kepentingan abadi ?” Pertanyaan yang sempat membuat bingung dan aneh. Karena diajukan oleh seseorang yang meremove-ku dari friendlist-nya. Yang memang menandakan, dia tidak meyakini dan mengharapkan sebuah keabadian dari sebuah pertemanan. Seorang sahabat juara nomor satu.  Dia menyertakan kata-kata seorang mahasiswa angkatan lama di Indonesia, Soe Hok Gie. Tentang “Buat apa kita berbicara tentang pahala dan syariat jika tidak ada yang namanya manfAat DAN guna.” Juga sebuah kutipan kalimat Marx “Hubungan itu akan terus ada selama masih ada kepentingan. Ketika kepentingan telah gugur, maka hubungan itu pun akan luntur.”

Kepentingan itu, selalu beriringan dengan sebuah hubungan. apapun jalinan yg akan dibuat. semuanya beserta dengan kepentingan. seperti hal-nya ketika seseorang akan menikah. maka dianjurkan memilih berdasarkan beberapa hal yg menjadi kepentingan bagi seorang laki-laki pula bagi seorang perempuan. Rupanya, kekayaan, keturunan orang baik-baik, atau agamanya.. maka bersiaplah untuk setiap resikonya. karena sebuah kepentingn yg tidak abadi, akan menghasilkan jalinan yang tidak abadi pula. kepentingan abadi, akan membuahkan keabadian pula pd sebuah jalinan.

Dalam pertemanan pun begitu. Jika kita berteman dengan kepentingan terhadap hartanya. Maka ketika teman kehilangan harta, maka pertemanan pun gugur. Harta adalah hal semu. Jika kita berteman karena agamanya, maka ia abadi. (agama/iman, adalah hal abadi) Namun, tidak semua manusia bisa mempertahankan agamanya. Itulah saatnya pertemanan gugur juga. (mirip dengan apa yg marx katakan) walaupun diriku hanya pernah mendengar namanya.

Hilang kepentingan-putus hubungan…

Lihatlah pertemanan anak-anak. Satu detik berteman, kemudian bisa bermusuhan. Agak aneh. Karena sifatnya pun seringkali hanya disebabkan oleh perbedaan yang sepele. Dan toh, permusuhan itu pun hanya sekejap. Dari kasih yang dalam, bisa berubah seketika menjadi permusuhan yang tajam. Kepentingan pertemanan dalam dunia anak adalah saling “sharing kebahagiaan”. Jika seseorang memiliki sesuatu yang menarik, maka ia berhak ditemani. Hingga bosan dengan permainannya, dan bisa menemukan permainan lain yang mengikat keduanya. Ada saja yang tidak mau membagi kebahagiaan dengan mainannya. Namun, itu lebih karena sifat egosentris yg belum terarahkan. Tapi, sharing kebahagiaan ini adalah nilai pertemanan yang abadi. Karena ia hanya lepas dari sifat alami seorang anak. Bukan karena ia berpikiran picik.

Satu hal lagi yang menjadikan pertemanan menjadi abadi bagi setiap kita. Adalah kemauan dan kemampuan kita untuk saling repot merepotkan. Lewat kerepotan kitalah, maka teman makin dekat. Dan kita bisa tanpa segan lagi merepotkannya. Hehehe.

Menyimak yang satu ini…

AL FURQAN : 28. Kecelakaan besarlah bagiKu; kiranya Aku (dulu) tidak menjadikan sifulan[1065] itu teman akrab(ku). 29. Sesungguhnya dia Telah menyesatkan Aku dari Al Quran ketika Al Quran itu Telah datang kepadaku. dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.

Luar biasa… pada ayat diatas diceritakan tentang pertemanan yang sampai-sampai disesalkan hingga di neraka, sungguh suatu pertemanan yang sangat buruk! Lalu dijelaskan hakikat dari pertemanan yang buruk tersebut bahwa pertemanan tersebut adalah pertemanan yang menjauhkan seseorang dari Al Qur’an. Tentu ayat ini tidak difahami dengan menutup diri dari pertemanan, namun hendaknya bentuk-bentuk pertemanan kita, forum atau kebersamaan kita jangan sampai menjauhkan kita dari Al Qur’an bahkan sebaliknya menjadi sebab dekatnya kita dengan Al Qur’an.

**Hanya secuil pikir…

Maret 21, 2010 Posted by | 1 | Tinggalkan komentar

Banyak Dinanti… SEORANG PEMBERANI

Lelaki 1

Dikepalanya berhimpun puluhan cita-cita. Kesuksesan.. Keberhasilan.. Kecukupan harta. Ia hanya tak ingin keluarganya dianggap rendah oleh orang lain. Dengan keberhasilannya itu ia ingin mampu membahagiakan istrinya dengan apapun yang ia punya. Ia berharap, anak2nya terpenuhi segala inginnya. Berusahalah ia, sekuat tenaga. Mewujudkan mimpi-mimpinya. Dan berhasillah ia. Harapan2nya tercapai. Ia bisa menanggung setiap kebutuhan hidup dengan lebih. Ia telah kaya.. berhasil. Baru ia menikah.. setelah kesuksesannya. PEMBERANI

Lelaki 2

Lelaki ini tak ingin sederhana. Ia punya satu cita2 besar yang hampir tercapai. Dan ia yakin itu. Bekerjalah ia sepenuh mampunya. Untuk terus memenuhi kebutuhannya. Masih belum tercapai cita2nya. Namun, ia sudah melihat cita2nya dengan jelas. Dimana sukses akan besertanya. Saat seseorang akan menjadi pendampingnya nanti. Mereka tak akan kekurangan. Saat anak2nya hadir nanti. Maka mereka akan hidup dengan senang dalam tanggungannya yang hampir menjadi besar. Maka, ia pun menikah.. pada perjalanan cita2 besarnya. Seorang PEMBERANI.

Lelaki 3

Ia hidup dalam kesederhaan. Bukan tidak berusaha. Ia berusaha, sekuat ia bisa. Toh rizki Allaah bukannya jauh. Ada saja yang dinikmatinya dalam kehidupannya. Ia bekerja dengan gaji yang menurutnya cukup untuk kehidupannya. Dan akan cukup buat siapapun yang kan menikmati rizki itu bersamanya kelak. Ia yakin, Allaah ada rizki untuk setiap manusia. Dirinya dalam tanggungan Allaah, istrinya dalam tanggungan Allaah, setiap anaknya pun akan berada dalam tanggungan Allaah. Maka ia menikah, bersama kesederhanaannya. SANGAT BERANI.

**Bukan tak boleh bercita2 besar. Hanya sebuah renungan. Tentang keyakinan pada Allaah atas rizki yang tak pernah tertukar. Rizki yang telah diatur-Nya untuk semua. Berpikir sempit untuk urusan ini, dengan terus merasa tak siap. Hingga akhir keberhasilannya.

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang di (kehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu” (QS At Thalaq:2-3)

Hanya ingin menemukan… seorang PEMBERANI SEJATI…

Maret 15, 2010 Posted by | 1 | Tinggalkan komentar

Satu Jejak Lagi


Jika harus kumulai dari satu sisi. Maka sebuah awal yang sama pun akan kutuliskan pula. Bahwa semua aktivitas yang kujalani setelah menyelesaikan bangku SMK-ku. Yaitu satu hal yang hingga saat ini aku berenang senang di dalamnya. Dunia pendidikan. 9 tahun sudah. Hmm… Alhamdulillaah masih betah. hehe

Sekarang mau memulai satu jejak lain ke arah yang sama. Tapi dari ranah yang berbeda. Jika sewaktu menjadi guru, aku berenang. Kali ini, mau berdansa di lantai training. Apa coba maksudnya ??

Insya Allaah.. akan bergabung dengan teman-teman di Balikpapan. Dalam sebuah lembaga training, SPEED Learning Center. Dua pekan yang lalu ikut pelatihannya. Ternyata, jadi trainer itu gampang-gampang susah. Yang penting, kuncinya… MAU. Ada lagi kunci yang lain… MEMBACA.

Dan ini sedikit ilmu yang ingin kubagi:

Mungkin setiap kita pernah mendengar kata “training”. Tapi, ga semua tau apa definisinya. Terbukti saat pelatihan, tak semua peserta mengetahuinya. Jadi, definisinya aku bagi di sini ya…

Ternyata, yang di maksud dengan training adalah proses sistematik yang mengarahkan pada perubahan keahlian, pengetahuan, sikap atau perilaku.

Dan orang yang memberikan training disebut trainer. Trainerlah yang menjadi fasilitator yang mengarahkan peserta pada perubahan keahlian, pengetahuan, sikap dan perilaku.

Tugas seorang trainer:

1) Melaksanakan tahapan trining

2) Memfasilitasi peserta untuk mendapatkan pemahaman melalui keterlibatan dalam pengalaman baru

3) Bukan mengajari tetapi menciptakan iklim belajar

4) Bukan menjelaskan satu arah, tetapi membantu peserta menemukan sendiri hal-hal yang berkaitan dengan tujuan training

Menurut aku sih, tu sama aja dengan guru. Namun, sang trainer dalam pelatihan itu bilang. Beda itu antara guru dan trainer. hehe..

Naaah… kalau kita dah jadi trainer. Ada empat tahap yang harus kita ketahui dalam menjalankan training.

Tahap 1>>> Need Assessment Training (NAT)

Ini adalah tahap. Dimana trainer mengumpulkan informasi mengenai peserta yang akan ditraining. Kemudian menganalisa gejala-gejala atau keterangan yang menunjukkan kekurangan dalam hal pengetahuan, skill, dan sikap mental peserta. Sehingga trainer bisa menentukan tujuan pelatihan dan isi materi pelatihan.

Dapat dilakukan dengan memberikan quisioner, observasi langsung, wawancara, diskusi dan laporan kelompok

Tahap 2>>> Frame of Training

Setelah tahapan NAT, trainer menyusun Frame of Training ini. Ia akan memetakan situasi dan kondisi. Merumuskan masalah yang didapatkan dari hasil NAT. Dan menentukan perubahan yang diharapkan dari peserta. Setelah itu, merekayasa solusi. Di saat ini, trainer menyiapkan materi yang tepat dalam training. Serta merancang alur training (semacam rundown acara)

Tahap 3>>> Pelaksanaan Training

Saatnya trainer beraksi menampilkan materi yang telah disiapkan. Dia bicara, bertanya, mengajak, memotivasi, memfasilitasi, dan bersenang-senang. hehe

Tahap 4>>> Evaluasi Training

Hal ini dilakukan beberapakali. Pada setiap usai satu sesi atau materi. Kemudian juga saat training berakhir. Jika pada akhir sesi, trainer bisa menanyakan apa yang sudah didapatkan olah peserta pada sesi tersebut. Dan pada akhir training membagikan lembar evaluasi mengenai penilaian peserta terhadap materi training, penyajiannya dan evaluasi terhadap trainer yang menyampaikan.

Itu dia ilmunya. Semoga bermanfaat ya.

Seharusnya, kalau TFT itu idealnya sih 3 hari gitu. Kemarin hanya sehari. Semoga cukup, sambil terus berbenah diri. Melengkapi kemampuan pelan-pelan, sedikit demi sedikit.

Bismillaah… Biidznillaah… Semoga jejak ini membawa berkah dan ridha Allaah. Amiin Yaa Rabb

Maret 7, 2010 Posted by | 1 | Tinggalkan komentar