Ini Jejak-Q

Hanya Satu Yang Akan Kita Tinggalkan… Ialah… JEJAK

Esensi dan Makna

Semakin memperhatikan iklan. Maka, makin banyak wanita di sana. Bahkan. Hampir tak ada iklan… tanpa keindahan senyum sang wanita. Hampir tak ada iklan… tanpa cantik wajah wanita. Tak ada iklan… tanpa tubuh wanita. Tereksploitasi ? Atau mengeksploitasi diri ? Entahlah… Gerimis… miris… Kaumku terjebak ? Atau sengaja terlena di dalam jebakan ? Sekali lagi… entahlah.

Yang kembali menjadi perhatian pada setiap iklan. Terutama… iklan kosmetik. Adalah gencarnya mengkampanyekan kecantikan lahir. Bagaimana kulit yang putih… adalah lebih disukai oleh pria. Menyajikan cara-cara cepat menjadi putih. Seakan-akan kulit putih adalah segala-galanya bagi wanita. Tak kan dipandang seorang wanita, tanpa putih kulitnya. Itulah yang digambarkan oleh iklan pemutih kulit. Bahkan, sebuah jingle memiliki syair yang cukup provokatif buat wanita yang sangat peduli dengan hal lahir. “Wajahmu, mengalihkan duniaku.” What a words !! Hanya sekedar wajah putih. Akan membuat seorang pria teralihkan pandangannya dari dunia ? Hmm… semoga tidak mengalihkannya juga dari akhiratnya. Na’udzubillaah.

Diiklan lain, getol membicarakan keindahan rambut. Mahkota bagi wanita. Yang seharusnya terjaga. Terjaga dari segala bentuk kuman dunia. Termasuk pandangan pria-pria berpikiran hina. Seperti halnya pemutih kulit, iklan ini pula, menyampaikan hal yang benar-benar menarik. Jika tak berambut indah, lurus, halus, hitam maka bersiaplah untuk tak menjadi pilihan seorang pria. Hohoho… Bayangkan, pada sebuah iklan… seorang pria yang tersentuh oleh rambut wanita, bisa hampir pingsan. Terlena… Lebay… hehe. Sebuah nilai yang dibangun demi sebuah kepentingan bernama… keuntungan.

Namun, bukan itu saja. Nilai ini, bergeser dari tiga hal lain yang juga penting. Keluarga… Harta… Agama… Yang penting sekarang adalah… Jika ingin dipilih… maka wanita itu mesti berwajah cantik. Ia harus berkulit putih. Dan ia wajib berambut hitam mengkilap. Hmm… Jika sebuah nilai mengenai wanita, sudah bergeser setimpang ini. Dimana tak ada lagi wanita yang dipandang kecerdasannya. Tak usah dipedulikan kekuatan spiritual keagamaannya. Dan tak perlu lagi diteliti keluarganya. Mungkin, pria tak perlu memilih seorang wanita… tapi… pilihlah boneka Barbie. Rambut memang tak hitam. Namun, rambut Barbie indah lho. Kulit Barbie… dijamin putih… tih… tih… hehe. Ada lagi. Tak perlu mencari siapa keluarga Barbie. 🙂

Ups… bukan itu inti dari tulisan ini. Bukan berpesan kepada pria manapun. Namun, membagi pikirku dengan setiap wanita manapun. Yang dengan cintaku ingin kupeluk dengan segenap rindu. Dan kusampaikan padanya kata-kata ini…

“Bahwa kaulah keindahan. Yang diletakkan Allaah pada pelataran bumi. Kau diciptakan demi sebuah ketenangan jiwa bagi seorang pria. Bukan dengan kulit nan lembut. Bukan dengan putihnya ia. Bukan dengan sehelai rambut nan mempesona. Kau adalah mutiara kedamaian. Yang seharusnya tersimpan rapi dicangkang kerang kesederhaan. Kau tertutup dari pandangan kehinaan. Kau terhindar dari duri-duri cela. Kau adalah bunga kecemerlangan. Yang wangi karena karyamu. Yang menarik karena mahkota lakumu. Yang makin indah karena setiap kebaikan yang kau tampakkan di benang sarimu. Kau tercipta bukan untuk ditatap mata… hingga yang ada padamu… hanya BENTUK dan WARNA… Kau mestinya terukur oleh hati… agar yang eksis pada diri… adalah ESENSI… sisi MAKNAWI.”

Oke Cantiiiiik… ^_^

Iklan

Februari 18, 2010 Posted by | 1 | 6 Komentar

Keluargaku atau Dakwahku..?

KASUS 1

Sebelum teman saya menikah, dia pernah berkata. “Biar saya sudah menemukan pasangan hidup nanti, saya masih mau kerja begini.” Saat itu, kami sedang menuju kesebuah acara baksos. Kata-kata itu, membuat saya mengaguminya. Hingga tujuh bulan kemudian, teman saya tersebut melangsungkan pernikahannya. Tiga bulan pertama, semua masih berjalan seperti biasa. Namun, dibulan selanjutnya, teman saya tersebut mengalami kesulitan untuk sedikit bersantai di tempat kerjanya. Karena, setiap kali selesai jam kerja, sang suami langsung menghubunginya lewat telepon. Padahal biasanya, kami masih harus membicarakan kerja-kerja dakwah yang sangat padat. Semakin diperhatikan, suaminya terus melakukan hal-hal yang semakin menarik perhatian. Entah bercanda, atau apalah. Yang pasti itu cukup mengganggu. Setahun kemudian, setelah pernikahannya, dan memiliki seorang anak. Teman tersebut berhenti bekerja. Dengan alasan ingin fokus untuk mendidik anak.

KASUS 2

Seorang saudara seiman, pernah membuat teman-temannya begitu kagum dengan aktifitasnya. Karena dia membina banyak kelompok pengajian. Dia juga sangat perhatian pada keluarganya. Dan saya juga mengagumi. Tentu saja, seorang aktivis sepertinya memang jarang ditemui. Hingga akhirnya beberapa bulan yang lalu, saudara kami itupun menikah. . Mempersunting seorang akhwat pilihannya. Dan sejak saat itu, saya jarang menemukannya dalam aktivitas dakwah, yang biasa kami geluti bersama. Yang sangat disayangkan adalah banyak diantara kami yang begitu mengaguminya. Sehingga kami selalu menghibur diri dengan kalimat, “Lagi sibuk kali.”, “Mungkin lagi sakit.” Atau :BIarlah, kan masih pengantin baru.”

KASUS 3

Sebelum pernikahannya, seorang sahabat, pecinta pendidikan, telah melakukan perjanjian pranikah dengan calon suaminya. Bahwa suaminya tidak boleh melarangnya untuk terus melakukan kegiatan pendidikan. Saat ini, ia sudah memiliki dua orang anak. Dan berhasil mengelola sebuah lembaga pendidikan bermutu di sebuah kota. Namun, sekarang sahabat tersebut hanya melakukan aktivitas di rumah saja. Suaminya mengharapkan dirinya untuk lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama anak-anak, bersama keluarganya. Seorang teman yang pernah yang pernah menghubunginya, menceritakan, bagaimana kesedihan sahabat saya tersebut.

Rasanya tidak ada seorang pun, yang bisa disalahkan dalam ketiga kasus di atas. Bisa jadi keluargalah yang mengharapkan setiap anggotanya untuk lebih sering berada di rumah. Atau diri kitalah, yang enggan untuk meninggalkan keluarga. Sebagai seorang yang belum menikah, mungkin saya tidak berkompeten untuk mengungkapkan hal seperti ini.

Namun, tiga kasus di atas, sering membawa pikiran pada perenungan yang sangat panjang. Bahkan tidak jarang, saya memiliki kekhawatiran terhadap masa depan. Bagaimana nasib saya saat menikah ? Bagaimana pasangan saya nanti ? Apakah ia akan membebaskan saya untuk melakukan aktifitas dakwah ? Atau, ia menginginkan saya untuk berjihad di dalam rumah saja ? Sebuah kekhawatiran yang patut tertanam. Jika kita masih mau melakukan dakwah tanpa batas. Namun, tetap proporsional.

Saya tidak ingat secara tepat, dari mana sumbernya. Namun, saya pernah mendengar ungkapan, “Keluarga akan membawamu untuk mengingat dunia.” Bisa jadi pernyataan tersebut, terbukti dengan kasus di atas. Bisa dikatakan, kita sering menjadikan keluarga atau pasangan kitasebagai alasan untuk mengurangi aktifitas dakwah luar rumah. Apalagi, dakwah saat ini menuntut perhatian khusus, kemasan istimewa, menghabiskan banyak waktu dan terganjal oleh ghazwul fikri yang merajalela. Bisa jadi, istri yang cantik, membuat seorang suami menjadi enggan pergi mengaji. Keasyikan bermain bersam buah hati kita, mungkin saja membuat kita bimbang untuk mengisi majelis taklim. Bahkan, seorang rekan, pernah mengatakan, “Saya nggak bisa seperti fulana yang “keluyuran”, sementara anaknya ditinggal di rumah.” Rekan saya tersebut menganggap kegiatan berdakwah, sebagai tindakan dzalim, yang akan mengorbankan kepentingan keluarga. Walaupun, tidak dapat dibenarkan juga jika seseorang begitu giatnya berdakwah, sampai melalaikan keluarganya.

Tentu saja, pernah terlintas dalam pikiran. Bahwa santai di rumah dengan keluarga memang tidak memerlukan banyak energi, seperti layaknya kita menghabiskan banyak tenaga dan tentu saja, waktu untuk berdakwah. Kita senantiasa merasa nyaman dan aman saat berkumpul dengan istri atau suami dan anak-anak. Terkadang keikhlasan kita, boleh jadi terkikis oleh ungkapan, “Di rumah, kita belum tentu mau melakukan ini.” Dan pernyataan itu akan diungkapkan oleh seorang aktivis yang tidak menyadari, untuk apa ia hidup. Bukankah Allaah telah membeli jiwa dan raga setiap orang beriman. Dan dari perniagaaan itu, akan beroleh senuah keuntungan besar, yaitu surga. Ya, hidup kita, bukan hanya milik kita dan keluarga. Allaah berfirman,

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebajikan yang terus menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Rabb-mu untuk menjadi harapan.” (QS Al-Kahfi:46)

Bahkan Allaah melengkapi perjalanan islam dengan sebuah kisah pengorbanan besar. Kisah keluarga Ammar, yang luar biasa. Yang memilih untuk tetap teguh dalam keimanan. Sekalipun, pilihan keduanya adalah mempertaruhkan hidup keluarganya. Panas api dunia, panas api dunia lebih baik dari pada ‘berkhianat’ kepada Allaah.

Kisah keluarga Ammar, bukanlah doing motivasi. Tapi, itulah sejatinya pernrbanan dari perjuangan seorang jundi. Dunia dan isinya, boleh jadi begitu indah. Namun, menggenggam dunia dengan dakwah ilallaah, itu pasti lebih indah. Dan jalan ini, tidak disiapkan oleh Allaah, untuk melalaikan kita dari kehidupan dunia. Justru jalan dakwah disiapkan untuk membuat kehidupan dunia kita lebih baik. Jika kita sudah meyakini. Maka saatnya.. mengajak keluarga kita untuk memahaminya. Karena, jalan inilah yang insya Allaah, akan mengumpulkan kita dan keluarga di surga. Amiin Yaa Rabbal’aalamin.

By Afiani Intan Rejeki

*Tabloid Cakrawala, 2006

Februari 16, 2010 Posted by | 1 | 2 Komentar