Ini Jejak-Q

Hanya Satu Yang Akan Kita Tinggalkan… Ialah… JEJAK

Si Kecil Mungil

Telah menceritakan ini, di hadapan teman-teman kecilku di kelas Laksamana Cheng Ho. Sebenarnya ada lanjutannya. Namun, kisahnya dengan hikmah yang sama. Semoga bermanfaat.

*****@*****

Di tepi sebuah hutan, hiduplah seorang pemuda. Pemuda yang istimewa. Namanya, si Kecil Mungil. Disebut seperti itu, karena tubuhnya yang kecil mungil. Kaki yang kecil mungil. Tangan yang kecil mungil. Kepala yang kecil mungil. Mata yang kecil mungil. Hidung yang kecil mungil. Bibir yang kecil mungil. Semua bagian tubuh yang tentu saja kecil mungil.

Di hari yang cerah. Kala langit biru bersih, si Kecil Mungil pergi bermain ke tepi sebuah sungai. Air sungai sungguh jernih. Si Kecil Mungil melempari batu-batu kecil dari tepi sungai ke arah arus air yang tidak deras. Hingga muncullah bunyi kecipak air yang terpecah. Saat itu, lewat seekor kuda yang kemudian melihat Kecil Mungil yang sedang bermain.

”Huahahahaha.. tubuhmu kecil sekali.”, kata si Kuda
”Lalu mengapa kalau tubuhku kecil..?”, Kecil Mungil menatap Kuda dengan pandangan tajam.
”Hehehe.. jangan tersinggung ya. Dengan tubuh sekecil itu, kau tidak akan bisa lebih cepat dariku, untuk sampai ke lembah sebelah sana.”, ejek si Kuda sambil terkekeh.

Kecil Mungil, memandang ke arah yang ditunjuk oleh Kuda. Lalu berkata,

“Siapa bilang begitu..? Tentu saja aku bisa lebih cepat.”, ujar Kecil Mungil.
”Hahahahaha.. aku ini, kuda tercepat di kelompokku. Makhluk sekecil dirimu, tidak akan mungkin mengalahkan kecepatanku. Kau ini, ada-ada saja.”, Kuda mencibir ke arah Kecil Mungil.
”Hmm.. kita buktikan saja. Bagaimana kalau pekan depan, kita berlomba cepat-cepatan. Siapa yang sampai lebih dulu di lembah, dialah pemenangnya.”, tantang si kecil mungil.
”Aku pasti menang, karena aku tinggi dan besar. Juga paling cepat. Kecil Mungil seperti dirimu ini, tidak ada apa-apanya dibandingkan diriku.”, Kuda menyombongkan dirinya. ”Kita bertemu di sini pekan depan. Bersiaplah untuk kalah. Huh..!!”, Kuda memalingkan muka, dan berlalu pergi.

Dalam perjalanan pulang ke rumah. Kecil Mungil berpikir. Bagaimana caranya, aku bisa lebih cepat dari Kuda ya..?? Kecil Mungil terus berpikir.

(Pertanyaan ini aku ajukan kepada teman-teman kecilku, yang kemudian antusias memberikan jawabannya. ”Berpikir.. berpikir.”, kataku. ”Sepeda motor, bu.”. ”Berpikir.. berpikir.”, kataku lagi. ”Motor Rossi, bu.”, “Ayooo, berpikir lagi.”, pancingku. ”Pesawat jet, bu.”, “Terus berpikir.”, kataku. ”Mobil, bu.” dan beberapa jawaban yang lain)

Setelah diskusi pendek antara si Kecil Mungil dengan teman-teman kecilku. Maka diputuskan, Kecil Mungil akan menggunakan mobil sebagai alat balapannya dengan si Kuda.

Hari balapan tiba. Kuda telah sampai lebih dulu di tepi sungai. Dia melihat kedatangan Kecil Mungil yang berada di dalam sebuah benda aneh.

”Benda aneh apa yang kau pakai itu..?”, tanya Kuda.
”Ini namanya, mobil.”, jawab Kecil Mungil.
“Kau pikir bisa mengalahkan aku dengan benda kotak ini.”, Kuda meringkik, mengangkat kakinya tinggi, sambil menggeleng-geleng. “Ayo kita mulai saja. Tidak sabar aku melihat kau kalah. Huwahahaha.”

Balapan pun dimulai.

Kuda melaju lebih dulu. Dia berlari sekencang mungkin. Hingga dilihatnya, benda aneh yang disebut mobil itu, mulai mendekat.

Kecil Mungil menengok Kuda dari jendela mobilnya. “Kudaaaa, perhatikan ya, ini namanya gaaaaassssss.”, Kecil Mungil menginjak gas mobilnya agar berjalan lebih cepat dan sampai di lembah tujuan lebih dulu.

(By Afi)

*****@*****

Orang-orang sombong, menggunakan otaknya hanya untuk mengingat kemampuan yang ada pada dirinya. Dan mereka hanya mengetahui, sebatas apa yang mereka mampu. Mereka tidak merasa perlu memiliki lebih dari yang dimilikinya. Karena, sudah cukup bagi dirinya. Sehingga ia, tak akan melihat ada kemampuan lain yang melebihi kemampuannya.

Sedangkan seorang yang terlepas dari kesombongan, menggunakan otaknya untuk mencari hal lain, yang akan membuat kemampuannya semakin baik. Ia menyadari bahwa kemampuannya bukanlah apa-apa. Bahwa, jika ia adalah puncak gunung, maka di atasnya ada langit. Jika ia langit pertama, maka ada langit yang kedua. Jika ia ada di langit kelima, sesungguhnya.. langit itu ada tujuh.

Iklan

September 1, 2010 Posted by | Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

Kalah Perang

Bila saja webcam di laptop yang sedang kugunakan, kuaktifkan, tentu dia telah merekam tiap rinci ekspresi malasku yang sepanjang hari ini terduduk di depan si acer milik abangku. Mulai dari wajah ceria, wajah tidak bersemangat hingga mimik wajah menahan kantuk yang hebat. Aku sendiri tidak tahu seperti apa wajahku dengan mata sayu yang dipaksa-paksakan terbuka. Bola mata yang kudapatkan dari orang tua asli suku Minang pesisir, mungkin saat ini tampak layaknya keturunan cina saja, terbuka kecil seperti mengintip. Bedanya, sipit yang dihasilkan tidak menarik, tidak cerdas tatapannya melainkan kosong. Cuaca lembab, angin dingin yang diam-diam menyelusup masuk dari celah ventilasi warnet, memperparah mata ini! Dan disaat yang bersamaan tubuhku tak lagi mampu bertahan tegak, seakan turut saja perintah si otak: tidurlah!

“mba..”

“MasyaAllah aku tertidur!”

Juni 3, 2010 Posted by | Tak Berkategori | 3 Komentar

I’m OUT

**Ssssssstttt… Ngomongin siapa siiiiiih… aku ikut dengerin ya… 🙂

Bang Choleh: Ngapain ikut2…??

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Tahukah kalian apa itu ghibah?”, Mereka menjawab: “Allah dan rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau bersabda: “Yaitu engkau menceritakan tentang saudaramu yang membuatnya tidak suka.” Lalu ditanyakan kepada beliau: “Lalu bagaimana apabila pada diri saudara saya itu kenyataannya sebagaimana yang saya ungkapkan?” Maka beliau bersabda: “Apabila cerita yang engkau katakan itu sesuai dengan kenyataan maka engkau telah meng-ghibahinya. Dan
apabila ternyata tidak sesuai dengan kenyataan dirinya maka engkau telah berdusta atas namanya.” (HR. Muslim)

**Gitu ya bang..??

Bang Choleh: Ada lagi niiih…

Diriwayatkan dari
Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Wahai sekalian orang yang telah menyatakan Islam dengan lisannya namun iman belum masuk ke dalam hatinya,janganlah kalian semua menyakiti sesama muslim, janganlah kalian membuka aib mereka, dan janganlah kalian semua mencari-cari (mengintai)kelemahan mereka. Karena siapa saja yang mencari-cari kekurangan
saudaranya sesama muslim maka Allah akan mengintai kekurangannya, dan siapa yang diintai oleh Allah kekurangannya maka pasti Allah ungkapkan,meskipun dia berada di dalam rumahnya.” (HR. at-Tirmidzi, dishahihkan oleh al-Albani dalam shahih sunan at-Tirmidzi 2/200)

**Waduuuuuh… trus gimana dong bang..??

Bang Choleh: Terserahlaaaaah… hidup ni pilihan kan..??

“Ghibah itu
lebih keras daripada zina.” Mereka bertanya: “Bagaimana ghibah lebih keras dari zina, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Sesungguhnya seseorang telah berzina, kemudian bertaubat dan Alloh pun mengampuni dosanya, sedangkan orang yang melakukan ghibah tidak akan diampuni Allah, hingga orang yang di-ghibah-nya mengampuninya.” (HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman)

Astaghfirullaah… maaf ya… ga jadi ikutan… ternyata friend… ngomongin orang tu… benar atau tidak… tetap salah… Sori I’m out… Semoga kau ikut out juga… kecuali… 🙂

Mei 10, 2010 Posted by | Tak Berkategori | 7 Komentar

Dua Nama, Satu Cinta

Kawan, sosok seperti apa yang kan sanggup menyentuh hatimu..?? Apakah figur raja, dengan banyak kekuasaannya..?? Atau artis, yang gemilang dengan ke-glamour-annya..?? Mungkin satu nama yang kau kenal karena kesuksesannya yang mendunia..?? Setiap nama yang bergema di udara dunia, adalah nama-nama penuh dedikasi. Di mana setiap gerak dan nafas, adalah usaha patriotisme. Patriotisme terhadap diri, keluarga, bangsa, agama, dan dunia. Banyak nama tercantum dalam sejarah, izinkan.. kusebut dua nama.. Pak Kasur dan Bu Kasur.

Gabungan kesederhanaan, kelembutan dan kebijaksanaan, yang hadir di lantai persada. Biar kuceritakan, sejauh mana sanggup kulukiskan.. entahlah.. nilailah.. semoga kau suka kawan.. Selamat memasuki, dua hidup manusia-manusia penuh cinta.. yang bersatu dalam cinta..

Pertemuan Cinta

Mereka lahir dengan nama Sandiah dan Soeryono. Sandiah lahir di Jakarta, 16 Januari 1926. Sedangkan Soeryono di Purbalingga, Jawa Tengah, 26 Juli 1912. Dari keluarga yang berbeda, daerah yang berbeda pula.

Sandiah menamatkan pendidikan di Meer Uitgebreid Lager Onderwijsi (MULO), di akhir tahun 1930-an. Ia bergabung dalam Kepandoean Indonesia. Awalnya, Sandiah bekerja, dan bertemu dengan pemuda Soerjono ketika sama-sama menjadi pegawai di Kantor Karesidenan Priangan, Bandung. Pertemuan cinta yang menyatukan keduanya. Dan menikahlah mereka di Jogjakarta, pada 29 Juli 1946.

Saat dikaruniai anak, Sandiah meminta izin untuk bekerja kembali. Kalimat inilah yang diucapkan oleh sang suaminya yang bijak kawan, ”Boleh, bagus itu. Cuma kalau kamu kerja, aku yang di rumah. Itu kan anak kamu dan anakku, masa jadi anak simbok.” Hebat tidak kawan..?? Kalimatnya positif dengan tujuan yang positif. Lewat cara itu, tidak membuat Sandiah marah karena dilarang. Dia tetap mengasuh anak-anaknya di rumah sambil menyempatkan menulis di majalah anak-anak. Hmm.. itulah Sandiah, kawan.

Kebijaksanaan, itulah yang menarik pada kepribadian Pak Kasur, pada satu waktu, beliau berkata kepada Bu Kasur, ”Kalau manis jangan langsung ditelan.. Kalau pahit jangan serta merta dimuntahkan.” Artinya, kata Bu Kasur, ”Bahwa sebelum menentukan sikap.. Ada tiga hal lain yang perlu kita lalui.. Melihat proses.. Melakukan analisa.. Dan Membuat kesimpulan.”

Di Kepanduan, Soeryono, dipanggil dengan sebutan Kak Soer, oleh sahabat-sahabatnya yang akhirnya menjadi Kasur dan panggilan yang terus lekat kepadanya, adalah Pak Kasur. Sandiah pun akhirnya di panggil dengan panggilan yang sama dengannya, Bu Kasur.

*Bila saja kawan, setiap ayah dan ibu berpikiran sama seperti yang diungkapkan Pak Kasur. Maka, banyak anak akan merasakan lebih banyak waktu bersama orang tuanya. Terutama sang ibunda. Mungkin hal ini tak sepenuhnya bisa berlaku. Namun, mengusahakan kebahagiaan bagi seorang anak, adalah bentuk kebahagiaan bagi orang tuanya pula.

Membangun dunia cinta

Pak Kasur dan Bu Kasur sangat mencintai anak-anak kawan. Hingga, di tahun 1965, ketika keluarga mereka pindah dari Bandung ke Jakarta. Mereka mendirikan TK Mini Pada 1968. Pak Kasur mencapai usia pensiun dari Depdikbud dalam kapasitasnya sebagai anggota Badan Sensor Film (BSF). Awalnya, TK itu berada di rumahnya di Jln. H. Agus Salim dengan Taman Kanak-kanak, Taman Putera, dan Taman Pemuda. Sayang sungguh sayang, Taman Putera dan Taman Pemuda malah ditutup.

Itulah dunia cinta yang dibangun oleh dua nama istimewa itu kawan. Dunia yang dibangun atas nama cinta, kepada anak-anak dan pendidikan di Indonesia.
Ketika keduanya meninggal, Yayasan Setia Balita kemudian dilanjutkan oleh putra-putri Almarhum, yakni, Sursantio (lahir 1948), Suryaningdiah (1950), Suryo Prabowo (1951), Suryo Prasojo (1958), dan Suryo Pranoto (1962).

Saat ini bangunan dunia cinta itu kian berkembang kawan, dan terus membagi cinta untuk anak-anak Indonesia. Kini, Yayasan Setia Balita mengelola 5 cabang TK Mini Pak Kasur dan mengasuh 1 Taman Kanak-kanak (TK. Ceria Bangsa) yang tersebar di wilayah Jakarta, Bekasi, Tangerang, Cibubur & Surabaya.

Alumni dari TK ini, di antaranya adalah Presiden Megawati, Guruh dan Hayono Isman (mantan Menpora) serta Ateng (pelawak). Juga hampir seluruh cucu bahkan cicit H.M. Soeharto, almarhum, mantan presiden, sekolah di TK Mini Pak Kasur. Terlepas dari apapun kawan. Mereka adalah orang-orang besar dan sukses dalam bidangnya masing-masing, yang pernah dididik oleh tangan-tangan kasih dan pelukan sayang Pak Kasur dan Bu Kasur.

*Inilah yang sedang kusiapkan kawan. Pelan-pelan, kubangun dunia cintaku sendiri. Dari membeli mainan, buku-buku. Begitulah kawan, betapa ingin kubagi cinta ini pada pemilik kaki-kaki mungil yang setiap hari selalu menemaniku bermain. Tak berharap sesukses Pak Kasur dan Bu Kasur. Setidaknya, aku berharap bisa mencontoh kecintaan mereka pada dunia anak dan pendidikan. Sehingga anak-anak asuhanku, adalah murid-murid paling bahagia.

Acara-acara Cinta

Pada tahun 1950-an, bersama Pak Kasur, Bu Kasur mengasuh siaran anak-anak di RRI Jakarta. Ketika TVRI berdiri pada tahun 1962, Ibu Kasur mengasuh acara serupa, yaitu Arena Anak-anak dan Mengenal Tanah Airku. Pada awal tahun 1970-an, Ibu Kasur dikenal sebagai pengasuh acara Taman Indria di TVRI. Taman Indria adalah sebuah acara yang menampilkan anak-anak berbakat. Mereka datang ke studio untuk bernyanyi dan lain-lain. Serta diselingi dengan pesan-pesan pendidikan. Ketika televisi swasta muncul, Bu Kasur juga hadir di acara Hip Hip Ceria di RCTI.

Semua aktivitas keduanya, tak lepas dari dunia anak dan pendidikan. Pak Kasur, mengajak Bu Kasur untuk terlibat dalam setiap apa yang dikerjakannya. Waktu zaman Belanda, Pak Kasur adalah seorang guru HIS. Begitu pula saat menjadi pegawai Departemen Penerangan dan Pak Kasur sering mengumpulkan anak-anak di halaman rumah untuk siaran RRI.

Bu Kasur, yang belum terbiasa untuk siaran, mulanya merasa berat saat dipaksa oleh Pak Kasur untuk sesekali menggantikannya, setiap kali Pak Kasur berhalangan atau sedang berada di luar kota. Apa kata Pak Kasur kawan, ”Kamu bisa. Kamu harus bisa, sebab kamu mesti bantu saya.” Bukankah memang begitu seharusnya kawan. Suami dan istri akan saling mendukung dalam setiap aktivitas mereka. Bu Kasur sempat gemetaran dan tersendat ketika siaran. Namun, lama kelamaan, Bu Kasur pun menjadi bisa.

*Kebahagiaan adalah ketika kita merasa beruntung berada di satu tempat kawan. Dan ketidakberuntungan adalah, ketika kita merasa beruntung, jika berada di tempat lain. Menikmati kehidupan kita, di tempat yang kita sukai adalah penting. Melaluinya dengan rela dan penuh suka cita, adalah karunia terbesar dalam hidup ini kawan. Tiada hal akan berjalan baik, jika bersembunyi pamrih, di balik setiap gerak kita.

Karya-karya cinta

Tahukah kalian kawan..?? Banyak hal di taman kanak-kanak diajarkan lewat lagu. Lewat lagulah mereka belajar tanpa merasakan bahwa mereka sedang diajari. Anak-anak sangat suka menyanyi. Itulah mengapa, Pak Kasur dan Bu Kasur membuat lagu untuk anak-anak Indonesia. Lagu-lagu yang sarat ilmu dan pesan.

Inilah beberapa karya itu:

Selamat Pagi Pak, Potong Bebek Angsa, Bangun Tidur, Naik Delman, Di Sini Kita
Bertemu Lagi, Satu-Satu, Kebunku, Sepedaku Roda Tiga, Pelangi, Siapa Dapat Berbaris, Keranjang Sampah, Lihat Kebunku, dan lain-lain.

Karya Pak Kasur sendiri ada sekitar 140 lagu kawan. Sedangkan buatan Bu Kasur ada 20 lagu.

Jika melihat judul-judul di atas, bisa jadi banyak di antara kita yang akan menyenandungkannya. Masih ingat yang satu ini..??

Satu satu aku sayang ibu

Dua dua aku sayang ayah

Tiga tiga sayang adik kakak

Satu dua tiga sayang semuanya

Yakin deh, kalian tahu lagu ini. Sederhana, tapi sarat makna. Pesan untuk menyayangi setiap anggota keluarga sekaligur belajar berhitung.

Begitu cintanya Pak Kasur dan Bu Kasur pada anak-anak. Sehingga, saat membuat lagu-lagu itu, mereka memikirkannya dengan sangat hati-hati. Mudahkah lagu itu dinyanyikan nantinya oleh anak-anak. Dan salah satu hal yang sangat diperhatikan adalah untuk tidak menggunakan huruf ’r’ pada lagu-lagunya. Atau setidaknya, tidak terlalu banyak huruf ’r’ di dalam lagu buatan mereka. Kawan, kalian tau sebabnya kan..?? Ya.. karena huruf ’r’ adalah huruf yang sulit untuk dikuasai oleh anak-anak usia dini. Betapa kawan, hal itu tidak pernah terpikirkan olehku. Meskipun, hal itu memang akan sulit dalam pembuatan lagu-lagu mereka. Mungkin tampak sepele.. tapi tidak sesederhana yang kalian baca.

*Sungguh kawan, setiap kita, mungkin akan sanggup memberikan kebahagiaan bagi orang lain. Namun, tak banyak di antara kita yang memberikan kebahagiaan itu, dengan menambahkan sisi-sisinya dengan kebahagiaan yang lain. Seperti hal-nya persoalan huruf ’r’ di lagu manusia-manusia penuh cinta ini. Memberikan bahagia yang berbunga bahagia. Hmm… demikianlah cinta yang seharusnya.

Hidup dan bekerja dengan cinta

Mereka berbuat dengan semangat hingga usia senja. Terus mengusahakan senang bagi anak-anak asuhannya. Hingga Tuhan menjemput mereka kembali. Pak Kasur meninggal pada tahun 1992 dan Bu Kasur di Jakarta, 22 Oktober 2002. Tak perlu menjadi sedih atas kepergian mereka. Namun, ambillah pelajaran dari, bagaimana mereka hidup.

Seperti sebuah kalimat pada sebuah blog. Pak Kasur dan Bu Kasur, adalah manusia-manusia yang ”Mengecil di antara yang membesar.” Di kala setiap tokoh gemilang dengan nama-nama mereka. Keduanya tetap hidup dengan sederhana.

Dari sosok-sosok inilah, aku makin mengenal keikhlasan, kecintaan dan keindahan berbuat sesuatu. Tanpa ragu terus berkarya, meskipun tiada jaminan, akan ada yang membayar segala hal yang telah diperbuat di dunia ini. Melalui figur-figur mereka, aku belajar tentang arti bangga akan profesi ini. Di kala yang lain harus malu-malu menyebut dirinya sebagai guru. Di saat beberapa orang mengucapkan dengan pelan tentang pekerjaannya. Maka mereka lantang dalam diamnya. Dengan setiap kerja mereka, mereka berkata, ”Kami adalah guru.”

Tak perlu disebutkan pun jasa mereka, mereka tetap berjasa. Senyum-senyum yang mengembang di wajah-wajah anak asuhan mereka. Adalah jasa tiada tara. Ketika mulai banyak anak yang tak mendapatkan lebih banyak perhatian dari orang tua mereka, perhatian mereka itulah jasa. Pelukan sayang mereka adalah jasa. Pujian dan tepuk motivasi mereka adalah jasa. Perubahan-perubahan kecil pada anak-anak asuhan mereka, dari salah menjadi benar, buruk menjadi baik, malas menjadi rajin. Itulah jasa kawan. Tak kasat mata, namun bermakna. Makna besar bagi masa depan anak-anak bangsa.

Lewat tulisan inilah, aku persembahkan cinta mereka pada pendidikan Indonesia.

Setidaknya.. cintailah anak-anak di sekitar kita. Anggaplah mereka ada, hargai mereka, dan jadilah sahabat bagi mereka. Semoga bermanfaat..

Kawan.. Menginspirasilah atau Terinspirasilah..

Karena.. KITA BISA !

Literatur:

http://www.seruu.com/biography-seruu
http://lini.via-lattea.org
http://www.tkminipakkasur.com

Mei 8, 2010 Posted by | Tak Berkategori | 1 Komentar

The Power of Iseng (Pengalaman Pribadi yang Semoga Menginspirasi)

Kemarin lusa, tidak sengaja saya menemukan blog seorang teman yang tidak punya tampang seorang penulis. (Apakah bikin blog harus punya tampang penulis?) Ya memang tidak, sih. Tapi biasanya orang yang doyan nge-blog itu kan suka menulis. Paling tidak, nulis tutorial lah (yang mungkin juga copy paste).

Well, back to my friend. Biar sedikit saya ceritakan tentang dia. Dia seorang cowok kuliah-an. Menurut pandangan saya (yang memang sering kali salah ini) dia bukanlah seseorang yang punya ‘sixth sense’ yang notabene dimiliki para penulis. (Cara-pandang-unik-dan-lain adalah sixth sense-nya para penulis bagi saya. hehe). Tapi, ketika melihat tulisannya di blog, pandangan saya terhadapnya langsung berubah 180 derajat.

Tulisannya memang biasa. Masih butuh banyak pembenahan di sana-sini. Entah itu menyangkut penataan kata atau tanda baca. Interest-nya juga kurang. Saya merasa bisa membenahinya jadi lebih sempurna. Apa saya memang bakat ngedit, ya? Tapi tidak. Saya tidak mau cuma jadi editor. Karena saya ingin jadi penulisnya, bukan sekadar pembenah. Memang gampang menilai tulisan orang lain. Tapi membuatnya sendiri?

Inilah pukulan telak bagi saya. Mau komentar tentang tulisan orang lain, sementara blog saya sendiri? Melompong. Ironis…. Saya merasa salut terhadap teman saya ini. Tidak disangka-sangka, ternyata dia punya tulisan juga. Sebagai orang yang ngaku penulis, tentu saja saya malu. Hmph….

Dari sini saya mempelajari satu hal. Ternyata motto ‘write is not my hobby, but it’s my life style’ saja belum cukup untuk mengubah mental saya menjadi penulis yang menulis (karena selama ini saya masih berkhayal, belum nulis beneran). See, my blog is empty. Yang ada di sana adalah tulisan-tulisan lama saya yang ‘terpaksa’ diposting demi mengisi blog agar tidak kelihatan sia-sia banget. Padahal kalau saya jalan-jalan ke ‘rumah’-nya blogger lain, tulisan mereka selalu update meski topik yang dibicarakan masih itu-itu saja. Hm… saya baru sadar kalau saya ini terlalu perfeksionis sebagai penulis.

Dalam menulis, saya memang punya motivasi, saya punya tujuan. Tapi kenapa tidak ada tulisan yang tertuang? Setelah saya telisik-telisik lagi ke dalam diri, sepertinya ada sesuatu yang dipaksakan di sini. Saya harus menulis! Kalimat itulah yang ternyata ‘menekan’ saya selama ini. Memang ia adalah motivasi yang mengharuskan tangan saya untuk terus menulis. Tapi di alam bawah sadar, sebenarnya jiwa saya menolak. Dasarnya saya sendiri bukan orang yang bisa dipaksa. Maka saya pun mencari cara alternatif untuk membuat diri sendiri mau menulis.

Iseng.
Orang tak pernah tertekan setiap melakukan perbuatan iseng. Orang tak usah berpikir panjang untuk berbuat iseng. “Halah, cuma iseng ini.”
Seperti istilah, nothing to lose aja gitu. It’s easy. Fun. Free. No pay.
“Iseng ah, ngisi TTS. Daripada ngelamun….”
“Wih, ada lomba nih. Iseng ah ngirimin. Siapa tau menang. Kan lumayan.”
“Wah, ngeblog ni ye sekarang?” “Ah, iseng aja. Siapa tau berguna.”

…dan sederetan contoh iseng-iseng lainnya.

Ada istilah keren yang masih terkenal hingga sekarang yaitu iseng-iseng berhadiah.
Ternyata dari jaman dulu kegiatan iseng ini sudah ‘dinobatkan’ lho sebagai kegiatan yang bisa mendatangkan HADIAH! Atau lebih tepatnya dido’akan supaya menguntungkan bagi yang berbuat. Entah siapa pencetus kalimat ampuh itu. Tapi yang pasti, ini adalah mantra buat saya bergerak!

Mungkin buat sebagian orang ini bukanlah hal yang wah! Toh dari kita juga sudah banyak yang mengenal tips-tips agar rajin nulis. Betul? Tapi bagi saya pribadi atau mungkin ada orang lain yang merasa ‘senasib’ dengan kemalasan saya, ungkapan ‘iseng-iseng berhadiah’ ini bisa sangat berguna sekali. (sangat dan sekali).

Sebenarnya, energi apakah yang terkandung di dalam perbuatang ‘iseng’ ini? It’s easy. Fun. Free. No pay.
No pay!
Free!
Hati kita seperti ikhlas melakukannya…. Ikhlas! Itulah kuncinya. Ada energi besar dalam setiap perbuatan yang dilakukan dengan ikhlas, tanpa beban. Pasrah.

Apakah ini ada hubungannya dengan quantum ikhlas? Apa korelasi antara perbuatan iseng dengan energi ikhlas?
Tunggu saja tulisan saya selanjutnya.

Well, saya jadi teringat kata banyak penulis sukses, “Kalau mau nulis, nulis aja. Gak usah mikir.”
Sudah saya coba terapkan ini tapi ternyata tidak gampang juga. (Apa dasar saya yang terlalu malas, ya? Hh….) Jadi, mulai sekarang saya mengatakan pada diri sendiri setiap kali ada ide,

“Iseng ah nulis…. Siapa tahu ntar ada yang terinspirasi….”
(hehe)

Selamat iseng.

Cheers up!
Lana Azkia

Mei 8, 2010 Posted by | ikhlas, iseng, nulis, power | 3 Komentar

Mempertanyakan Perubahan

Adakah hal yang tidak mengalami perubahan di bumi kita ni..?? Sedangkan perubahan adalah hal yang terus terjadi. Sebuah batu pun mengalami perubahan seiring dengan tempaan lembut tetesan air. Baja pun mengalami perubahan oleh ketrampilan manusia yang diilhamkan Allaah kepadanya. Mendungpun berubah menjadi hujan.. ia awalnya ringan kemudian menjadi berat. Adakah yang tidak berubah..??

Pergolakan demi pergolakan di negeri ini pun, seringkali menimbulkan perubahan. Perubahan kepemimpinan, perubahan dalam pengembangan wilayah bahkan pengecilan wilayah yang diakibatkan oleh kesewenangan negara sahabat yg kurang bersahabat, atau bisa jadi karena managemen negeri yang kurang rapi..?? Sehingga perubahan-perubahan yang terkadi adalah perubahan ke arah yang beberapa di antaranya lebih kepada perubahan ke arah yang kurang baik. Dari yang benar menjadi salah.. lebih menjadi kurang.. atau apa ya..?? Maaf ya pemimpin-pemimpin negeriku.. Inilah yang aku rasakan. Aku ungkapkan dari kenyataan yang aku saksikan atau aku dengar dari orang lain.

Dua hal yang terus berkecamuk di ruang rasaku.. ketika melihat dan mendengar dua hal, yang menurutku penting di negeri ini yang berubah.. bukannya menjadi baik malah menurutku.. hanya menghilangkan nilai-nilai baik di dalamnya.

Namun, kali ini kuceritakan satu hal lebih dulu.. Satu hal penting yang menggores hatiku. (Sungguh..) -_-

Hal pertama yang baru saja aku gali dari ruang belajarku. Meskipun belum terlalu mendalam. Karena hanya coba kuraih dengan banyak bertanya pada para aktivisnya. Tentang sebuah sekolah, yang ditujukan untuk para calon guru saat itu, Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Bagaimana kekecewaan beberapa rekan yang dulu berasal dari SPG, pula ungkapan seorang dosen yang sempat menjadi dewan pengajar di SPG. Bahwa mereka menyesali ditutupnya SPG.

Maka mengalirlah.. seuntai kenangan dari SPG.. yang membuatku jadi bertanya-tanya.. mengapa hal itu tak dilanjutkan..??

SPG benar-benar ditujukan untuk membentuk karakter guru yang sangat kuat. Apakah itu guru matematika, bahasa dan lainnya. Rekan kuliahku, seorang ibu yang telah menjadi guru PAUD, menceritakan. Bagaimana mereka dahulu dididik. Dari hal berpakaian. Seorang siswa SPG tidak boleh menggulung lengan bajunya. Bagi siswinya, diwajibkan untuk memakai rok. Dulu pun, menurut ceritanya.. guru tidak boleh memakai celana. Begitukah..?? Merajuk hatiku.. Kenapa?? Hal seperti itu tak diteruskan..??

Melihat penampilan para calon guru sekarang.. entah memang berniat jadi guru, atau karena ga dapat jurusan dan ga ada jurusan lain. Datang ke kampus dengan pakaian ketat, bagian leher yang cukup lebar, celananya pun tak beda dengan bajunya. Lalu, apalagi yang mesti diteladani oleh siswa-siswanya kelak..?? Lagi.. hatiku gerimis.. Tak bermaksud menghakimi. Namun, betapa yang terlihat nanti di sekolah-sekolah tanpa aturan berpenampilan bagi guru.. yaa.. penampilan seperti itulah. Ingin tersenyum.. tapi itu salah. Jadi, menangis saja.. T_T

Lanjut kutanya pada dosenku.. apa saja pelajaran di SPG itu. Mereka diajarkan teknik bertanya. (?????) Dimana harus kucari pelajaran macam tu. Sedang dosenku berkata, pelajaran itu tidak pula diberikan di perguruan tinggi (FKIP). Jika tak menemukan bukunya yang menjelaskan hal ini, mungkin banyak guru di luar sana, melakukan banyak kesalahan saat bertanya kepada siswa-siswanya (termasuk diriku). Rasaku ulang berontak. Kenapa SPG ditutup..?? Sedangkan mendengar kisahnya saja.. aku sudah merindukan pembelajaran di sana. @_@

Dosenku pun melanjutkan kisahnya. Bagaimana seorang siswa SPG, akan diajarkan Didaktik matematika, didaktik bahasa indonesia. ”Pelajaran apa itu, bu..?”, tanyaku penuh rasa ingin tahu. ”Masing-masing pelajaran itu ada cara mengajarnya sendiri-sendiri sayang.”, katanya. Bagaimana mengajarkan berhitung, bagaimana mengajarkan pelajaran yang satu dengan yang lain. Berbeda.. Ungkapnya lagi. Makin buncah cemburuku pada masa-masa itu. Seindah itukah seharusnya pendidikan bagi calon-calon guru ?? @_@ Lalu mengapa keindahan itu diputus..??

Dikisahkan pula olehnya, tentang aktivitas pembuatan karya siswa-siwa SPG. Dalam pembuatan Alat Peraga Edukatif (APE), setiap siswa, dinilai dari setiap aspek. Bagaimana kesabaran dalam pembuatannya, bagaimana kerapiannya, bagaimana ketepatan dalam banyak hal (ukuran, penggunaan alat dan bahan, dll). Sungguh, hampir jatuh dari sudut mataku, aliran bening itu. Mendengar seorang calon guru yang kuyakini mereka berada dalam pendidikan dan tempaan yang tepat kala itu. Hingga jatuhlah deras.. saat kutuliskan artikel ini. Mengingat kisah-kisah guru ’killer’. Cerita-cerita tentang guru-guru ’monster’. Yang menyakiti hati.. bahkan fisik murid-muridnya. @_@

Mungkin karena ketidak pahamanku mengenai kisah ditutupnya SPG. Namun, ini adalah endapan rasa. Yang kutahan berhari-hari, dan belum sempat menuliskannya, karena masih berada di tengah-tengah tumpukan tugas. Masih mencoba mencari tahu. Hanya saja, setiap hal akan ada sisi kurang dan lebihnya kan..?? Namun, sepenggal pengalaman dari dosen dan rekan kuliahku itu, cukup menorehkan harapan. Bahwa, sesungguhnya.. negeri ini pernah diurus dan diperhatikan dengan rapi. Bisa jadi, oleh orang-orang yang benar-benar mencintai negeri ini dengan tulus.

Masih berharap.. muncul manusia-manusia seperti itu. Lihatlah nasib pendidikan… Memanglah.. pendidikan adalah tanggung jawab bagi setiap penghuni negeri ini. Namun, ujung tombaknya adalah guru. Ksatria-ksatria yang berada di garis depan pendidikan, adalah sosok-sosok guru, yang kan selalu digugu dan ditiru.

Duhai.. tangan-tangan siapakah.. yang kan berdaya, menuju perubahan ke arah cahaya.
Teringat kalam Allaah.. yang disuratkan dalam Al Qur’an..

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” QS 13:11

Namun.. kemanakah arah.. kita berubah..??

Harapan.. wujudlah..

Yaa Allaah.. arahkan langkah-langkah kami, pada hal-hal indah di dekat-Mu. Yaa Rabb.. karuniakan kepada kami kebenaran-kebenaran.. yang mengeliling-Mu. Hingga diri kami.. dan anak cucu kami, hanya berubah menjadi hamba-Mu.. selalu. Amiin yaa Rabb..

April 26, 2010 Posted by | Tak Berkategori | 1 Komentar

Burung Paling Hebat


Dua anak burung sedang bertengger di dahan pohon. Mereka adalah Qori kutilang dan Aswad si beo. Mereka saling menceritakan tentang ibu mereka. Membanggakan kehebatan ibunya kepada yang lain.

“Aswad, kamu pernah lihat ibuku tidak ?” Tanya Qori.

“Iya, sudah pernah” Jawab Aswad. “Memangnya kenapa sih ?” Tanya Aswad.

“Ibuku adalah burung paling cantik. Kamu pasti sudah melihat warna bulunya. Indah kan?” Qori menggetarkan seluruh tubuhnya. Tentu saja karena Qori bangga sekali terhadap ibunya.

“Ooo, karena itu.” Aswad menganggukkan kepalanya. “Tapi, masih lebih hebat lagi ibuku. Ibuku, bulunya hitam mengkilat. Dan, yang lebih hebat lagi. Ibuku sangat pandai mengucapkan banyak bahasa manusia.” Kata Aswad. “Suatu hari nanti, aku juga akan seperti ibuku lho.”

Saat Qori dan Aswad, sedang asik menyebutkan kehebatan ibu mereka. Tiba-tiba, terdengar sebuah suara. “Ku ku…ku ku. Masih ada burung yang lebih hebat.” Ternyata suara itu, milik seekor burung hantu tua, bernama Oldi. Oldi tinggal di sebuah lubang, di pohon tersebut. Qori dan Aswad, menghampiri lubang tempat Oldi tinggal.

“Memangnya, ada burung yang bulunya lebih indah dari bulu ibuku, pak Oldi?” Tanya Qori.

“Iya pak Oldi. Apakah ada, burung lain yang bisa berbicara seperti ibuku.” Aswad ikut penasaran.

“Ha ha ha ha. “ Pak Oldi tertawa. Tawanya sampai membuat tubuh gempal yang dibalut bulu yang mulai kusam itu, berguncang.

“Iiih, pak Oldi. Ditanya kok malah tertawa. Memangnya, burung apa sih pak Oldi, yang lebih hebat dari ibu kami.” Kata Aswad.

“Qori dan Aswad, mau tidak mendengar sebuah kisah tentang burung paling hebat?” Tanya pak Oldi.

“Mau mau, pak Oldi. Ayo ceritakan.” Sambut Aswad dan Qori, bersemangat. Mereka ingin sekali mengetahui, burung apa sih, yang lebih hebat dari ibu mereka.

“Baiklah…” Kata pak Oldi.

Pak Oldi mulai bercerita.

Beberapa tahun yang lalu, hidup seekor burung.. Namanya Cilika. Selain bertubuh kecil, Cilika berkepala botak. Kepalanya, memang tidak ditumbuhi bulu. Dan, itu membuat Cilika dijauhi oleh burung-burung lain. Mereka selalu mengejek dan menertawakan kepala Cilika yang botak. “Kepala botak. Kepala botak.” Demikian mereka mengejek Cilika. Cilika sangat sedih dengan sikap teman-temannya. Karena malu, diejek, kemana-mana Cilika selalu sendirian. Bermain, terbang dan mencari makan. Selalu sendiri.

Suatu hari, Cilika sedang mencari makan. Sudah beberapa jam ia berkeliling mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk mengisi perutnya. Namun, dia belum juga mendapatkan makanan. Sedangkan perutnya sudah mulai sakit, karena sejak pagi belum diisi.

“Eh, apa itu ?” Cilika melihat sesuatu yang bergerak-gerak, di bawah sebuah batu. Wah, itu seekor cacing. Cacing itu pasti sangat lezat. Pikir Cilika. Cilika mendekati cacing tersebut. Saat ia sudah dekat, Cilika melihat cacing itu menggeliat kesakitan.

“Aduh, tolong aku. Tolong singkirkan batu ini dari tubuhku.” Cacing itu meringis.

“Bagaimana batu itu bisa menimpamu? Tanya Cilika. Ia merasa kasihan pada cacing kecil itu.

“Tadi, ada manusia yang melewati jalan ini. Kakinya menendang batu, yang kemudian menimpaku.” Kata si cacing.

Cilika memandangi cacing itu. Akhirnya, ia membantu cacing tersebut melepaskan diri, dengan menyingkirkan batu yang berada di atas tubuhnya.

“Terima kasih, burung yang baik. Aku tidak akan melupakan kebaikanmu.” Cacing itu bergegas pergi, meninggalkan Cilika yang masih kelaparan.

Cilika merapatkan sayapnya, untuk menekan perutnya yang sangat lapar. Ah, aku pergi ke kebun jagung, milik pak tani saja. Biasanya, di sana banyak biji jagung yang berjatuhan. Cilika pun, segera mengepak sayapnya, menuju ke kebun pak tani.

Sesampainya di kebun pak tani, Cilika merasa kecewa. Ternyata, kebun jagung pak tani, baru saja dipanen. Dan, beberapa ekor burung lain, telah menghabiskan biji-biji jagung yang berjatuhan. Cilika kembali terbang. Ia mempertajam penglihatannya. Walaupun, kepala dan perutnya terasa sakit sekali. Kemudian tampak olehnya, sebuah kolam kecil. Yang di dalamnya, tengah berenang, beberapa ekor ikan. Cilika memandangi calon makanannya dari udara. Ia menukik ke bawah dengan cepat. Hap! Seekor ikan, telah berhasil ditangkap olehnya. Namun…

“Burung yang baik, tolong jangan makan aku. Aku masih punya anak-anak, yang harus aku besarkan. Bagaimana nasib mereka, jika kau memakanku?” Kata ikan tersebut sambil menangis.

Karena kasihan, akhirnya Cilika melepaskan ikan itu, kembali ke kolam. Ikan itu berkata, “Terima kasih burung yang baik, aku akan membalas kebaikanmu.” Dan ikan kecil itu, berenang masuk ke dalam air.

Cilika masih kelaparan. Ia terlihat lelah. Dan sudah tidak memiliki tenaga untuk kembali terbang. Ia mencoba tidur di sebuah dahan pohon. Karena hembusan angin yang sepoi-sepoi, Cilika pun tertidur. Dalam tidurnya, Cilika bermimpi. Ia berada di sebuah lapangan luas, yang dipenuhi makanan. Dalam mimpinya, Cilika makan dengan lahap. Sedang sibuk Cilika menghabiskan makanannya. Tiba-tiba, terdengar suara keras. “Tolong. Tolong.” Cilika kaget. Terbangun dari tidur dan mimpinya. “Suara siapa itu.” Pikir Cilika. “Tolong. Tolong.” Cilika segera terbang, mencari asal suara itu. Setelah beberapa saat mencari. Cilika melihat, seekor merak yang sedang meronta, di dekat sebuah pohon. Ternyata, bulunya yang panjang tersangkut di sebuah dahan rendah. “Tolong aku.” Katanya memelas. “Tenang. Aku akan menolongmu. Jangan bergerak.” Kata Cilika. Cilika melepaskan bulu itu, dengan menggunakan paruhnya. Akhirnya, merak itu pun bebas. “Terima kasih burung yang baik.” Dan merak itu pun pergi. Tapi, Cilika kembali merasakan kelaparan.

Cilika memutuskan untuk pulang. Sesampainya di rumah. Cilika melihat banyak binatang, berkumpul di depan rumahnya. Ada apa ya? Saat Cilika mendarat. Seekor binatang berseru. “Hei, itu Cilika.” Semua binatang yang hadir berpaling. Dan saat melihat Cilika, mereka membuat suara-suara yang ramai sekali. Ada yang menghentakkkan kaki mereka. Sebagian mengeluarkan suara-suara yang indah. Cilika semakin heran. Dalam keramaian itu, Cilika melihat cacing kecil, yang tadi ditolongnya. Juga ada si merak cantik. Para binatang masih bersuara ramai, hingga datanglah Lio, sang raja hutan. Semua binatang hening, menyambut kedatangan raja hutan yang perkasa itu. Lio menuju sebuah batu besar. Dan berdiri di atasnya. Memandangi rakyatnya yang berkumpul. “Kalian tahu, mengapa kita berkumpul di sini?” Tanya sang raja. Para binatang mengangguk. “Aku mendengar banyak cerita. Tentang seekor burung kecil, yang suka menolong. Tapi, aku ingin, kalian mendengarnya sendiri dari mereka yang mengalaminya. “Siapa yang mau menceritakannya lebih dulu?” Lio melipat dua kaki belakangnya, untuk duduk.

Nilo, sang kuda nil, menceritakan bagaimana seekor burung kecil, pernah membantunya menghilangkan rasa gatal di badannya yang besar, dengan mematukkan paruhnya. Di lain waktu, saat Ula si ular sakit gigi, seekor burung kecil, membawakannya obat yang manjur dari hutan. Jaja si gajah, pernah kehilangan kacang kesukaannya. Dan seekor burung kecil, telah membantu untuk menemukannya. Tidak ketinggalan untuk bercerita. Cacing kecil yang di Bantu untuk melepaskan diri dari sebuah batu yang menimpanya. Juga merak cantik yang bulunya tersangkut di dahan rendah. Dan banyak lagi cerita lain. Yang membuat warga burung bangga. Tapi, mereka belum tahu, siapa burung kecil yang hebat itu. Lio kembali berdiri tegak. “Warga burung. Apakah kalian tahu, siapa burung kecil itu?” Sebagian besar warga burung menggeleng. Mereka saling memandang. “Burung kecil yang hebat itu adalah, Cilika.” Kata Lio berwibawa. Semua binatang kembali mengeluarkan suara yang ramai. Para burung pun, tidak ketinggalan. Banyak burung, yang dulu sering mengejek Cilika, juga ikut bergembira dan bangga. “Untuk itu,warga hutan akan memberikan hadiah buat Cilika.” Lio berkata lagi. Tiga ekor monyet, membawa biji-bijian yang di letakkan pada wadah-wadah dari batok kelapa. Wadah-wadah itu di letakkan di hadapan Cilika. Suasana kembali ramai. Cilika pun berbicara. “Terima kasih untuk semuanya. Juga kepada raja Lio. Tapi, saya tidak bisa memakan semua ini sendirian. Perut saya bisa sakit.” Kata Cilika. “Kamu bisa menyimpannya kan?” Kata raja Lio. “Tidak raja Lio. Aku akan mengajak semua burung untuk menghabiskannya hari ini. Ayo teman-teman, kita habiskan biji-bijian ini.” Ajak Cilika. Seketika, semua burung mengerumuni wadah-wadah tempat bijian tersebut. “Cilika kau memang burung kecil yang hebat.” Kata raja Lio.

“Sejak saat itu, tidak ada lagi, burung yang mengejek Cilika. Semua merasa bangga berteman dengan Cilika, si burung hebat.” Pak Oldi mengakhiri ceritanya.

“Wah, Cilika biar kecil suka menolong ya.” Kata Aswad.

“Iya. Walaupun pernah diejek. Cilika memaafkan teman-temannya.” Qori menimpali.

“Begitulah Aswad, Qori. Kita bisa di sebut hebat, karena kebaikan hati kita. Bukan karena bulu dan kemampuan kita untuk terbang tinggi. Kalian mau kan, menjadi burung hebat seperti Cilika?” Tanya Oldi.

“Mau pak Oldi. Mau.” Sekarang, Aswad dan Qori bertekad untuk menjadi burung yang suka menolong binatang lain yang mengalami kesulitan.

Niat yang baik ya. Siapa lagi, yang mau jadi hebat ?

~*~Afiani Gobel~*~

April 24, 2010 Posted by | Tak Berkategori | 4 Komentar

Perjalanan Ke Kota Tepian

*Berhari Bumi Mode On… (22 April)

Hikmah kedua…

Ready to go… Its 07.50…

Setelah jadi terhukum… menunggu para bintang tamu…

Akhirnya perjalanan rihlah kami ke kota tepian dimulai…
Perjalanan 2-3 jam ke depan… adalah perjalanan yang selalu ku nantikan… Berkali-kali juga ke Samarinda. Tak pernah ku lewatkan ia dengan pejaman mata. Ia hijau…

Kalimantan… Hutan yang sebenarnya. Senang bisa dilahirkan di sini. Teringat masa kecilku… Aku menyaksikan bukit digunduli… Gunung menjadi rata… Takjub… saat itu… Hijau disekitarku, terkikis satu demi satu… Kalimantan… pulau kelahiranku…

Hampir sepanjang perjalan itu… Bisa terlihat olehku… pagar-pagar hidup nan kokoh… Pohon-pohon besar… yang mewakili hutan. Pokok-pokok ’sengon’… ha ha… nama pohon yang paling kukenali karena bentuknya yang memayung indah dan karena.. itulah satu-satunya nama pohon yang aku kenali.. selain pohon-pohon yang biasa terlihat di sekitarku..

Setiap memandang ke tepi jalan… pada batang-batang yang rapat. Yang terbayang adalah hutan gelap. Yang dihuni tumbuhan bumi… padat.

Namun… setelah beberapa kali perjalananku… baru kusadari hari ini… bahwa di balik pagar hijau itu… tak ada hijau lagi. Hanya sepuluh hingga 30 meter yang sempat kutangkap dengan bola mataku. Di belakangnya adalah ladang-ladang… bahkan dibeberapa tempat hanya gundul semata…

Topeng… Ternyata… Pagar hidup itu hanya topeng…

Teringat pada komentarku pada sebuah status teman: Bahwa aku dan rombongan tak bisa berhenti sholat di tengah jalan… tanggung… dan masih berada didalam gelap… pohooooooonnn semua.

Teman itu membalasnya… dan mengatakan… Jawa sama Kalimantan beda non… di Jawa mah hutan beton… jadi bisa berhenti di sebuah tempat… di tengah perjalanan.

Maluuu… ternyata hutanku tak sedahsyat itu…

Duhai penghuni pulau kelahiranku… Wahai pengurus Borneoku… Di manakah kalian? Akankah hijau itu menghilang dari penghujung pandang… Terhapus dari masa depan…

Kepada Kalimantanku… Terus hidupkan kehijauanmu… Bumi terus kembang kempis denganmu… Tanda kehidupan, masih mengiringinya… Borneo tercinta… Kaulah paru-paru utama… Dunia meminta kau untuk tetap membagi udara…

Tetaplah pakai topeng itu… Namun letakkan kembali isinya… Agar Hijau Borneoku selalu ada bagi dunia… Mari jaga bersama…

”Dan apabila dikatakan kepada mereka. ”Janganlah berbuat kerusakan dimuka bumi !” Mereka menjawab, ”Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.”
Ingatlah, Sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tapi mereka tidak menyadari” (Al-Baqarah: 11-12)

Semoga bisa memberi sebuah harapan bagi bumi… Untuk hidup… dan menghijau kembali… Amin…

April 22, 2010 Posted by | Tak Berkategori | 1 Komentar

Pelsetan

Plesetan….

Setiap daerah, mempunyai bahasa dan cara komunikasi secara berbeda, begitupun dengan cara seseorang (penulis) menyampaikan kalimat dalam tulisan nya. Ada yang mengedepankan ciri khas nya, walau ada pula yang mengikuti tata baku, menulis (menyampaikan ide dan gagasan nya) sesuai dengan aturan yang telah di tentukan baik itu dalam tanda baca, maupun kata-kata/kalimat.

Sebagai pemula, mempelajari semua itu (EYD) memang perlu. Tapi saya pikir, di saat tertentu, semua itu bisa dikesampingkan dahulu. Kenapa?

Berbicara tentang saya sendiri sebagai pemula, (saya yakin koki-koki disini sudah mahir-mahir dech) apa yang akan saya tuliskan (ide) rasanya harus cepat-cepat disampaikan, atau paling tidak di buat garis besarnya dulu, –dimana saja: kertas buram, notes HP, atau words kalo bisa membuka kmputer– pokoknya segera catat, sebelum ide itu hilang dan pergi. Hehe… (hafalan saya memang lemah)

Pada saat inilah, saya katakan EYD dan aturan-aturan yang mengikat dalam dunia tulis-menulis bisa saya kesampingkan terlebih dahulu (ini khusus cara saya ya, bukan/belom berarti berlaku untuk koki-koki disini).

Kenapa? Kembali kepada pertanyaan itu. Ya karena takut si ide itu keburu hilang. Itu saja jawaban saya.

Bayangkan, saat ide datang secara tiba-tiba, tapi mau menulis harus mengikuti aturan dll, harus memeriksa kebenaran kata, dll… semua itu memerlukan waktu yang cukup lama (saya katakan lagi, hapalan dan kemampuan saya memang kurang dalam hal ini) maka dari itu saya memilih kesampinkan saja dulu aturan itu, yang terpenting si ide yang tengah datang ini bisa saya simpan terlebih dahulu.

Termasuk dalam pemilihan kata, saya tidak berpikir apakah kata yang saya sampaikan itu ada/terdaftar di kamus atau tidak. Apakah bahasa baku atau tidak, yang penting saya mengerti maksudnya, maka saya pilih saja kata itu selama bisa dimengerti dan difahami maksud yang terkandung dari kata-kata yang saya pilih itu. Termasuk kata plesetan.

Ya, mungkin kata-kata plesetan itu tidak bisa di mengerti bagi setiap orang. Karena memang tidak diharuskan di pelajari :). Tapi bila dengan cara itu saya bisa menyampaikan ide, why not? Kalaupun ada yang tidak mengerti dan tidak difahami, itu urusan belakang (bisa di bahas di lain waktu) yang penting si ide tersimpan terlebih dahulu.

Begitu juga dengan kata “konsekwen” yang saya pakai dalam artikel sebelumnya yang saya “masak dan sajikan” di Dapur ini. Mba Yuher berkomentar kata yang saya pilih itu tidak di temukan di kamus manapun 🙂
Saya mungkin hanya bisa menjawab : itu bahasa/kata plesetan dari saya 🙂
Kata yang sesuai dengan EYD nya bisa kita bahas nanti, kalau ide yang saya sampaikan ini sudah rampung 🙂

Tapi saya pikir, maksud dan tujuan nya (walau dalam penulisan kata nya salah) kata “konsekwen” itu bisa dimengerti kan?

April 19, 2010 Posted by | ciri khas okti, menulis, pelsetan | 4 Komentar

Sepatah Kata… Dua Patah Kata… Dusiplin Kuncinya



Sepatah kata, dua patah kata, bukan berarti selanjutnya patah-patah lalu berserakan semua, tetapi justru dari satu patah, dua patah, dan selanjutnya …. hingga berkumpul membentuk sebuah patahan kalimat, mempola paragraf, kemudian tercipta untaian dalam bentuk halaman yang jika di print akan menjadi buku.

Tidak ada pemaksaan dalam menulis. Terserah, siapa yang butuh, siapa yang bahagia, dan siapa yang terbantu, semua tidak harus.

Dalam antrian yang melelahkan dan membosankan, sepanjang apapun antrian itu, kalau kita ada maksud dan tujuan, membayar tagihan misalnya, maka selain rela menerima berada di urutan keberapa pun antrian kita, mungkin di sisi lain kita akan ada juga usaha tambahan, datang lebih pagi, misalnya –untuk mengantisipasi berada di antrian yang paling panjang– ketika kita akan membayar tagihan untuk bulan selanjutnya.

Demikian dalam menulis, kebosanan, rasa capek, hilang ide (blank), tidak ada waktu luang, sibuk dengan aktifitas, dan alasan lain akan selalu merongrong kita. Tapi kalau kita sudah mempunyai maksud dan tujuan, kenapa saya suka menulis? untuk apa saya menulis? apa tujuan saya menulis? dlsb…alasan itu dengan sendirinya akan hilang di telan kuatnya keyakinan dan tujuan di akhir tulisan kita.

Menyempatkan waktu, mencicil, menulis topik yang ringan dan pasaran sekalipun, kalau dibiasakan dan terbiasa, itu yang akan membawa seorang penulis kepada ujung tujuan.

Jadi intinya adalah konsekwen dan disiplin. Itu saja. Sudah, tidak akan ada istilah antri apalagi alasan….

Menulis? Kenapa tidak? Bukan kah sudah berkomitmen? Sudah konsekwen?

Belom menulis juga?

Hehehe, ketahuan dech, ini dia orang nya yang belum bisa berdisiplin…..

(Nah lho! ayoooo siapa? :D)

Keelung Hospital, 12.08AM lima menit sebelum mata okti benar2 spaneng….

April 17, 2010 Posted by | Disiplin menulis. Kata kunci | 7 Komentar