Ini Jejak-Q

Hanya Satu Yang Akan Kita Tinggalkan… Ialah… JEJAK

Kelunya Sang Pena

SANG PENA TERPAKU

AKSARANYA BEKU.. TAK SANGGUP MENGALIR

IA TERDIAM DI SUDUT WAKTU

HANYA BERGUMAM MENYIMPAN RINDU

PENA MERINGIS.. SAMBIL BERKATA..

“DUHAI.. AKU RINDU TEGAK BERDIRI.”

MENGUNGKAP BENAR.. LAGI DAN LAGI

SAAT SI ‘INGIN’ MENDORONGKU TUK BERLARI

ADA SI ‘NGGAK PE DE’ YANG MENAHANKU

AKU KAKU TERTIDUR LESU

HANYA BERMIMPI MENGURAI CERITA

HINGGA TINTA MENGUAP KE ANGKASA

PEKAT HITAMNYA RESAH MENANTIKU

DAN IA PERGI.. TAK SABAR TUK SETIA

MULAI AKU BERKARAT

TUBUHKU SEKARAT

HANYA RUSAK DAN TINGGAL PATAH

PENA MERENUNG..

“KAPAN.. KAPAN AKU.. BISA BERBAGI..??”

~*~Afiani Gobel~*~

April 16, 2010 Posted by | Tak Berkategori | 2 Komentar

Kelunya Sang Pena

SANG PENA TERPAKU

AKSARANYA BEKU.. TAK SANGGUP MENGALIR

IA TERDIAM DI SUDUT WAKTU

HANYA BERGUMAM MENYIMPAN RINDU

PENA MERINGIS.. SAMBIL BERKATA..

“DUHAI.. AKU RINDU TEGAK BERDIRI.”

MENGUNGKAP BENAR.. LAGI DAN LAGI

SAAT SI ‘INGIN’ MENDORONGKU TUK BERLARI

ADA SI ‘NGGAK PE DE’ YANG MENAHANKU

AKU KAKU TERTIDUR LESU

HANYA BERMIMPI MENGURAI CERITA

HINGGA TINTA MENGUAP KE ANGKASA

PEKAT HITAMNYA RESAH MENANTIKU

DAN IA PERGI.. TAK SABAR TUK SETIA

MULAI AKU BERKARAT

TUBUHKU SEKARAT

HANYA RUSAK DAN TINGGAL PATAH

PENA MERENUNG..

“KAPAN.. KAPAN AKU.. BISA BERBAGI..??”

April 16, 2010 Posted by | Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

Menulis dan Musik Jazz

Assallamualaikum

Salam kenal dari saya sebelumnya buat semua teman-teman koki di dapur tulisan ini 🙂
saya juga mau ikutan mengisi blog ini, jadi mohon ijinkan cetakan tipografi dari keyboard butut komputer ini dibaca oleh teman-teman semua 😀
tadinya saya mau ngisi blog ini sama cerpen, tapi karena sebelumnya pada posting perkenalan mungkin saya juga perkenalan saja dulu ya. Biar ramai dan enak kalo dah tahu masing-masing.
ah ya, nama saya eka nugraha putra, manggilnya eka saja.
asli dari malang, lahir juga. sampai sekarang masih menetap di malang, aktivitas sekarang menyiapkan wisuda besok sabtu LOL 😛
waktu masih kuliah pernah jadi jurnalis lepas di dua tempat seh, sekarang satunya sudah berhenti. Dan Insya Allah sebentar lagi akan memulai pekerjaan baru 🙂
kenapa saya tulis judulnya ada musik jazz, well ini adalah pemikiran atau analogi yang agak maksa seh. jadi gini buat saya jazz dan menulis itu sama, kenapa? musik jazz itu musik pembebasan, musik dimana kalau kita nonton band jazz manggung, semuanya dapat porsi unjuk skill yang sama. dari vokalis sampai drummer, gak ada tuh yang namanya solo musik sendirian, semuanya sama.
nah gitu juga dalam nulis, menulis merupakan pembebasan, dalam dunia penulisan. siapapun berhak menjadi penulis, siapapun boleh mengakui dirinya penulis, karya apapun yang sudah ditulisnya (ingat kata pak jonru kan?) artinya semua sama dan rata dalam hal penulisan. Ini yang saya maksud dengan analogi di atas, ya kok ya kebetulan saya suka banget sama musik jazz dan ternyata ada persamaan dan bisa disambungin hehe.
saya sangat apresiatif dengan blog keroyokan ini, tadinya gak nyangka bisa bikin sesuatu bareng-bareng. sekedar info, saya tertarik dengan cerpen dan musik serta jurnalistik. Jadi kalo nanti saya nyumbang tulisan mungkin seputar itu 🙂
blog pribadi saya ada di ekajazzlover.wordpress.com
selain itu ada juga di ayongeblog.com di sana saya sebagai salah satu kontributor
sekali lagi, salam kenal semua 🙂
Wassallamualaikum
Eka Nugraha Putra

April 14, 2010 Posted by | jazz, menulis | 2 Komentar

Tulis Tulis dan Tulis

Assalamu’alaikum…

Hmm hmm hmm… rupanya dapur ini masih terlihat sepi ya..? bagaimana kalau saya berbagi saja biar terlihat ramai…

Maaf kiranya setelah postingan mbak Okti Li saya yang melanjutkannya, kalau tidak dilanjut kapan lagi coba… menunda-nunda waktu untuk menulis padahal ada waktu luang itu sangat sayang kan…

yuk mari baca…

Seperti halnya mbak Okti Li saya hanya akan menulis hal-hal yang ringan, itu pun kalau anda semua tidak keberatan, “Bagiamana? butuh perkenalan..”

Oky, sabar ya…

Sebut saja saya orang yang punya sanggar penggila dunia tulis, ya… tentu saja itu benar, saya memang sudah gila..
. , eits… dilihat dulu gilanya karena apa…
Seperti halnya anda semua, pastinya adanya blog Dapur Tulisan ini anda semua orang-orang yang hoby, gemar atau bahkan sudah gila dengan dunia tulis menulis “nah loh… gila juga kan seperti saya..??”

Makannya, jangan ulur waktu apalagi membuang waktu, tulis tulis dan tulis, terserah mau menulis apa saja “Maaf ya Mas Agus kalau saya mendahului anda untuk menyuruh yang lainnya menulis di Dapur Tulisan ini, bukannya lancang, kan sudah minta ijin”…

Hayo hayo… siapa yang ingin jadi penulis? tentunya anda harus menulis bukan? makannya cepetan anda mulai menulis, kalau bukan sekarang, kapan lagi…

Memang tahu kesempatan tak hanya sekali
tapi apa harus mengulur waktu yang hanya datang sekali
Ini bukan lorong waktu apalagi untuk mengulangnya kembali
hayo hayo… menulislah disini bersama kami

Hm hm hm… ternyata saya ceriwis juga ya..? “Maaf”…

So.. saya harus kembali menyelesaikan tugas saya, yaitu kembali menulis…

Salam sejahtera dari sanggar penggila dunia tulis
Maaf bila ada kata yang sedikit bikin hati teriris
Tak ada maksud untuk mengumbar kata manis
Hanya saja berbagi hal yang bersifat positif

Salam sahabat dari si manis…

“Naya Latief”

Wassalamualaikum..

April 13, 2010 Posted by | Tak Berkategori | 1 Komentar

Mereka Bukan Anakku

Seorang insan, telah memilih, untuk mengisi hidupnya, dengan menjadi seorang guru. Sembilan tahun lebih, rasanya bukanlah sebuah perjalanan waktu yang sebentar. Delapan tahun pula sang guru ini, menghabiskan setiap tahunnya. Untuk mewarnai hari-hari bersama puluhan sosok-sosok mungil yang selalu ceria dan penuh energi. Sang guru, yang setiap hari mengamati perkembangan para makhluk imut itu di dalam kelasnya.

Semakin hari semakin jatuh hati, pada pemilik kaki-kaki yang tak pernah henti menjelajah itu. Seberapa pun, waktu yang pernah mereka lalui bersama. Namun sang guru, selalu merasakan ketakutan, bila mendekati masa-masa berakhirnya tahun ajaran. Perpisahan dengan senyum-senyum manis itu, seperti menggores luka dalam, yang tidak dapat terobati. Apalagi jika pertemuan mereka, harus diakhiri dengan pindahnya sang buah hati.

Masih teringat dengan jelas dalam memori sang guru. Saat, seorang putri kecil. Yang ayahnya adalah seorang laki-laki berstatus, warga negara Brunei. Harus pergi, tanpa memberikan informasi yang jelas terhadap sang guru. Perkenalan awal dengan sang guru, yang melalui tahapan agak sulit. Karena perbedaan bahasa. Membuat kepergian teman kecilnya, semakin menyesakkan bagi sang guru. Jika dapat, ingin rasanya sang guru tetap memeluknya agar ibu dari putri kecil itu tak perlu membawanya serta. Namun,apa daya. “Dia bukan anakku.” Kata sang guru dalam hati.

Sang guru menerawang jauh. Kembali ke cerita lalu. Tahun ke tiga, di mana seorang teman kecil lain, ada bersamanya. Yang datang dengan temperamen tinggi. Hampir tidak pernah, si kecil berbicara dengan kata-kata sopan. Awalnya, sangat tinggi hati. Tak suka ditegur atas kesalahannya. Berbuat semaunya, tanpa menghiraukan akibat yang kadang terlalu berbahaya buat diri dan temannya. Sebuah senjata rahasia, berhasil menaklukkannya. Setiap sang guru berbicara. Sang guru mengikuti logat daerah, yang terdengar agak sulit dihilangkan dari bahasa Indonesia yang setiap hari digunakan oleh si teman kecil. Mungkin logat itu, membuatnya merasa nyaman.

Baru beberapa bulan, keakraban itu terjalin manis. Allah punya rencana hebat. Sang teman kecil harus pindah. Dan sehari setelah kepindahannya. Sebuah karya yang tertinggal, menorehkan kerinduan dan membuat sang guru tak sanggup menahan air mata rindunya. Apa yang bisa dilakukan sang guru ? “Teman kecil itu, bukan anakku.” Kalimat itu memenuhi hati sang guru.

Tahun ini, sang guru mewarnai hari bersama 22 teman kecil. Salah satunya adalah Nabila. Yang cerdas luar biasa. Sangat cepat mengenali simbol-simbol. Sehingga Nabila melejit dengan Qiro’atinya. Kosakata Bahasa Inggris, hampir tidak ada yang dilupakannya. Daya ingat yang kuat, merupakan kelebihan Nabila. Hingga suatu hari, Nabila mengatakan, “Bu guru, aku mau pindah.” Sang guru memandang Nabila dengan diam. Ya Allah, apakah kami harus berpisah sekarang juga ? Sang guru mencoba menampik ketidak relaannya. Dan kembali menenangkan diri sekali lagi, “Nabila, bukan anakku.” Dan masih banyak lagi saat-saat di mana sang guru terpaksa tak dapat bertemu lagi, Karena, harus berpisah, dengan teman-teman kecilnya.

Puluhan teman kecil itu, datang dan pergi setiap tahunnya. Dan setiap mereka meninggalkan kesan tersendiri bagi sang guru. Karena mereka adalah bagian dari motivasi bagi sang guru. Namun, apa mau dikata. “Mereka, bukan anakku.” Gumam sang guru. Sang guru hanya dapat mengirim sebuah pesan dan do’a, untuk para teman kecil yang jauh, yang dekat. Yang masih dapat bertemu, atau yang sudah tak pernah bertemu. Wahai teman-teman kecilku, titilah jembatan surga. Yaa Allah, tunjukkan bagi teman-teman kecilku, jembatan surga itu. Amiin.

April 9, 2010 Posted by | Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

Nulis Bareng…. Baca Bareng!

Assalamualaikum…

Maaf kalau saya sekiranya menulis/mendahului para senior dan mentor di berbagai temu kepenulisan.

Berhubung saya di undang, maka alangkah lebih baik (versi pribadi nih :D) saya menyegerakan memenuhi undangan dari pengundang.

Melihat dari nama forum ini adalah “Nulis Bareng” hem, maka pastinya kesananya diikuti dengan “Membaca Bareng” dong? Pasti!
Kalau tidak di baca, lah tulisan yang bareng-bareng ini mau di apakan? (Nyengir sendiri dech)

Sepertinya saya tidak akan menuliskan hal-hal yang berat, karena sejujurnya saya juga belum tahu pasti bagaimana peraturan nya di Blog “nulis Bareng” ini –Selain yang berat-berat itu saya juga gak sanggup mengangkatnya. 😀

Yah, anggaplah perkenalan atau sapaan, agar sesama follower blog ini lebih mengenal satu dengan lain nya, dalam konteks apapun.

Sepertinya, kalau memperkenalkan diri itu belum layak untuk saya (siapa sih saya ini? Orang penting juga bukan, terkenal juga tidak, ya kan?) Tapi sebagai Muslim, tentu saya punya identitas. Menyirikan sebagai seseorang yang punya jati diri dan tanggung jawab (ceile,,,,)

Followers alias “Pembaca Bareng” di Blog ini silahkan bisa mengajukan/menuliskan pertanyaan di kolom komentar. Insya Allah akan saya jawab. Berhubung saya mah gaptek, apalagi soal Blogspot masih awam, (besar dan tinggal di MP serta FB sih) xixixi… ngaku dech! Maka tak lupa saya mohonkan saran serta bimbingan nya dalam upaya meningkatkan silaturahmi ini.

Kalau sudah lancar, saya kira apapun (Bukan cuma nulis dan baca) akan masuk dan muat di Blog ini. Dan semoga semua itu bermanfaat serta ada hikmah untuk kita, penulis dan pembaca bareng-bareng ini.

Berhubung waktu mepet, saya pamit dulu, akan kembali setelah pesan-pesan berikut ini 😀
Mangga iklan nya dipersilahkan 😀

Wassalamualaikum

April 9, 2010 Posted by | Lin One Created, Nulis Bareng Baca Bareng | 10 Komentar

Serangan Kata

DITINJU.. dengan KATA-KATA. Hingga termundur dan kehilangan sejenak rasa. Tak percaya bahwa itu seperti tertuju pada setiap jengkal diri. Beset-beset.. jatuh cukup jauh dari kesadaran. Lalu kembali berdiri dalam kondisi lemah. Berpikiiiiiirr… Merenuuuuung. Setiap ’jab’-nya berhasil menembus pertahanan. Berdarah sedikit di sudut rasa. Lalu ’uppercut’ melayang kuat hingga lebam sekujur tubuh. KALAH.

Tersadar.. Sekalipun dengan beralasan. Aku tetap.. BERSALAH. -_-

DITAMPAR.. oleh NASIHAT. Sampai terduduk. Pipi terasa panas dijilat bara api. Membeliak kecewa atas kejadian yang tak disangka. Belum sadar bahwa itu adalah sakit bagi seluruh sel pada diri. Tergambar tapak tangan sang penyeru. Tak kan terlupakan. Ini periiih, hingga darah berdesir. Menggelegak.. hampir tak bisa menerima. Ingin berdiri.. namun tak sanggup menahan malu. Melirik ke segala arah. Hanya berharap.. semoga tak ada yg melihat rona merah di hatiku. TAKLUK.

Tersadar.. Sekalipun dengan beralasan. Aku tetap.. BERSALAH. -_-

DITENDANG.. oleh KEBENARAN. Efeknya.. terjungkal beberapa meter dari posisi merasa benar. Terjerembab.. lecet-lecet di sana-sini. Serasa remuk mental juara di dalamnya. Hingga kerendahan diri termunculkan sementara. Waaaaaaa.. sakiiiiiiiit ternyata. Mau berdiri.. tapi serasa dilucuti seluruh sendi harga diri. Meringis.. tampilkan wajah teraniaya. Dahsyat…!!! Energi kebenaran meluluhkan. TUNDUK.

Tersadar.. Sekalipun dengan beralasan. Aku tetap.. BERSALAH. -_-

*Sakit.. sakit.. perih.. perih.. Syukurlah.. sangat efektif untuk MENYADARKAN

******* @ *******

Tambahan.. dari sebuah blog ( http://qaulan-sadida.blogdrive.com/ )

Yaa ayyuhalladzîna âmanuttaqullâha wa qûlu qaulan sadîda
(QS. al-Ahzab [33]: 70).

Qaulan sadida mengandung makna straigh to the point atau tidak berbelit-belit, berbicara secara positif, tegas tanpa mengelabui, jujur, tidak mengandung kebohongan dan apa adanya.

Ini berarti, bicara secara terang-terangan membuat orang lain mampu memahami sikap kita, sehingga kesalahpahaman pun bisa dihindari. Sikap terus terang juga bermanfaat bagi orang lain sebagai bagian dari upaya pembelajaran. Secara tidak langsung, qaulan sadida merupakan gambaran dari amar ma’ruf nahi munkar.

Al-Quran telah menjadikan amar ma’ruf nahi munkar sebagai keistimewaan pertama yang dimiliki oleh umat Islam sehingga mengungguli umat-umat lainnya. “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran [3]: 110).

Qaulan sadida hanya dimiliki bagi hamba yang memiliki keyakinan kuat (al-iman al-amiq) kepada Tuhannya dan juga senantiasa merasakan kehadiran-Nya (muraqabatullah) dalam setiap tempat, setiap saat, dalam keadaan apa pun dan bagaimanapun, dalam musibah atau senang, rela atau terpaksa.

April 5, 2010 Posted by | 1 | 2 Komentar

Pendidik Or Pembantu

Salam para dewasa.. apa kabar USIA DINI kita.. semoga mulai mandiri dalam aktivitasnya.. dan mampu mengurus diri.. dalam hal-hal sederhana. Amiin

Kisah lagi yaa… pendek saja… ^_^

******* @ *******

Di kelas dengan jumlah murid 25 aktivis. Ada dua guru yang mengasuh mereka. Di bulan-bulan awal masuk sekolah, toilet training, menjadi sangat penting. Alhamdulillaah, dalam waktu 3 sampai 4 bulan, semua teman sudah bisa BAK dan BAB sendiri, tanpa bantuan bu guru. (Dari saat masuk, di dalam, dan keluar) Hanya diawasi oleh bu guru.

Suatu hari…

”Bu guru A, Tito mau BAK.”, Tito menyebut guru A. Namun, guru A sedang sibuk mengajari teman yang lain untuk mengaji.

Maka guru B bertindak, ”Sini sayang, sama bu guru.” sambil tersenyum.

“Nggak mauuuuu. Mau sama bu guru A ajaaaaa.”, tolak Tito.

Hmm.. beberapa anak, memang lebih menyukai BAK dengan bu guru A.
Kita lihat kenapa.. ^_^

Toilet training bersama guru A:

“Ayo baca do’a dulu.”, kata guru A. Sambil melepaskan semua pakaian yg perlua dilepaskan. Tito hanya membaca do’anya. Sambil melihat ke wajah guru A. Saat membuka kaos kaki, Tito duduk di sebuah tempat duduk, sambil menghulurkan kakinya ke depan wajah sang guru. Dan bu guru A, dengan senang hati melepaskannya. Saat di dalam pun sama. Tito hanya melepaskan tuntutan alamiahnya, selain itu, bu guru A yang mengerjakan, menyiram bekas BAK, mencebok, mencuci. Semuanya. Tito tidak capek, aman, damai, nyaman dalam pengurusan bu guru A. Waktu keluar, hal yang sama terjadi lagi. Bu guru A, melayani dengan hati. Hingga selesai do’a.

Toilet training bersama guru B:

“Kita baca do’a dulu ya nak.”, kata guru B. Setelah berdo’a, bu guru B berkata, ”Sekarang lepas kaos kaki dan celananya sayang. Tito membuka sendiri celananya.

“Susah bu kancingnya.”, kata Tito.

”Sini bu guru bantu. Ini melepaskannya seperti ini ya. Di pegang yang kuat.”, hanya kancingnya. Selanjutnya, Tito kerjakan sendiri.

Begitupun segala urusan siram menyiram, mencebok dan membersihkan diri. Tito kerjakan sendiri, di bawah arahan bu guru B. Hingga selesai do’a keluar kamar mandi/WC.

******* @ *******

Kadang.. kita tak menyedari, betapa pentingnya kemandirian bagi USIA DINI kita. Sejuta bantuan, memang akan memenuhinya dengan cinta. Namun, satu pelatihan, akan memudahkan kehidupannya.

Guru B berkata… ”Karena kita adalah pendidik, bukan pembantu.” (Aku setuju) ^_^

Hal semacam ini pun, terjadi pada ayah dan bunda. Perbedaan bentuk perhatian dan pelayanan semacam inilah, yang menyebabkan USIA DINI memilih-milih antara ayah dan bunda untuk menemaninya beraktivitas. Wallaahua’lam.

******* @ *******

Semoga kita.. adalah para dewasa, yang mampu memberikan perhatian yang sejatinya merupakan pendidikan. Agar USIA DINI kita merasakan manfaat yang lebih, dari apa yg kita beri padanya. Amiiin

April 3, 2010 Posted by | 1 | Tinggalkan komentar

Malu

Apakah kau seorang hafidz ??

Seorang yang memelihara. Menjaga kemurnian hal yang diyakininya. Lebih dikenal istilah hafidz ini untuk para penghafal Al Qur’an. Sungguh, inginnya diri ini menjadi seorang yang terus teguh mengeja ayat-ayat itu. Kalam suci yang menenangkan. Cahaya dalam kegelapan, petunjuk tanpa kesalahan, kebenaran di atas kebenaran, penyejuk hati di kala gundah, pembening hati di waktu amarah. Kalam Allaah.. dengan segala mukjizat yang teriring bersama nuzulnya. Inginnya diri menjadi hafidz… -_-

Seringkali, bersama Al Qur’an, kutemukan teguran terindah bagi khilaf. Hiburan terbaik bagi sedih yang melanda. Menghujam tajam di kedalaman nurani. Menabur benih raja’ (harap) dan khauf (takut) pada jiwa-jiwa yang ingin makin dekat dengan Rabb-nya. Mengalirkan bening dari sudut mata, berharap setiap kebahagiaan yang terkabar di dalamnya, akan menjadi kebahagiaannya. Sekaligus takut, adzab yang tersurat dan tersirat pada baris-barisnya, tak menimpanya. Duhai.. Inginnya diri menjadi hafidz…

Hingga beberapa pekan lalu, dalam majelis cintaku. Aku jatuh.. tersungkur. Akibat ‘tertampar’ kuat. Saat itu, masing-masing kami, menyetor hafalan, dengan saling berpasangan. Selama ini, biasanya pasanganku adalah rekan yang sama mudanya. Sama bisanya, sama mampunya, sama potensinya. Namun, takdir Allaah yang tertulis hari itu, berbeda dari biasanya. Aku dapat pasangan, seorang bunda, beranak 5. Anak tertuanya, sedikit lebih muda dariku.

Kami sepakat, bahwa beliaulah yang mulai setor hafalan lebih dulu. Ternyata, baru kuketahui, hafalan beliau, jauh.. jauh.. jauh di atasku. Seiring setiap ayat yang keluar dari lisannya. Yang kala itu, terdengar lebih syahdu dari bisanya. Bergetar setiap dinding jiwa. Bergolak setiap lembar rasa. Aku menyaksikan keindahan menjadi seorang hafidz. (meskipun, beliau belum hafal seluruh Al Qur’an) Subhaanallaah. Nafasku tertahan, wajahku memerah. Namun, bunda itu masih terus mengalunkan lembut ayat-ayat cinta-Nya. Hingga akhir hafalannya… Maka meledaklah setiap buncah maluku. Malu………. yang luar biasa. Di tengah usaha kerasku untuk terus menambah hafalan. Aku sudah terjerembab, dalam kekalahan. Beningku mengalir tanpa dapat ditahan.. sungguh tak tertahankan. Tanpa suaranya.. tangisku pecah berderai.

“Lho..?? ukhti kenapa ?”, Tanya bunda itu kaget.

Aku tak sanggup berkata-kata. Hanya terus mengalirkan air mata. Membuat bunda itu makin tak mengerti.

Hingga dalam aliran deras tangis bodohku, aku berkata “Ana malu, bunda.”, dengan sudut mata yang terus basah.

“Afwan ya ukhti.”, merasa bersalah telah menyebabkanku menangis. Bunda malah ikutan nangis. Menambah derasku tak tertahan.

Dalam kebingunganku mencari tisu, aku terus menggenggam tangannya. Tergenang dalam malu itu. Yaa Allaah… aku benar-benar malu niiiih…. Sambil terus menyembunyikan wajah basahku, dari pandangan teman-teman satu majelis yang juga tak mengerti kejadiannya. Yaa Allaah… malu… -_-

****** @ ******

Fadhail Dunia

1. Hifzhul Qur’an merupakan nikmat rabbani yang datang dari Allah

Bahkan Allah membolehkan seseorang memiliki rasa iri terhadap para ahlul Qur’an,
“Tidak boleh seseorang berkeinginan kecuali dalam dua perkara, menginginkan seseorang yang diajarkan oleh Allah kepadanya Al Qur’an kemudian ia membacanya sepanjang malam dan siang, sehingga tetangganya mendengar bacaannya, kemudian ia berkata, ‘Andaikan aku diberi sebagaimana si fulan diberi, sehingga aku dapat berbuat sebagaimana si fulan berbuat'” (HR. Bukhari)

Bahkan nikmat mampu menghafal Al Qur’an sama dengan nikmat kenabian, bedanya ia tidak mendapatkan wahyu,
“Barangsiapa yang membaca (hafal) Al Qur’an, maka sungguh dirinya telah menaiki derajat kenabian, hanya saja tidak diwahyukan kepadanya.” (HR. Hakim)

2. Al Qur’an menjanjikan kebaikan, berkah, dan kenikmatan bagi penghafalnya

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya” (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Seorang hafizh Al Qur’an adalah orang yang mendapatkan Tasyrif nabawi (penghargaan khusus dari Nabi SAW)

Di antara penghargaan yang pernah diberikan Nabi SAW kepada para sahabat penghafal Al Qur’an adalah perhatian yang khusus kepada para syuhada Uhud yang hafizh Al Qur’an. Rasul mendahulukan pemakamannya.

“Adalah nabi mengumpulkan di antara dua orang syuhada Uhud kemudian beliau bersabda, “Manakah di antara keduanya yang lebih banyak hafal Al Qur’an, ketika ditunjuk kepada salah satunya, maka beliau mendahulukan pemakamannya di liang lahat.” (HR. Bukhari)

Pada kesempatan lain, Nabi SAW memberikan amanat pada para hafizh dengan mengangkatnya sebagai pemimpin delegasi.

Dari Abu Hurairah ia berkata, “Telah mengutus Rasulullah SAW sebuah delegasi yang banyak jumlahnya, kemudian Rasul mengetes hafalan mereka, kemudian satu per satu disuruh membaca apa yang sudah dihafal, maka sampailah pada Shahabi yang paling muda usianya, beliau bertanya, “Surat apa yang kau hafal? Ia menjawab,”Aku hafal surat ini.. surat ini.. dan surat Al Baqarah.” Benarkah kamu hafal surat Al Baqarah?” Tanya Nabi lagi. Shahabi menjawab, “Benar.” Nabi bersabda, “Berangkatlah kamu dan kamulah pemimpin delegasi.” (HR. At-Turmudzi dan An-Nasa’i)

Kepada hafizh Al Qur’an, Rasul SAW menetapkan berhak menjadi imam shalat berjama’ah. Rasulullah SAW bersabda,
“Yang menjadi imam suatu kaum adalah yang paling banyak hafalannya.” (HR. Muslim)

4. Hifzhul Qur’an merupakan ciri orang yang diberi ilmu

“Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.” (QS Al-Ankabuut 29:49)

5. Hafizh Qur’an adalah keluarga Allah yang berada di atas bumi

“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para ahli Al Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan pilihan-pilihan-Nya.” (HR. Ahmad)

6. Menghormati seorang hafizh Al Qur’an berarti mengagungkan Allah

“Sesungguhnya termasuk mengagungkan Allah menghormati orang tua yang muslim, penghafal Al Qur’an yang tidak melampaui batas (di dalam mengamalkan dan memahaminya) dan tidak menjauhinya (enggan membaca dan mengamalkannya) dan Penguasa yang adil.” (HR. Abu Daud)

Fadhail Akhirat

1. Al Qur’an akan menjadi penolong (syafa’at) bagi penghafal

Dari Abi Umamah ra. ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Bacalah olehmu Al Qur’an, sesungguhnya ia akan menjadi pemberi syafa’at pada hari kiamat bagi para pembacanya (penghafalnya).”” (HR. Muslim)

2. Hifzhul Qur’an akan meninggikan derajat manusia di surga

Dari Abdillah bin Amr bin ‘Ash dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Akan dikatakan kepada shahib Al Qur’an, “Bacalah dan naiklah serta tartilkan sebagaimana engkau dulu mentartilkan Al Qur’an di dunia, sesungguhnya kedudukanmu di akhir ayat yang kau baca.” (HR. Abu Daud dan Turmudzi)

Para ulama menjelaskan arti shahib Al Qur’an adalah orang yang hafal semuanya atau sebagiannya, selalu membaca dan mentadabur serta mengamalkan isinya dan berakhlak sesuai dengan tuntunannya.

3. Para penghafal Al Qur’an bersama para malaikat yang mulia dan taat

“Dan perumpamaan orang yang membaca Al Qur’an sedangkan ia hafal ayat-ayatnya bersama para malaikat yang mulia dan taat.” (Muttafaqun ?alaih)

4. Bagi para penghafal kehormatan berupa tajul karamah (mahkota kemuliaan)

Mereka akan dipanggil, “Di mana orang-orang yang tidak terlena oleh menggembala kambing dari membaca kitabku?” Maka berdirilah mereka dan dipakaikan kepada salah seorang mereka mahkota kemuliaan, diberikan kepadanya kesuksesan dengan tangan kanan dan kekekalan dengan tangan kirinya. (HR. At-Tabrani)

5. Kedua orang tua penghafal Al Qur’an mendapat kemuliaan

Siapa yang membaca Al Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaiakan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab,”Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an.” (HR. Al-Hakim)

6. Penghafal Al Qur’an adalah orang yang paling banyak mendapatkan pahala dari Al Qur’an

Untuk sampai tingkat hafal terus menerus tanpa ada yang lupa, seseorang memerlukan pengulangan yang banyak, baik ketika sedang atau selesai menghafal. Dan begitulah sepanjang hayatnya sampai bertemu dengan Allah. Sedangkan pahala yang dijanjikan Allah adalah dari setiap hurufnya.

“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Qur’an maka baginya satu hasanah, dan hasanah itu akan dilipatgandakan sepuluh kali. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, namun Alif itu satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf.” (HR. At-Turmudzi)

7. Penghafal Al Qur’an adalah orang yang akan mendapatkan untung dalam perdagangannya dan tidak akan merugi

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS Faathir 35:29-30)

Adapun fadilah-fadilah lain seperti penghafal Al Qur’an tidak akan pikun, akalnya selalu sehat, akan dapat memberi syafa’at kepada sepuluh orang dari keluarganya, serta orang yang paling kaya, do’anya selalu dikabulkan dan pembawa panji-panji Islam, semuanya tersebut dalam hadits yang dhaif.

“Ya Allah, jadikan kami, anak-anak kami, dan keluarga kami sebagai penghafal Al Qur’an, jadikan kami orang-orang yang mampu mengambil manfaat dari Al Qur’an dan kelezatan mendengar ucapan-Nya, tunduk kepada perintah-perintah dan larangan-larangan yang ada di dalamnya, dan jadikan kami orang-orang yang beruntung ketika selesai khatam Al Qur’an. Allahumma amin” (dian)

Maraji’:
Abdul Aziz Abdur Rauf, Lc. Kiat Sukses Menjadi Hafizh Qur’an Da’iyah.
Dr. Yusuf Qardhawi. Berinteraksi dengan Al Qur?an.
(Fadhilah dari pk-sejahtera.org)

SIAPAPUN PEMBACANYA… MOHON DO’AKAN AKU…
Inginnya diri.. menjadi hafidz.. -_-

Maret 24, 2010 Posted by | 1 | 1 Komentar

Ruang Pertemanan


Sebuah pertanyaan, mampir di inboxku. “Benarkah, tidak ada pertemanan abadi, yang ada kepentingan abadi ?” Pertanyaan yang sempat membuat bingung dan aneh. Karena diajukan oleh seseorang yang meremove-ku dari friendlist-nya. Yang memang menandakan, dia tidak meyakini dan mengharapkan sebuah keabadian dari sebuah pertemanan. Seorang sahabat juara nomor satu.  Dia menyertakan kata-kata seorang mahasiswa angkatan lama di Indonesia, Soe Hok Gie. Tentang “Buat apa kita berbicara tentang pahala dan syariat jika tidak ada yang namanya manfAat DAN guna.” Juga sebuah kutipan kalimat Marx “Hubungan itu akan terus ada selama masih ada kepentingan. Ketika kepentingan telah gugur, maka hubungan itu pun akan luntur.”

Kepentingan itu, selalu beriringan dengan sebuah hubungan. apapun jalinan yg akan dibuat. semuanya beserta dengan kepentingan. seperti hal-nya ketika seseorang akan menikah. maka dianjurkan memilih berdasarkan beberapa hal yg menjadi kepentingan bagi seorang laki-laki pula bagi seorang perempuan. Rupanya, kekayaan, keturunan orang baik-baik, atau agamanya.. maka bersiaplah untuk setiap resikonya. karena sebuah kepentingn yg tidak abadi, akan menghasilkan jalinan yang tidak abadi pula. kepentingan abadi, akan membuahkan keabadian pula pd sebuah jalinan.

Dalam pertemanan pun begitu. Jika kita berteman dengan kepentingan terhadap hartanya. Maka ketika teman kehilangan harta, maka pertemanan pun gugur. Harta adalah hal semu. Jika kita berteman karena agamanya, maka ia abadi. (agama/iman, adalah hal abadi) Namun, tidak semua manusia bisa mempertahankan agamanya. Itulah saatnya pertemanan gugur juga. (mirip dengan apa yg marx katakan) walaupun diriku hanya pernah mendengar namanya.

Hilang kepentingan-putus hubungan…

Lihatlah pertemanan anak-anak. Satu detik berteman, kemudian bisa bermusuhan. Agak aneh. Karena sifatnya pun seringkali hanya disebabkan oleh perbedaan yang sepele. Dan toh, permusuhan itu pun hanya sekejap. Dari kasih yang dalam, bisa berubah seketika menjadi permusuhan yang tajam. Kepentingan pertemanan dalam dunia anak adalah saling “sharing kebahagiaan”. Jika seseorang memiliki sesuatu yang menarik, maka ia berhak ditemani. Hingga bosan dengan permainannya, dan bisa menemukan permainan lain yang mengikat keduanya. Ada saja yang tidak mau membagi kebahagiaan dengan mainannya. Namun, itu lebih karena sifat egosentris yg belum terarahkan. Tapi, sharing kebahagiaan ini adalah nilai pertemanan yang abadi. Karena ia hanya lepas dari sifat alami seorang anak. Bukan karena ia berpikiran picik.

Satu hal lagi yang menjadikan pertemanan menjadi abadi bagi setiap kita. Adalah kemauan dan kemampuan kita untuk saling repot merepotkan. Lewat kerepotan kitalah, maka teman makin dekat. Dan kita bisa tanpa segan lagi merepotkannya. Hehehe.

Menyimak yang satu ini…

AL FURQAN : 28. Kecelakaan besarlah bagiKu; kiranya Aku (dulu) tidak menjadikan sifulan[1065] itu teman akrab(ku). 29. Sesungguhnya dia Telah menyesatkan Aku dari Al Quran ketika Al Quran itu Telah datang kepadaku. dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.

Luar biasa… pada ayat diatas diceritakan tentang pertemanan yang sampai-sampai disesalkan hingga di neraka, sungguh suatu pertemanan yang sangat buruk! Lalu dijelaskan hakikat dari pertemanan yang buruk tersebut bahwa pertemanan tersebut adalah pertemanan yang menjauhkan seseorang dari Al Qur’an. Tentu ayat ini tidak difahami dengan menutup diri dari pertemanan, namun hendaknya bentuk-bentuk pertemanan kita, forum atau kebersamaan kita jangan sampai menjauhkan kita dari Al Qur’an bahkan sebaliknya menjadi sebab dekatnya kita dengan Al Qur’an.

**Hanya secuil pikir…

Maret 21, 2010 Posted by | 1 | Tinggalkan komentar