Ini Jejak-Q

Hanya Satu Yang Akan Kita Tinggalkan… Ialah… JEJAK

Pelsetan

Plesetan….

Setiap daerah, mempunyai bahasa dan cara komunikasi secara berbeda, begitupun dengan cara seseorang (penulis) menyampaikan kalimat dalam tulisan nya. Ada yang mengedepankan ciri khas nya, walau ada pula yang mengikuti tata baku, menulis (menyampaikan ide dan gagasan nya) sesuai dengan aturan yang telah di tentukan baik itu dalam tanda baca, maupun kata-kata/kalimat.

Sebagai pemula, mempelajari semua itu (EYD) memang perlu. Tapi saya pikir, di saat tertentu, semua itu bisa dikesampingkan dahulu. Kenapa?

Berbicara tentang saya sendiri sebagai pemula, (saya yakin koki-koki disini sudah mahir-mahir dech) apa yang akan saya tuliskan (ide) rasanya harus cepat-cepat disampaikan, atau paling tidak di buat garis besarnya dulu, –dimana saja: kertas buram, notes HP, atau words kalo bisa membuka kmputer– pokoknya segera catat, sebelum ide itu hilang dan pergi. Hehe… (hafalan saya memang lemah)

Pada saat inilah, saya katakan EYD dan aturan-aturan yang mengikat dalam dunia tulis-menulis bisa saya kesampingkan terlebih dahulu (ini khusus cara saya ya, bukan/belom berarti berlaku untuk koki-koki disini).

Kenapa? Kembali kepada pertanyaan itu. Ya karena takut si ide itu keburu hilang. Itu saja jawaban saya.

Bayangkan, saat ide datang secara tiba-tiba, tapi mau menulis harus mengikuti aturan dll, harus memeriksa kebenaran kata, dll… semua itu memerlukan waktu yang cukup lama (saya katakan lagi, hapalan dan kemampuan saya memang kurang dalam hal ini) maka dari itu saya memilih kesampinkan saja dulu aturan itu, yang terpenting si ide yang tengah datang ini bisa saya simpan terlebih dahulu.

Termasuk dalam pemilihan kata, saya tidak berpikir apakah kata yang saya sampaikan itu ada/terdaftar di kamus atau tidak. Apakah bahasa baku atau tidak, yang penting saya mengerti maksudnya, maka saya pilih saja kata itu selama bisa dimengerti dan difahami maksud yang terkandung dari kata-kata yang saya pilih itu. Termasuk kata plesetan.

Ya, mungkin kata-kata plesetan itu tidak bisa di mengerti bagi setiap orang. Karena memang tidak diharuskan di pelajari :). Tapi bila dengan cara itu saya bisa menyampaikan ide, why not? Kalaupun ada yang tidak mengerti dan tidak difahami, itu urusan belakang (bisa di bahas di lain waktu) yang penting si ide tersimpan terlebih dahulu.

Begitu juga dengan kata “konsekwen” yang saya pakai dalam artikel sebelumnya yang saya “masak dan sajikan” di Dapur ini. Mba Yuher berkomentar kata yang saya pilih itu tidak di temukan di kamus manapun 🙂
Saya mungkin hanya bisa menjawab : itu bahasa/kata plesetan dari saya 🙂
Kata yang sesuai dengan EYD nya bisa kita bahas nanti, kalau ide yang saya sampaikan ini sudah rampung 🙂

Tapi saya pikir, maksud dan tujuan nya (walau dalam penulisan kata nya salah) kata “konsekwen” itu bisa dimengerti kan?

April 19, 2010 Posted by | ciri khas okti, menulis, pelsetan | 4 Komentar