Ini Jejak-Q

Hanya Satu Yang Akan Kita Tinggalkan… Ialah… JEJAK

Sepatah Kata… Dua Patah Kata… Dusiplin Kuncinya



Sepatah kata, dua patah kata, bukan berarti selanjutnya patah-patah lalu berserakan semua, tetapi justru dari satu patah, dua patah, dan selanjutnya …. hingga berkumpul membentuk sebuah patahan kalimat, mempola paragraf, kemudian tercipta untaian dalam bentuk halaman yang jika di print akan menjadi buku.

Tidak ada pemaksaan dalam menulis. Terserah, siapa yang butuh, siapa yang bahagia, dan siapa yang terbantu, semua tidak harus.

Dalam antrian yang melelahkan dan membosankan, sepanjang apapun antrian itu, kalau kita ada maksud dan tujuan, membayar tagihan misalnya, maka selain rela menerima berada di urutan keberapa pun antrian kita, mungkin di sisi lain kita akan ada juga usaha tambahan, datang lebih pagi, misalnya –untuk mengantisipasi berada di antrian yang paling panjang– ketika kita akan membayar tagihan untuk bulan selanjutnya.

Demikian dalam menulis, kebosanan, rasa capek, hilang ide (blank), tidak ada waktu luang, sibuk dengan aktifitas, dan alasan lain akan selalu merongrong kita. Tapi kalau kita sudah mempunyai maksud dan tujuan, kenapa saya suka menulis? untuk apa saya menulis? apa tujuan saya menulis? dlsb…alasan itu dengan sendirinya akan hilang di telan kuatnya keyakinan dan tujuan di akhir tulisan kita.

Menyempatkan waktu, mencicil, menulis topik yang ringan dan pasaran sekalipun, kalau dibiasakan dan terbiasa, itu yang akan membawa seorang penulis kepada ujung tujuan.

Jadi intinya adalah konsekwen dan disiplin. Itu saja. Sudah, tidak akan ada istilah antri apalagi alasan….

Menulis? Kenapa tidak? Bukan kah sudah berkomitmen? Sudah konsekwen?

Belom menulis juga?

Hehehe, ketahuan dech, ini dia orang nya yang belum bisa berdisiplin…..

(Nah lho! ayoooo siapa? :D)

Keelung Hospital, 12.08AM lima menit sebelum mata okti benar2 spaneng….

Iklan

April 17, 2010 Posted by | Disiplin menulis. Kata kunci | 7 Komentar